All Posts By

iman

KUNTILANAK

Habis nonton filmnya Rizal Mantovani, “ Kuntilanak “, seru juga dan sangat entertaint banget. Kok menghibur ? lihat yang datang, banyak anak anak kecil bersama orang tuanya dan tentu saja remaja ABG. Berarti tidak ada seram seramnya, dan memang saya tidak merasa ketakutan. Saya lebih takut mungkin nonton yang versinya Suzanna jaman dahulu, seperti ‘ Beranak Dalam Kubur “, “ Sundel Bolong “, atau jamannya Farida Pasha dan Muni Cader. Lebih terasa dekatnya dengan alam budaya Indonesia. Tentu saja saya tidak mengomentari atau memberi analisa tentang film itu,pertama sebagai teman dan sesama sutradara, tidak elok kalau saling mengkritik. Biarlah para kritikus film yang memberi kritik kritik terhadap karya karya sutradara. Kedua memang pendekatan yang dipilih Rizal benar benar pas dengan target audiensnya, generasi budaya hip hop MTV anak jaman sekarang. Dan itu tidak sia sia , hampir seluruh kursi bioskop dipenuhi penonton,jadi secara komersial film itu laku. Ia membuat pakem berbeda dengan stereotip film film horror Indonesia yang mana kuntilanak selalu digambarkan dengan wajah pucat penuh bedak perempuan berambut hitam panjang, dengan baju putih long dress serta punggung bolong yang berisi ulat ulat belatung dan darah. Gambaran kuntilanak di film ini dibuat seperti film Hollywood , ala ‘ Fear dot com “, setannya seperti orang tua keriput,berkuku panjang, rambut putih, berkaki kuda dan tidak jelas memakai baju atau tidak karena terus bergerak cepat dengan efek efek speed ramping maupun efek stop motion.

Selain itu namanya Pak Haji atau ulama yang biasanya muncul di adegan penutup sebagai alat pamungkas dengan ayat ayat sucinya sudah tidak ditampilkan ( hare gene Pak haji masih mengusir setan ? – demikian logika berpikir fans fansnya Julia Estelle ). Jadi sampai cerita berakhir, si Kuntilanaknya tetap hidup ‘ happily ever after ‘. Satu hal pasti si Rizal sudah melakukan survey terlebih dahulu mengenai sosok kuntilanak yang akan digambarkan. Basi kalau masih menggambarkan kuntilanak tradisional berkostum long dress putih yang jalannya melayang . Tapi itu khan versi filmnya Rizal, sementara saya punya versi sendiri.

Begini ceritanya, Pasti semua tahu rumah tua bekas peninggalan administratur Belanda di tengah tengah Kebon Raya Cibodas. Suatu saat kami syuting iklan minuman ‘ Caprison ‘ di area cibodas, sehingga demi efisiensi kami dan sebagian crew tinggal menginap di rumah itu. Benar benar rumah kosong yang jendelanyapun tidak ada gordennya,jadi bisa melihat ke halaman luar secara langsung. Malam itu sehabis usai syuting, si loader camera melaporkan seperti ada yang memanggil manggil namanya ketika ia mandi di kamar mandi belakang. Tak lama kemudian kami yang berkumpul di lantai dua, sambil bercengkerama tiba tiba mendengar suara seperti kepakan sayap . ‘ pak pak pak ‘ di kejauhan. Lalu berganti seperti ci cit anak ayam. Tentu saja kami berpikir paling paling burung hantu, karena banyak pohon pohon tinggi mengelilingi rumah itu. Tiba tiba angin seperti berhenti, sekonyong konyong sekilas kami melihat di luar jendela , seorang perempuan bermuka pucat, berambut panjang dan berjubah putih berjalan melewati jendela menuju ke arah sisi rumah. Tadinya kami berpikir,pasti ibu pembantu di rumah itu, tetapi setelah itu mendadak kami sadar, bukankah kita semua berada di lantai dua. Lalu bagaimana si ibu itu bisa berjalan ? melayangkah …? Tentu saja tanpa pikir panjang, kami langsung kabur berbondong bondong ke lantai dasar. Yang saya ingat malam itu terasa sangat panjang untuk menunggu pagi. Astagafirullah .

BETAPA TIDAK MENARIKNYA BANGSA INI ( 2 )

Ada berita menarik, ketika Andy Xie, Kepala Ekonomi Morgan Stanley Asia dipaksa lengser dari jabatannya, ketika ia menulis kritikan dalam emailnya sehubungan dengan sidang tahunan IMF dan Bank Dunia yang diselenggarakan di Singapore baru baru ini. Ia mempertanyakan sikap para delegasi yang memuji muji Singapura sebagai contoh sukses globalisasi. Padahal kata Andy, “ keberhasilan Singapura sebagian besar karena menjadi tempat pencucian uang oleh pengusaha dan pejabat Indonesia yang korup…” Ini menguak tabir bahwa terdapat 55 ribu orang kaya di Singapura, yang ternyata sepertiganya adalah orang Indonesia !. Total kekayaan WNI disana sekitar 800 trilyun yang lebih besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) yang cuma 650 trilyun. Berita lain, mengenai proses pengadilan di Amerika, yang telah sampai di Mahkamah Agung, bahwa Indonesia tetap harus membayar US $ 261 juta terhadap Karaha Bodas, dengan mengabaikan bukti bukti bahwa proses pembangunan tenaga listrik di Karaha Bodas yang sarat dengan KKN dan ketidakadilan. Untuk itu mereka telah menyandera dengan memblokir dana hasil penjualan minyak Indonesia yang ada di Bank bank Amerika. Terakhir berita, Presiden Eva Morales dari Bolivia berhasil menasionalisasi perusahaan perusahaan minyak asing di negaranya, tanpa adanya guncangan guncangan, sehingga bisa menambah pendapatan negaranya dari hasil minyak sebanyak 85 persen.

Dari berita pertama, jelas kenapa sampai hari ini Singapura tidak mau menandatangani perjanjian eksttradisi dengan Indonesia, karena bakalan kehilangan potensi capital yang luuar biasa besarnya. Sementara para warganya melakukan demo dengan membawa spanduk di depan KBRI, bertulisan “ SIGN NOW !!. Paksaan agar Indonesia menandatangani traktat perjanjian mengenai kebakaran hutan dan kabut asap, yang setiap tahun mengganggu kualitas hidup mereka. Kemudian dari berita kedua, tampak Indonesia tak mempunyai pilihan lain, kecuali tunduk pada tekanan Amerika. Padahal dimana mana asas hukum yang berlaku adalah di tempat dimana perkara itu terjadi, dan jelas pengadilan Indonesia telah memenangkan gugatan Pemerintah Indonesia. Tapi semua itu tak berarti ,toh mereka telah menyandera uang rakyat Indonesia yang disimpan di Bank Bank Amerika.

Dari Bolivia, presiden yang asli suku Indian itu terbukti bisa melakukan sesuatu yang berkepentingan dengan pilihan perut rakyatnya tanpa harus takut pada tekanan asing. Ia bersama Hugo Chaves dari Venezuela, Ahmadijenad dari Iran dan Mahathir ( pada masanya ) dari Malaysia menjadi icon icon perjuangan negara negara yang menolak dominasi barat atas hajat hidup bangsanya. Mungkinkah Indonesia mengatakan TIDAK , mungkinkah Indonesia menyandera atau menahan perusahaan Singapore yang ada di sini ( banyak yang menguasai bidang telekomunikasi atau perbankan ), atau menasionalisasi Freeport atau Exxon ?. Pemikiran pemikiran liar ini terus berputar putar di benak saya, membayangkan sebuah Indonesia dengan huruf I besar, bukan huruf I kecil yang menjadi bangsa paria. Dan bangsa ini pernah tercatat mempunyai nama besar terutama dikalangan apa yang disebut Bung Karno, The New Emerging Forces, bangsa bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin. Setidaknya, tahun 1990 di London, dengan uangnya pas pasan buat jatah belajar, saya sangat berterima kasih karena mendapat discount 50 % ketika membeli jaket kulit di sebuah toko kecil di sudut kota. Seorang penjualnya, lelaki tua dari Pakistan, dengan bangganya menepuk nepuk pundak saya,..” ahhh, from Indonesia,..brother Soekarno ! “

BETAPA TIDAK MENARIKNYA BANGSA INI

Een natie left niet van brood allen ( suatu bangsa tidak hanya hidup dari roti ) – Soekarno

Hari hari lebaran membuat Jakarta dipenuhi oleh pengemis yang tumpah ruah di pinggir jalan raya. Keluarga ‘gerobak ‘ demikian saya melihatnya, karena sekeluarga, dari bayi sampai ibunya tidur di gerobak pemulung yang ditarik oleh seorang laki laki ( entah suaminya ) ke penjuru kota mengharap belas kasihan dari manusia manusia metropolitan yang mendadak menjadi dermawan. Tergambar kepalsuan dari kelap kelip lampu kota metropolitan, wajah wajah muram dan kesepian dari mereka yang menengadahkan tangan pada mobil mobil yang beringsut lambat dalam kemacetan. Sementara koran ditangan saya memberitakan orang orang di Kuala Lumpur, Singapore berdemo di depan kedutaan besar kita, memaki maki negeri kita karena kabut asap kebakaran hutan telah mengganggu kualitas hidup mereka yang ‘ gemah ripah loh jinawi ‘. Tiba tiba saya melihat bangsa yang terpuruk dan menuju ke jurang kehancuran. Tak ada lagi yang harus dibanggakan, kemakmuran juga bukan national pride. Sejak kecil kita dicekoki dengan pemahaman bahwa bangsa ini kaya raya dengan sumber alam yang melimpah, bahkan tongkat bisa tumbuh di tanah air bumi pertiwi ini. Lagu Koes Plus Kolam Susu yang menggambarkan betapa bahagianya tinggal di surga Indonesia, mungkin sudah harus berganti dengan kolam lumpur di tanah bencana Porong Sidoarjo.

Bung Karno pernah menulis dalam di tahun 1920an,bahwa begitu miskinnya bangsa Indonesia dan hanya sanggup hidup dengan uang sebenggol sehari, dan kini hampir seratus tahun kemudian, kiasan itu masih relevan dengan situasi saat ini. Bagi mereka 20 persen yang hidup makmur di kota tak pernah membayangkan betapa miskinnya 80 persen sisa lainnya yang mengais ngais dan mencoba bertahan di pelosok pelosok negeri ini. Ketika Orde lama tumbang, ia meninggalkan hutang luar negeri yang hanya 3 milyar dollar ( 2 milyar dollar untuk membuat angkatan bersenjata Indonesia disegani di Asia dan sisanya untuk pembangunan infrastruktur kebanggaan nasional seperti stadion utama senayan, waduk jatiluhur, Tugu Monas, Hotel Indonesia dll ). Sementara sampai sekarang hutang luar negeri sudah mencapai 700 milyar dollar , tanpa ada yang tahu buat apa uang sebanyak itu kecuali memuaskan segelintir manusia manusia serakah, yang mustahil akan mampu terbayar sampai beberapa generasi anak cucu kita.

Jaman Bung Karno mungkin setidaknya lebih baik, walau miskin tetapi kita mempunyai kebanggaan nasional yang kuat. Justru kita yang berani memaki maki Amerika dengan slogan ‘ Go to Hell with your aid ‘, atau ‘ gayang Malaysia ‘ yang membuat Tengku Abdul Rahman dan Lee Kuan Yew ketakutan setengah mati. Sementara sekarang SBY buru buru menelpon Singapura menunduk meminta maaf, begitu kedutaan besarnya di demo. Ini bukan masalah siapa yang salah, ini masalah harga diri bangsa. Ahmadijenad dari Iran tak pernah bergeser dari kebijakan nuklirnya, walau Amerika dan negara negara Eropa menudingnya sebagai salah satu poros setan. Sudah miskin, tidak punya harga diri. Sungguh betapa tidak menariknya bangsa Indonesia ini.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1427 H

Saya ingin menyampaikan perasaan saya terdalam,bahwa banyak kesalahan, emosi dan kezoliman yang telah saya lakukan. Sesungguhnya saya ingin mengetuk pintu maaf di hati teman teman, saya ingin merendahkan diri atas perbuatan yang telah saya lakukan. Ini bukan masalah ritual tahunan, tapi benar saya ingin menuntaskan kewajiban moral saya dalam fitrahnya sebagai manusia, sebagaimana kita sudah menuntaskan kewajiban kita di bulan Ramadhan, setelah sebulan penuh perpuasa menahan godaan untuk janji yang Allah sampaikan. Ya, janji atas pahala dan kurniaNya. Ini bukan omong kosong, dan saya percaya janji itu.
Berbeda dengan manusia, bagaimanapun juga janji janji Allah akan selalu ditepati, “ Wanuriidu an-namunna ‘alal-ladzlinas-tudl’fuu fil-ardli wanaj’aluhum a-immatan wanaj’aluhumul-waaritsuun “ Allah telah berjanji dan ia Maha Menepati Janji,maka mengapa kita menunda nunda untuk segera mengerjakan kehidupan yang bisa mendekatkan kita kepada kebenaran janji itu.
Mohon Maaf lahir bathin..

KUTANG

KUTANG
( Kupas Bintang )

Melihat artis artis dan selebritis Indonesia, kadang kala kita juga melihat potret manusia Indonesia secara utuh. Mereka juga merefleksikan apa yang sehari hari kita rasakan, dari kesombongan sampai kerendahan hati. Ini bukan gossip, tapi sekadar pengamatan dari saya selama bekerja sama dengan mereka.

AB THREE
Bersikap profesional. Tidak pernah mengeluh seberapa sukar shoot dan adegan yang saya mau, paling paling mereka membuang kebosanan dengan saling bercanda. Sangat menghargai pekerja film dan konsekuensi pekerjaannya.

PARAMITHA RUSADY
Memiliki problem dengan waktu, tidak bisa datang terlalu pagi. Kalau berdandan lama sekali bisa berjam jam, dan harus terlihat cantik apapun adegannya ( menangispun harus terlihat cantik ). Saya pikir agak narcis,..pernah saya perhatikan dia sedang memperbaiki riasannya didepan cermin sambil berbicara sendiri ( pada cermin )..” Cantik..Anggun…Cantik..”

DEDDY MIZMAR
Sangat professional, tak pernah lupa sholat, tepat waktu dan aktor ( serta manusia ) yang luar biasa. Jika lawan dialognya sedikit grogy, ia bisa membantu menimbulkan rasa percaya diri. Ini sangat membantu pekerjaan sutradara di lapangan. Rendah hati, mau menghargai serta respect dengan si sutradara ,walau sutradara ini misalnya adalah sutradara pemula. Sudah lama saya tidak pernah kerja bareng tetapi ia tidak pernah lupa mengirim sms idul fitri.

NUNUNG & KADIR
Namanya juga aktor srimulat, di panggung dan area syuting baginya sama saja. Ekspresi dan permainan dialog ping pongnya dasyat. Shooting tidak perlu lama lama. Cuma kadang kadang ( dahulu ) sewaktu jamannya artis artis srimulat menenggak pil Ekstasi ,ia suka datang terlambat. “ Habis dugem langsung dari kota nih “ katanya dengan wajah dan tangan berkeringat.

TAMARA BLEZINSKY
Yang saya ingat bertahun tahun yang lalu, ia masih mau datang ke studio beberapa hari sebelum syuting , memenuhi permintaan si sutradara untuk melakukan check kamera, angle dan pose. Artinya ia professional dan menghayati seni peran. Umumnya artis artis selalu menolak dengan alasan sibuk dan sebagainya.

ONENG a.k.a Rieke Dyah Pitaloka
Nggak mau rugi , semua job kalau bisa diambil. Dan akhirnya tidak bisa memberi prioritas. Paling repot kalau mengatur schedule dengannnya. Syuting harus diatas jam sekian sampai jam sekian, karena dia harus ngemce di sana, lalu balik lagi ke lokasi hanya memberi waktu 1 jam saja. Karena harus pergi ke mana. Bagi saya ini tidak fair, jika dia sudah menandatangani kontrak syuting sebuah iklan yang bayarannya 50 juta, tentu ia tidak bisa menomor duakan dengan juga mengambil job job presenter atau MC di sebuah stasiun TV yang bayarannya hanya 1 – 2 juta

MAUDY KOESNADI
Rendah hati dan orang yang enak diajak kerja sama. Sangat professional juga dan tidak pernah mengeluh walau dia sudah harus berakting selama lebih dari 16 jam kerja. Tidak terlalu merepotkan dengan urusan perdandanan. Ia juga tidak canggung berbaur dengan crew film saya.

AGNES MONICA
Dia memang hobbynya performing, jadi kalau sudah berakting ia akan tampil habis habisan. Namun namanya juga anak baru gede, lagi puber pubernya, apa yang dia mau dia lakukan tanpa melihat konsekuensi kontrak dengan sebuah brand. Pernah dia di kontrak sebuah produk shampoo, yang mana dalam klausulnya memang tidak boleh memotong rambutnya. Namanya Agnes ya tidak peduli, dia potong rambutnya menjadi pendek berikut tambahan highlightnya. Klien dan agencynya hanya bisa marah marah dan saya yang akhirnya mengakali dengan rambut palsu.

RATU
Sombong dan tidak pernah menghargai fans fansnya. Saya pernah melihat tingkah laku Maia ketika seorang penggemarnya berdiri disebelahnya, sementara temannya memotretnya dengan kamera handphone. Apa salahnya ia tersenyum sebentar, bahkan bisa merangkul gadis ABG tersebut. Namun yang ia lakukan hanya menutup muka dan menundukan wajahnya, seolah olah tidak rela wajah cantik polesan suntik Botox Dr. Eva menjadi screen saver seorang fans ABGnya. Banyak brand manager yang sebal melihat tingkah laku mereka, terutama dalam menghargai arti kerja sama sebuah brand. Terakhir hari Rabu ( tgl 18 Oktober ) kemarin, dalam sebuah acara sebuah produk di PRJ, mereka datang sendiri sendiri, dan selama acara berlangsung selalu tidak mau duduk atau berdiri berdua. “ Lagi musuhan “ kata brand manager itu. Lalu ia memberi ramalan, ‘ lihat aja sebentar lagi juga bubar “

Sepertinya saya harus berhenti disini, karena bisa nggak ada habis habisnya nanti, Namun semua itu memang kembali ke karakter masing masing pribadi. Ada yang percaya bahwa kesuksesan adalah amanah, ada juga yang lupa bahwa mereka pernah menjadi manusia biasa biasa saja yang bernyanyi di bar bar sempit dan penuh asap rokok. Sebagian dari mereka ada yang percaya hidup mereka bisa seperti roda yang berputar, hari ini di atas dan esok bisa dibawah. Namun ada juga yang lupa bahwa beberapa tahun yang lalu mereka memasang muka ramah, dan rela antri menunggu berjam jam untuk sebuah kesempatan casting.

SAMPAI DIMANA BATAS KOMPROMI SUTRADARA IKLAN

Saya pernah sekali waktu lepas dari kesibukan film iklan, dan mengambil pekerjaan Film Televisi, semacam sinetron beberapa tahun yang lalu. Karena ada sponsor dari sebuah produk, maka mereka meminta salah seorang creative dari biro iklan untuk ikut datang di hari syuting, walau si pekerja creative itu sendiri juga bingung, apa yang akan dikerjakan selama proses syuting. Bagaimana tidak, scenario yang membuat si Joko anwar yang saat itu belum jadi sutradara film kondang. Sampai akhirnya suatu saat ia berkata, “ Mas bisa nggak kalau anglenya dari sisi sini “. Saya bisa membayangkan kalau seorang Garin Nugroho atau Rudi Soejarwo diberi pengarahan di tengah tengah syutingnya. Bencana ! Hanya karena saya terbiasa bekerja di film iklan, maka saya hanya tersenyum padanya dan berbicara lebih lanjut untuk berusaha menangkap esensi apa yang dia pikirkan. Memang dalam film iklan sosok sutradara bukanlah menjadi peran utama sebagaimana yang sutradara film layar lebar atau musik video sekalipun. Disini seorang sutradara iklan harus menjadi bagian dari team kreatif dari sebuah campaign produk yang dikerjakan. Karena konsep berasal dari creative biro iklan, maka sah sah saja mereka berkepentingan untuk melihat konsepnya terdelivery dengan baik, sesuai strategi komunikasi yang sudah dirancang bersama klien mereka.

Ini susahnya bagi sutradara yang terbiasa di layar lebar, atau sinetron. Bisakah mereka menyingkirkan ego mereka dan membuang jauh jauh idealisme sebagai “ sutradara “. Maruli Ara sendiri sebagai sutradara sinetron jaminan mutu yang selalu tinggi ratingnya, mengatakan pada saya kalau ia tidak mau untuk berkompromi terhadap hal hal seperti ini. Namun banyak teman dari biro iklan sendiri yang pada akhirnya kebablasan dalam menempatkan posisinya dalam sebuah produksi syuting, seolah olah maha tahu mengenai prinsip prinsip dasar sinematografi. Scott Whybin dari Whybin TBWA & partner Melbourne mempunyai kiat sendiri mengenai wewenang sutradara, “ I’ve got this theory about directors. The more I put the trust in them, the harder they work for me. I don’t believe the creative team who sit behind the directors and look through the lens. You don’t need the cast of thousands at the shoot. Its waste of time, except maybe in the case of dialogue spot where there intonation the writer need to hear. The critical part of hiring director, building up the trust, and pre producing so he’s got the clear mind “.

Lebih lanjut Neil French, dedengkot creative Ogilvy & Mather melanjutkan, “ .. to be fair most directors have an exact feeling of what they want to shoot before they get there and a good director will have a shooting board including all the cutaways. They’re prepare for it. But what they’’re not prepared for is some spotty youth comimg up to them, halfway through the shoot, and saying, oh can we try it this way ? or somebody from the agency or client saying , oh can we covered it from this angle, just in case ? And I’ll say …No you cant try it like that. Im sorry little spotty youth, but the angle we are going to use is this one. Why would I want to do thirty five takes wrong when I could do thirty takes of which one is right ? option should be decided in pre production. Even the producers I admire have said to me on the shoot, Neil…you’d better shoot a cutways. And I know why they’re saying it, because if something goes wrong you’ve got a safety net. BUT I CAN WORK WITHOUT A SAFETY NET.

Akhirnya saya berpikir, kompromi memang mutlak diperlukan,karena pekerjaan film iklan adalah pekerjaan teamwork, bukan semata mata sutradara sendiri. Tetapi mestinya masing masing pihak mempunyai batasan batasan. Sutradara juga jangan terlalu merubah konsep yang sudah dipersiapkan sekian lama oleh biro iklan, dan mestinya menambah suatu nilai pada iklan ini dan pihak kreatif juga jangan terlalu mendikte atau memaksa suatu ide yang mungkin menurut pertimbangan sutradara agak sulit secara teknis, budgeting maupun logistik. Yang paling penting jangan takut membuat suatu keputusan sebuah shoot atau adegan, sepanjang itu secara visual memiliki nilai art dan yang paling penting adalah relevan dengan konsep strategi komunikasi klien. Memang sebuah komposisi gambar film sangat subjektif dari mana kita melihatnya. Seni tak mutlak bulat bulat kok.

( CATATAN PERJALANAN ) ANAK LAUT ALOR

Kiko kembali menjalani hari harinya sepulang sekolah dengan melihat perangkap bubu miliknya di kedalaman 10 meter. Kulitnya bertambah legam terbakar matahari, tak menghalangi bersama adiknya mengayuh sampan kecil terombang ambing di laut lepas. Rupanya hari ini ikan enggan masuk ke dalam perangkap bubu bambu miliknya. “ Ah memang belum waktunya, mungkin esok atau lusa.”
Kiko adalah anak alam yang percaya bahwa laut Alor akan memberikan nafkah padanya. Alam yang memberi secara adil dan menetapkan hari baik baginya. Kiko menarik nafas dalam dalam di permukaan sebelum menyelam kembali untuk melihat perangkap bubu lainnya, yang tak jauh dari tempat bubu pertamanya. Masker kayu dengan kaca mata plastik yang sudah berlumut dipinggirnya, menjadi saksi kehidupan anak anak alam pulau Alor. Mereka biasa menyelam sampai kedalaman lima belas meter, sampai sekitar satu menit. Laut adalah segalanya, yang menjaga mereka dan memberikan nafas kehidupan bagi mereka.

Senyum mereka mengembang menatap kami manusia manusia modern, ketika mereka mengayuh sampan kecilnya kembali ke pantai. Ia harus membantu ayahnya menambal sampan kecil yang bocor. Ia juga harus menggulung benang benang untuk tenunan kain ibunya yang akan dijual ke kota. Dan hari semakin terik, dari kapal phinisi ” Putri Papua “, saya melihat sebuah persahabatan antara alam dan manusia. Sampai kapankah ini masih bisa bertahan ? untuk saling menjaga tanpa merusak, untuk menerima apa yang alam bisa berikan.

BAGAIMANA MENILAI SUTRADARA ITU BAIK ATAU BURUK

Seorang pemerhati film pernah berkata, kenapa film film iklan yang dibuat Riri Reza pada beberapa tahun yang lalu, kok biasa biasa saja ( mungkin dia mau mengatakan buruk tetapi merasa tidak pas ungkapannya ). Sementara karya layar lebarnya sangat luar biasa dan menjadi salah satu pencapaian film film terbaik dalam sejarah perfilman nasional. Di kisah lain,ketika menghadiri Pinasthika Award di Jogja, seorang Creative Director mengeluarkan uneg unegnya kepada saya disela sela makan malam menyambut para tamu, bahwa dia tidak akan memakai si sutradara anu karena dia tidak menunjukan perform yang diharapkan sewaktu membuat sebuah iklannya. “ kayaknya si anu dan PH anu nggak bakalan dipakai lagi di tempat gue..”. Padahal setahu saya si sutradara anu tersebut yang berkebangsaan asing, mempunyai karya yang bagus bagus. Bahkan salah satunya menjadi salah satu kategori terbaik dalam Festival Film Iklan Fines beberapa bulan yang lalu. Lalu ia terus bercerita bahwa lighting mood yang dihasilkan oleh sutradara itu tidak sesuai dengan harapan si creative. Karena ini iklannya bercerita sebuah konser, si sutradara hanya memakai available light dari tata cahaya panggung, disamping jumlah talent penontonnya yang terlalu sedikit. Saya hanya berpikir , Mungkin saja si sutradara sudah meminta equipment tertentu atau tambahan crowd, hanya dari pihak PH tidak mengabulkan. Jadi siapa salah ? tetap saja si sutradara, karena baik atau buruk, predikat itu akan lari ke sutradara pada akhirnya.

Ini agak kompleks permasalahannya dan kita melihat dari sisi mana ? tentu masing masing pihak akan mempunyai pembenaran yang akan sangat subyektif pada akhirnya. Mungkin bisa juga sejak awal sudah tidak ada hubungan chemistry antara sutradara dan kreatif, bisa juga sejak awal konsepnya sudah ‘basi’ sehingga mau diulik bagaimanapun juga tetap saja menjadi sebuah iklan yang biasa, atau lebih jauh lagi si sutradara merasa menjadi sasaran tembak karena tidak ada support dari production house, yang ujung ujungnya ia tidak mempunyai passion untuk mengerjakan iklan itu. Jadi tidak bisa dilihat secara kasus per kasus.Ada teman yang sampai sekarang tidak bisa bekerja dengan salah satu biro iklan besar di Jakarta, karena pada awal karirnya 7 tahun yang lalu dianggap membuat kesalahan pada sebuah iklan, padahal kita tahu saat ini ia adalah salah satu sutradara papan atas untuk iklan. Bagaimana dengan saya sendiri ? mungkin ada biro iklan yang menganggap saya sutradara jelek, nggak focus, malas dsb tetapi ada juga biro iklan yang sudah ‘ kasmaran ‘ pada saya dan mempercayai memegang sebuah produk selama 3 tahun !

Saya jadi teringat seorang creative director sebuah biro iklan multinasional, waktu itu saya diminta mengerjakan sebuah iklan produk elektronik yang selama ini belum pernah membuat iklan di Indonesia, karena banyak mengambil iklan adaptasi dari luar negeri. Tentu saja saya agak sedikit stressed out karena tentu semua mata dari biro iklan dan klien akan melihat ke film iklan ini. Ternyata selama syuting, si creative director itu sama sekali tidak pernah berkomentar atas shoot shoot saya, bahkan seperti ia tidak perduli. Ketika syuting selesai, ia hanya meminta memutar seluruh rekaman take take yang sudah diambil, setelah itu ia berkata “ Okay ..bagus “. Saya menanyakan kenapa selama syuting ia sama sekali diam. Ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa ia hanya melihat secara keseluruhan, obyektif iklan ini, Lebih lanjut dia mengatakan dia tidak peduli apakah saya mau mengambil low angle, atau apapun shoot yang saya rancang, asalkan secara keseluruhan iklan ini sesuai konsep strategi komunikasi yang ia buat. Saya menyimpulkan ia berpikir secara macro, bukan melulu detail detail setiap shoot. Tapi ada juga creative yang selama syuting selalu duduk di sebelah saya, memberi petunjuk setiap shoot, sampai ikut melihat framing melalui view finder camera.

Tapi ada petunjuk menarik dari Hal Riney, dari Publicis & Hall Riney Advertising San Fransisco. Ia justru menyalahkan creative yang banyak bergantung dan menyerahkan seluruhnya kepada sutradara. “ When I go into production. I know every nuance and frame of the film I expect to end up with. Anything to director contributes in addition is a bonus. But I will never turn over the responsibility for my work to a director. He has no responsibility, in fact because when the’s shooting’s over, he’s outta there, and Im left here with the result.” Sementara sutradara papan atas, Ipang Wahid dalam pelatihan sutradara iklan muda di Gedung Film kemarin mengatakan, bahwa justru ia banyak dipercaya oleh beberapa creative director, istilahnya “ terserah deh ini mau diapain pang..” Beruntung Ipang sudah memiliki chemistry relationship yang enak dengan para creative director, dan ini tentu tidak dibangun dalam sekali dua kali membuat iklan bersamanya. Sementara saya, begitu sudah tidak ada hubungan chemistry, rasa rasanya hilang sudah passion mengerjakan iklannya. Udah nggak mood. Paling paling saya dianggap sutradara buruk, Tapi sepertinya tidak perlu kuatir. “ Life is too short to worry “.

CATATAN HARIAN INI ADALAH KEBEBASAN EKSPRESI

Lance, sahabat saya yang juga sutradara film ‘ Cinta Silver ‘ dan kini sedang menyelesaikan film berikutnya, “ Jakarta Under Cover “ yang konon akan di release tahun depan, mengatakan di depan teman teman bahwa sekarang ia harus berhati hati bersikap terhadap saya. Karena ada kemungkinan apa yang saya lihat bisa saja masuk blog pribadi saya. Suatu pernyataaan yang bisa salah tapi juga bisa benar. Sejak catatan harian ini menjelajahi dunia maya, diary ini memang menjadi rumah kaca yang dapat dilihat oleh siapapun. Saya banyak mendapat sms dan telpon baik dari mereka merasa tersinggung, marah marah karena merasa dibicarakan walau saya tidak menulis secara langsung nama nama yang bersangkutan, juga merasa tulisan saya tidak pada tempatnya. Ada juga yang memberi dukungan, mengutip kata Rendra, bahwa kesaksian harus ditegakkan.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap siapapun, bahwa apa yang tertulis di catatan harian saya merupakan kebebasan ekspresi saya mengemukakan pendapat, menyatakan apa yang saya rasakan dan saya lihat. Saya tahu nilai kebenaran dan itu sangat subyektif dari sisi mana kita melihatnya, tapi tidak seorangpun bisa memaksakan kehendak atas isi dari tulisan saya. Apalagi memaksa mencabut tulisan tersebut.

Catatan harian ini juga adalah refleksi pemikiran yang bergejolak dalam benak saya, batin saya dan lepas dari segala macam atribut yang melekat pada diri saya, walau saya menjadi ketua RT, menjadi ketua suatu organisasi, bahkan pasangan jiwa dari orang yang saya cintai. Kadang kala sebuah kejujuran bisa seperti permen lollipop, yang terasa pahit kalau lama disimpan. Kadang juga memang seperti tragedi drama tonil Shakespeare. Mudah mudahan saja tidak ada yang berpikiran seperti Julius Caesar sewaktu ditikam dan dikhianati Brutus…..“ E tu Brute…”

KENAPA SUTRADARA IKLAN DIBAYAR MAHAL

Banyak orang bilang, kenapa seorang sutradara iklan dibayar sangat mahal hanya untuk mengerjakan film dengan durasi pendek, 60 detik atau 30 detik. Bahkan ada yang hanya 5 detik ! Sebenarnya agak susah dijawab secara matematis, karena tidak ada yang standar baku mengenai nilai sebuah profesi sutradara iklan. Seorang sutradara pemula, mungkin menerina 10 – 30 juta per hari, harga ini berjenjang sampai ke sutradara level atas, yang bisa menerima 70 – 120 juta per hari. Dan kalau syutingnya total 5 hari ya kali 5 saja.

Semua itu dihitung termasuk persiapan pre production dan editing di post production, yang mungkin bisa memakan waktu berminggu minggu misalnya. Jadi dengan segala macam tetek bengek mulai dari recce, talent scouting, set construction, sampai post production, dengan mengatur schedule loncat sana loncat sini, seorang sutradara iklan paling banter hanya bisa mengambil pekerjaan 2 atau maksimal 3 job sebulan. Syukur syukur per job untuk 2 – 3 hari syuting, karena job sehari syuting dan job 3 hari syuting, sama saja proses persiapannya dan paska produksinya. Secara teknis tidak ada perbedaan dengan sutradara film layar lebar atau video klip misalnya, ia juga harus membentuk sebuah rangkaian gambar yang secara visual bernilai seni dan ada unsur hiburannya.

Tapi kenapa bisa mahal ?

Pertama, sutradara iklan harus mempunyai pemahaman tentang dunia advertising, bagaimana mengkomunikasikan konsep biro iklan agar dapat diterima oleh target market produk itu. Bagaimana membuat film yang sejalan dengan strategi komunikasi yang telah dirancang biro iklan atau klien. Karena durasinya yang pendek, maka tiap frame harus mempunyai arti yang kuat.

Kedua, sutradara iklan harus bisa menjelaskan ide idenya secara komprehensif di depan biro iklan atau klien. Jelas disini membutuhkan teknik skill of presentation.

Kemampuan bahasa asing akan menjadi nilai tambah, mengingat banyak klien orang asing atau menjadi bagian dari multinasional company.

Ketiga, film iklan adalah salah satu bagian dari mata rantai pemasaran suatu produk. Dan ini sangat penting untuk bisa mendongkrak angka penjualan, sehingga klien yang mungkin sudah menghabiskan biaya promosi puluhan atau ratusan milyar setahun tidak akan ragu ragu membayar mahal seorang sutradara untuk mencapai tujuannya.

Keempat, sutradara iklan sering disebut sutradara pelacur karena harus berkompromi mengenai nilai nilai visual dengan pihak biro iklan dan klien. Banyak sutradara layar lebar ternama tidak mau memasuki dunia ini, karena takut mengorbankan idealismenya. Kompromi ini costs a lot !

Kelima, supply sutradara iklan tidak terlalu banyak di Indonesia. Harga harga diatas adalah untuk sutradara local Indonesia, bukan sutradara asing yang banyak berseliweran di Jakarta yang honornya dibayar pakai dolar.

Kalau dilihat mungkin jumlah sutradara lokal yang cukup established mungkin sedikit, walau ada beberapa muka baru yang mulai bermunculan. Jadi sebagai ‘ the happy selected few people ” bisa saja menerapkan hukum ekonomi.

Namun pada akhirnya, uang bukan segala galanya, kadang ada hal yang menjadi konsiderans seorang sutradara. Ada yang menerima honor hanya 1/3 dari normal fee,karena memang kliennya tidak punya uang dan konsepnya sangat menarik buat show reel saya sendiri. Lalu buat iklan iklan Public Service Announcement ( PSA ), kita juga dibayar dengan harga discount atau bahkan tidak sama sekali.

MBAH MARIJAN JUGA MANUSIA

Ngger Asih anakku,
Aku masih lelah setelah syuting kemarin, lha iyo…rupanya sebuah produsen minuman serbuk energi mencium suatu potensi yang lain, menjadikan diriku bintang iklan untuk digabungkan bersama icon lainnya, petinju juara dunia Chris John. Rupa rupanya pemilik perusahaan Sido Muncul yang memproduksi Kuku Bima Energi melihat suatu peluang untuk mendongkrak volume penjualannya. Ia bisa dikatakan secara tidak langsung mengambil langkah pertama dari konsep advertising yang diajarkan Neil French, yakni Get Noticed. Dan ini nyata nyata berhasil, untuk attrack attention. Bagaimana tidak, ketokohan diriku dalam iklan ini membuat efek baru dalam sejarah iklan minuman energi. Orang menjadi memperhatikan iklan ini, karena selama ini minuman energi selalu diasosiasikan dengan lelaki macho, jagoan gagah perkasa dan kalau bisa aspirasional wajahnya.

Ini menunjukan pernyataan positioning yang berani. Karena positioning merupakan alasan keberadaan sebuah produk. Kalau sesuatu produk tidak memiliki ciri ciri pembeda dengan produk lain maka tak selayaknya ada di pasar. Sementara menurut pakar pemasaran Phillip Kotler, positioning merupakan tindakan untuk merancang apa yang ditawarkan perusahaan berikut citra yang mereka harapkan, sehingga pasar dapat memahami. Wong aku, tua renta yang berjalan saja susah, wajah ndeso dengan profesinya berbau klenik sebagai juru kunci Gunung Merapi. Disini kejelian perusahaan jamu nasional ini, aku diposisikan sebagai lelaki pemberani, ya lelaki yang tidak mau turun dari gunung Merapi, walaupun dengan ancaman bisa meletus setiap saat !

Bagaimana dengan Chris John yang berlari lari dengan stamina tinggi menuju puncak gunung berapi ? Ia juga lelaki pemberani karena memilih berlatih tinju di tempat yang sangat berbahaya. Lalu apa hubungan keduanya ? jelas tidak ada. Jadi kalau ada yang bilang bahwa iklan ini tidak masuk akal, logika nggak nyambung. Memang benar, tapi siapa peduli. Dunia advertising tidak memerlukan jawaban itu le… Jim Riswold, executive creative director Wieden & Kennedy menerangkan dengan gamblang “ We live in illogical world ! when you can make an emotional connection with somebody, its far stronger bond than you can get by creating a logical bond with somebody. I don’t know who gets married for logical reasons. “

Jelas mendaftarkan iklan ini ke Citra Pariwara hanya membuang buang uang pendaftaran saja. Sudah pasti kalah. Tetapi bagi seorang Irwan Hidayat, pemilik imperium industri jamu Sido Muncul, mendongkrak penjualan hingga 80 % setelah iklan ini ditayangkan di televisi adalah jauh lebih penting. Klien happy dan biro iklan pun juga happy karena terus dipercaya memegang produk ini. Bagaimana dengan sutradaranya ? tentu saja happy karena aku denger dia di -calling lagi untuk membuat seri berikutnya dari iklan Kuku Bima Energi.

Tadinya aku tidak mau karena rasanya bagaimana kalau dalam situasi bencana ini kok terkesan aku mengambil kesempatan. Tapi setelah kupikir pikir , dari honor seratus lima puluh juta itu bisa aku akan bagikan rata seratus juta buat masyarakat di sini, disamping juga sebagai tambahan pembangunan mesjid di seberang rumah kita. Ya setidaknya, ini bisa membawa manfaat yang besar bagi masyarakat sekitarnya. Yo wis berita dari aku, bagaimana dengan pekerjaanmu di kampus ? ati ati, mugi mugi Gusti Allah maringi urip sing gak rekoso. Pangestu seko bapakmu.
Pokoke Roso !

Marijan

THE DEPARTED

Mungkin ada yang pernah menonton film Hongkong beberapa tahun silam, ” INTERNAL AFFAIR ” yang dibintangi Andy Lau dan Anthony Wong. Kalau ada yang mengganggap film tersebut baik adanya, maka sekarang Martin Scorsese telah membuat remake-nya, berjudul THE DEPARTED,dengan bintang LeonardoDi Caprio, Jack Nichoson, Matt Damon & Mark Wahlberg. Saya sarankan jangan lewatkan film ini, datanglah ke bioskop pas tanggal mainnya.
Jika menonton filem lain mendapat batuk,maka menonton film ini tahu faedahnya..