All Posts By

iman

SEBUAH CATATAN

Baru baru ini saya menemukan dokumen tulisan ini di desktop layar Mac Powerbook saya, dan ternyata buah hati saya, Abel yang menulisnya. Puisi ini bukan karya ciptanya, ia hanya menyadurnya dari buku apa yang saya juga tidak tahu. Mungkin dari salah satu buku pelajarannya. Begitu sederhana pemahaman tentang dunia ini baginya. Begitu kelam sindiran ini bagi kita manusia dewasa. Ah, jangan jangan suatu hari ia minta dibuatkan blog. Tiba tiba saja saya bertambah cinta dengannya. Mari nak, masih ada sisa dunia untukmu.

” Mengail di Kali “

Di kali kecil
Keruh karena sampah dan kotoran
Ikan-ikan tinggal sedikit
Dan sulit berkembang biak
Karena beribu penyakit

Tapi kita masih mengail di sana
Kita masih ingin medapatkan ikan
Ingin memakan dan menghabiskan mereka
Hingga musnah semua

Mengapa tidak kita pikirkan :
Bersihkan kali, jangan buang sampah
Dan kotoran semaunya
Seperti sediakala

Abdul Hadi W.M

KEMANA HILANGNYA HUMANISME KITA ?

Syahdan pada awal tahun 1930an, seorang wanita asal Amerika menemukan sebuah poster mengenai film dokumenter mengenai Bali di Holywood Boulevard. Setelah ia melihat film itu, sekonyong konyong ia merasa telah menemukan dunia yang selama ini dicari cari, sebuah dunia baru yang menggetarkan jiwanya. Ia menjual seluruh hartanya dan rela menempuh perjalanan ribuan mil dengan kapal, menuju Batavia. Ia meneruskan dengan mengendarai mobil seorang diri menyusuri jalan di pulau Jawa yang gelap dan rawan dengan ‘begal’ atau perampokan. Beruntung ia bertemu dengan Pito, seorang anak kecil yang menjadi penunjuk jalannya menuju pulau dewata, Bali. Agaknya jalan kehidupannya sudah ditentukan oleh dewa dewa Bali ketika bahan bakar mobilnya habis, dan berhenti di sebuah pura kerajaan di sana. Ktut Tantri, demikian gadis itu mengubah namanya setelah ia diangkat menjadi salah puteri raja tersebut. Selanjutnya , sejarah mencatat Ktut Tantri banyak terlibat dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam revolusi kemerdekaan. Di udara ia dikenal sebagai ‘ Surabaya Sue ‘ yang menyiarkan diplomasi perjuangan Indonesia ke seluruh dunia melalui radio milik Bung Tomo. Bahkan ia juga menembus blokade laut Belanda menuju Singapura untuk membawa barang barang selundupan untuk dijual di sana guna membiayai revolusi kemerdekaan sebuah negara yang begitu dicintai.


Dari cerita diatas, kita melihat betapa aspek kemanusian telah menembus lintas agama, budaya dan bangsa tanpa harus adanya prasangka. Seperti dokter dokter Kuba yang mengabdikan di Jogja dengan mendirikan rumah sakit darurat dengan biaya seluruhnya dari Pemerintah Cuba. Mereka datang ribuan mil menuju negara yang tak pernah dikunjungi sebelumnya, memberikan pelayanan kesehatan gratis. Menyedihkan, mereka hanya diberi ijin oleh Pemerintah kita selama 3 bulan dari rencana 6 bulan, karena ‘ konon ‘ banyak desakan dari rumah sakit dan dokter dokter Indonesia yang tiba tiba billing pemasukannya menurun drastis karena banyak masyarakat Jogja dan Jawa Tengah lebih suka datang ke rumah sakit darurat milik dokter Cuba. Seperti cerita seorang penduduk di perbatasan Klaten – Jogja, yang tak bisa membayangkan bagaimana bisa mengumpulkan uang 7 juta buat operasi hernianya. Namun dokter dokter ‘ sosialis ‘ ini mengoperasi penyakinya tanpa memungut biaya sepeserpun. Film dalam hal ini bisa menjadi aspek penyampaian sebuah gagasan mengenai humanisme, mulai persahabatan, keadilan bahkan sampai kesetaraan gender misalnya. Namun apakah ini bisa diterjemahkan bahwa film seperti ini bisa laku, kalau masyarakat kita katanya lebih suka pada film film remaja cinta anak sekolah dan horror ? Budaya televisi dan film secara tidak langsung mencekoki pola pikir masyarakat sehingga budaya kekerasan, individualistis, dan mimpi mimpi kota besar telah menghilangkan sisi humanisme manusia Indonesia.


Tapi siapakah yang harus disalahkan ? pasar , produsen atau Pemerintah. Seperti diketahui peran pemerintah saat ini terhadap pengembangan film nasional adalah hampir tidak ada. Tak jelas kemana larinya dana pajak tontonan, pajak impor ( yang mestinya dikembalikan sebagai subsidi perkembangan film nasional ). Belum lagi setiap komponen dalam produksi film masih tetap dipajaki. Sewa alat dipajaki,bahan baku dipajaki, prosesing laboratorium dipajaki, dan komponen komponen lainnya, padahal film itu belum jadi. Padahal idealnya film dikenakan pajak setelah menjadi barang jadi. Dengan besarnya komponen biaya yang dikeluarkan, pasti produser lebih baik membuat film yang pasti laku saja. Jadi mungkin tak salah kalau mereka enggan berspekulasi terhadap hasil produknya terutama membuat film film humanisme, kalau ujung ujungnya hanya melihat untung rugi sebuah tontonan. Semuanya tambah menjadi tak menarik melihat kekisruhan orang orang film saat ini ketika sisi humanisme mereka hilang oleh polemik, tidak mau mengalah, penjiplakan karya cipta dan kebencian. Generasi tua, Masyarakat Perfilman Indonesia ( yang rame rame mengembalikan piala citra ), Pemerintah ( Juri, BP2N , LSF ), kelompok film India kini berada dalam titik nadir perjalanan film nasional. Ada pernyataan menggugah dari Sophan Sophian yang saya dengar di sebuah TV, katanya mengapa sekarang seolah olah kemenangan film di festival menjadi berhala baru, sehingga harus dikejar sampai ke ujung dunia. Bagi saya sungguh menyayangkan jika Riri Reza atau Hanung Bramantyo lebih sibuk memikirkan gerakan perlawanan secara terstruktur terhadap ‘ the old establishment generation ‘ daripada bagaimana membuat film film selanjutnya.


Festival sebuah film bukan merupakan puncak pencapaian. Biarlah masyarakat yang menilai film ini baik atau buruk, jujur atau menjiplak . Kita seharusnya jangan membiarkan sisi humanisme sebagai pencipta seni tergerus dengan emosi. Kalau ini dibiarkan berlarut larut akan mempengaruhi daya cipta kita. Tumpul, kering dan menjadi tidak peduli. Sehingga kita akan menjadi apatis seperti yang dialami Ktut Tantri, ketika paradise itu telah berubah menjadi ladang pembantaian, kakak ‘ angkatnya ‘ di puri kerajaan yang dibunuh bangsanya sendiri, tentara tentara yang mencuri uang hasil penjualan gula republik, sampai konspirasi untuk menjual bangsanya. Hampir saja dia tidak percaya lagi dengan sisi humanisme seorang manusia, sampai ketika ia tiba kembali di pelabuhan Boston, setelah hampir 20 tahun meninggalkan Amerika. Dalam malam Natal yang dingin dan sepi itu, ia hampir menangis karena tidak memiliki uang sepeserpun untuk kembali ke rumah orangtuanya. Dan tiba tiba saja ada seorang pemuda Indonesia keturunan tionghoa yang hendak belajar di Amerika, datang memberikan uang secukupnya. Dan ternyata humanisme itu masih ada. Mudah mudahan kitapun masih percaya. Semoga saja !

MELIHAT KEABSAHAN FESTIVAL FILM INDONESIA

Bahtiar Siagian, salah satu bapak perfilman Indonesia, disamping Usmar Ismail, pasti tak akan habis habisnya menyesali di alam kubur, karena seluruh jejak jejak karyanya sudah dimusnahkan oleh Pemerintah orde baru. Sungguh menyedihkan, bahwa kita tidak lagi memiliki dokumentasi perfilman era orde lama, terutama sutradara sutradara yang dicap penganut paham komunis seperti Bahtiar Siagian. Itulah sebabnya film tak pernah lepas dari kepentingan berbagai pihak, terutama pihak yang berkuasa ( baca : pemerintah ). Sampai ketika orde baru rontok, masih ada pertanyaan apakah Pemerintah masih berkepentingan untuk mengatur perfilman ini. Termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia yang telah digelar sejak tahun 1973. Khrisna Sen dalam bukunya “ Indonesia Cinema – Framing new order “, mengatakan FFI adalah bagian dari proses pengawasan dan pengarahan film nasional selain badan badan film yang dibentuknya. Sampai akhirnya Jum’at kemarin, saya mendapat sms dari Joko Anwar untuk datang ke pertemuan pekerja film untuk berkumpul di bilangan kemang. Topik utama dalam pertemuan ini adalah membahas langkah langkah yang perlu disuarakan mengenai penyelenggaraan Festival Film Indonesia, yang baru baru ini menimbulkan sejumlah kontroversi.

Pemilihan Film “ Ekskul “ sebagai film terbaik disamping sutradaranya, Nayato Fio Nuola sebagi sutradara terbaik, menjadi salah satu pemicu kontroversi mengenai standarisasi dan penilaian sebuah Festival Film Indonesia . Banyak kekecewaan disuarakan mengapa filmnya Nia, ‘ Berbagi Suami’ atau filmnya John De Rantau’ Denias ‘ atau film film yang dianggap bermutu bisa kalah dengan film berkualitas seperti ‘ Eskul ‘. Saya sendiri akhirnya tidak menghadiri undangan itu, namun dari teman teman yang hadir saya mendapat kesan pertemuan itu selain menyiapkan rancangan petisi keprihatinan pekerja film, juga secara tidak langsung menjadi pengadilan terhadap karya Nayato.

Memang sutradara ini cukup unik, dia kerap berganti ganti nama dalam menggarap film filmnya, seperti memakai nama Koya Pagayo dalam filmnya ‘ Panggil namaku 3 X’ dan ‘ 12.00 am ‘, lalu ada Chiska Doppert dalam film ‘ Missing ‘, memakai nama Pinkan Utari dalam film ‘ Gotcha ‘. Dia hanya memakai nama aslinya Nayato Fio Nuola dalam film ‘ Soul ‘ dan ‘ Ekskul ‘ sekarang. Apakah ini karena dia tidak PeDe sehingga memakai nama palsu, saya juga tidak tahu. Mau bertanya secara langsung juga tidak bisa karena saya sudah tidak memiliki nomor telponnya. Terakhir bertemu dengan dia mungkin sekitar 6 – 7 tahun lalu ketika ia masih menjadi sutradara iklan.


Terlepas dari kualitas filmnya yang dianggap biasa biasa saja, saya mengharapkan bahwa ini bukan kampanye secara sistematis terhadap jenis film lain, seperti ketika golongan realisme sosialis menggayang film film manikebu ‘ dari seni untuk seni ‘ jaman orde lama.. Saya lebih melihat bagaimana sistem dan prosedur penjurian ini dilakukan. Pola yang ada sekarang dimana dewan juri yang dipilih sangat rentan terhadap penyelewangan dan bentuk intervensi dari pihak luar, bukan saja Pemerintah tapi mungkin para pebisnis yang sangat berkepentingan terhadap industri ini. Saya sama sekali tidak meragukan integritas anggota dewan juri Rima Melati, Noorca M Massardi, Chaerul Umam, Eddy D Iskandar, Embi C Noer, Remy Silado dan WS Rendra dalam kompetensi bidangnya masing masing. Namun apakah mereka memiliki ‘ mata ‘ yang cukup up to date untuk mengikuti trend pergaulan , budaya, teknologi, serta memiliki pemahaman mengenai bagaimana menilai film yang baik dan buruk. Lihat saja, ada beberapa musik dalam film “ Ekskul ‘ yang jelas jelas menjiplak plak ketiplek soundtrack film Gladiator karya Hans Zimmerman. Ini memang kebodohan dewan juri mengapa sampai kecolongan ? atau memang tidak ada yang tahu siapa music composer kondang itu ? terutama Embi C Noer sebagai wakil dari musisi ( terakhir ia membuat musik filmnya ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘). Mudah mudahan Yato, demikian nama panggilannya kelak mau menjelaskan pertanggungjawaban etika penciptaan karya film. Kalau melihat contoh bagaimana Academy Oscar Award dilakukan, yang mana penjurian dilakukan oleh Academy of Motion Picture Art & Science sebuah lembaga non profit yang sangat independen dan memiliki integritas tinggi. Lembaga ini memiliki anggota sekitar 6500 orang yang mewakili 14 cabang interest – actor, animator and short film makers, art director and costume designers, cinematographers, composer and song writers, documentary film makers, directors,executive, producers, film editors, public relations specialist, sound technicians, visual effects expert and writer. Untuk tahap pertama, anggota harus memilih calon yang bidangnya sama, seperti misalnya sutradara yang anggota AMPAS hanya memilih sutradara. Kemudian setelah masuk nominasi baru seluruh 6500 anggota memilih calon calon pilihannya. Seluruh proses ini diawasi dan dilaksanakan melalui PriceWaterhouse & Cooper sebuah lembaga audit independen, dan sampai amplop itu dibuka di depan panggung, hanya dua orang partner PriceWaterhouse & Cooper yang tahu siapa pemenangnya.

Anggap saja dewan juri FFI telah melakukan tugas dengan sebaik baik dengan segala pertimbangan dan standarisasi yang dipakai. Bagaimana jika betul film film tipe horror, remaja, cinta anak sekolah ternyata memang menjadi potret film nasional kita ? Jumlah penonton kita justru menunjukan banyaknya angka penggemar jenis film film tersebut. Apakah kita harus malu dan tetap bersikeras bahwa potret film Indonesia yang sesungguhnya yang berkelas film film festival luar negeri dan penuh philosphy. Lihat India saja tidak pernah merasa rendah diri dengan gaya film menari, dan menyanyi diantara tiang tiang dan tetap memproduksi jumlah film yang terbanyak di dunia. Akhirnya ini memang potret masyarakat kita yang sakit, lebih percaya pada dukun dan tahayul sehingga suka film horror. Masyarakat yang terbiasa dengan poligami, tentang mimpi mimpi kota besar, sehingga film cinta memble lebih digemari, daripada film yang berseting di hutan Papua. Namun bagaimanapun juga kita mesti setuju bahwa film harus memberi kesaksian atas cermin peradaban suatu budaya, sekalipun betapa buruknya peradaban itu. WS Rendra tentu masih ingat sajaknya berjudul Kesaksian ( Aku mendengar suara, jerit hewan terluka/ Ada orang memanah rembulan / ada anak burung terjatuh dari sarangnya/ orang orang harus dibangunkan / kesaksian harus diberikan / Agar kehidupan bisa terjaga ).

Selamat Tahun baru 2007 !

SELEB BLOG

Menarik, ada sisi perilaku dari blogger blogger di sini ternyata membudayakan sebuah komunitas seperti di dunia film. Ini bisa dilihat setelah saya browsing kemana mana menemukan topik tentang Selebritis Blog. Rumah mereka selalu menjadi rujukan dan tempat persinggahan bagi para penjelajah dunia maya. Sehingga ada kebanggaan jika kita mendapat komen atau dimasukan kedalam link mereka, sama dengan kebanggaan yang diperoleh bagi seseorang ( tidak semua ) jika disapa oleh seorang Luna Maya di sebuah restaurant misalnya. Semua orang akan melihat dan menimbulkan sebuah pengakuan eksistensi. Wah bergaulnya dengan artis. Sementara di dunia blog ini. Sebagian blogger akan mendapat nilai tambah untuk eksistensi mereka jika bisa masuk ke dalam “ inner circle “ para selebriti blog. Sama dengan dunia artis, ada sikap pemujaan dari para fans fans mereka. Bedanya , jika di dunia seleb artis , para fansnya tidak marah marah jika si artis tidak membalas lambaiannya, atau menolak di photo bersama. Sementara para blogger menjadi sensitive jika selama ini sering kali memberi komen atau menyinggahi rumah para seleb blog, tetapi tidak pernah dibalas mengunjungi atau memberi komentar di rumah mereka.


Mungkin saking kesalnya, sehingga memunculkan gerakan perlawanan anti seleb blog yang justru menimbulkan pro dan kontra untuk urusan sepele ini. Ya, saya katakan sepele karena memang tidak penting menghabiskan energi marah marah tidak karuan, hanya karena blognya tidak dikunjungi para seleb blog. Ketika saya membuat blog ini, yang ada dibenak saya hanya sebuah buku catatan harian yang menampung gagasan dan hal hal yang saya lihat ,rasakan dan perlu disuarakan. Masalah ada yang membaca, atau sakit hati karena tulisan saya adalah nomer sekian. Demikian pula ketika saya melongok ke rumah rumah orang ( termasuk mereka yang katanya seleb blog ), saya juga memposisikan sama dengan siapapun yang saya kunjungi. Jika saya membaca, bertukar gagasan atau memberi komen, memang karena saya rasa topik yang ditulis memang menarik bagi saya. Semakin lama saya menekuni dunia blog, semakin jelas bahwa jumlah komen tidak otomatis mencerminkan kualitas isi blognya. Ada topik yang ditulis seorang seleb blog mengenai kemacetan pulang kampung sekeluarga waktu lebaran, bisa mendapat komen ratusan. Padahal topiknya mungkin biasa biasa saja dan tidak penting. Sementara saya menemukan topik dari blogger antah berantah yang jarang dikunjungi tetapi sarat dengan sisi humanisme yang dalam, sebuah topik yang penuh pencerahan.

Juga tidak pada tempatnya membuat gerakan menyerang seleb blog ini. Rasa rasanya seperti jaman orde baru ketika melarang membaca buku buku Pramudya. Kita tidak perlu inferior dengan para seleb blog yang lebih dahulu bereksistensi di dunia ini. Sudah selayaknya mereka menuai hasil yang mereka tanam dahulu. Juga tidak perlu ikutan latah mencantumkan mereka dalam link kita, jika kita memandang tidak perlu. Buat apa kalau kita tidak paham dengan isi gagasan mereka. Kebetulan hanya satu seleb blog yang saya link karena memang topiknya menarik dan isi blognya dekat dengan dunia saya, Itu saja. Masalah dia mau mampir atau memberi komen adalah urusan lain. Di sisi lain, kita mestinya bangga dengan komunitas yang sudah kita miliki, terus terang dunia kecil saya dengan teman teman yang rajin mengunjungi adalah sesuatu yang mesti kita pelihara. Kita mestinya PeDe percaya diri dengan blog kita, bukankah kita juga selebritis diantara keluarga kita, dan juga teman teman dekat kita.

JAKARTA UNDER COVER

Memenuhi undangan premier filmnya Lance, “ Jakarta Under Cover “ yang diambil dari insight bukunya Moamar Emka, saya rasa anda anda peminat dunia gemerlap malam harus siap siap kecewa. Karena anda tidak akan menemui detail detail apa yang ditulis Emka dalam bukunya, seperti prostitusi, mandi kucing, pesta orgy, streaptease atau gadis gadis penghibur dari Usbekistan. Ya percuma juga karena bagaimana cara menvisualkan, yang ujung ujungnya pasti akan dibabat Lembaga Sensor. Lihat saja semalam saya dipaksa menikmati gambar gambar blur / out focus untuk adegan gadis gadis meliuk liku erotis. Terbukti betapa noraknya jalan pikiran Lembaga Sensor Film ini yang menganalogikan dengan asumsi sempit bukan melihat content jalan ceritanya. Mungkin ini juga apa yang dibayangkan oleh pembuat film ini, mensiasati bagaimana film ini bisa tayang, termasuk memakai judul yang sama dari buku laris tersebut. Karena kalau mau jujur sama sekali tidak ada hubungannya antara Jakarta Under Cover bukunya Emka dengan JUC filmnya Lance. Ini bisa dikatakan bagian dari strategi pemasaran, coba memakai judul lain, “ Gadis Malam “ atau “ Malam tak berujung “ misalnya, bisa bisa gemuruh film ini tidak akan seheboh dibanding memakai judul JUC.


Jadi apa yang dibayangkan sisi gelap Jakarta dalam dunia malamnya itu hanya dilihat dari opening title, dengan cuplikan cameo cameo selebritis seperti Fauzi Badilaa, Mario Lawalata sampai sutradara Hanung Bramantyo diantara para penari streapper. Kemudian awal cerita di sebuah club hiburan ketika Haryo ( Lukman Sardi ) bersama 2 orang kawannya sedang menikmati malam panjangnya di club yang ceritanya dimiliki Christian Sugiono. Salah satu penari streaptease , Viki ( Luna Maya ) terpaksa bekerja disana untuk membiayai hidup bersama Ara adiknya yang masih kecil ,seorang penderita autis. Selama bekerja ia selalu membawa adiknya yang disembunyikan di lemari di sebuah ruang meeting manajemen klub itu. Cerita dimulai ketika Viki menolak digerayangi Haryo sehingga lelaki yang putra pejabat di negeri ini marah marah tidak keruan. Si pemilik club mencoba meredakan amarah pelanggan nomor satunya dengan memanggil mereka ke ruang meeting dimana telah disiapkan seorang penari lainnya. Problem dimulai ketika Haryo yang kesetanan menyetubuhi si penari itu hingga mati tercekik. Ara yang berada di dalam lemari bolong bolong adalah saksi mata perbuatan mereka. Dari situ cerita mengalir menjadi suspense perburuan malam sampai pagi dari tiga sekawan terhadap Viki dan Ara,


Disini saya tidak mengomentari logika sebuah film, walaupun ada pertanyaan kenapa Viki dan adiknya terus berlarian dan bersembunyi sepanjang malam di tempat yang mudah dipergoki gerombolan pemuda itu. Sebagaimana tidak perlu mengomentari film film Holywood sana, begitu mudahnya pintu didobrak, atau mobil yang terbalik selalu otomatis meledak terbakar. Karena film selain untuk menyampaikan gagasan juga sebagai media hiburan, jadi yang penting penonton terhibur dan get carried away dengan jalan cerita. Joko Anwar sekali lagi membuktikan sebagai penulis scenario yang cerdas, dan ditambah pendekatan pengambilan gambar dan editing dari Lance, membuat film ini hidup dan terasa suspensenya. Kerja penyutradaraan Lance, mencapai lompatan jauh dibanding film pertamanya ‘ Cinta Silver ‘ .Bagaimanapun juga permainan Luna Maya dan Lukman Sardi sangat luar biasa. Lihat saja ketakutan dan kegelisahan Viki sangat terasa dekat, kemudian kebejatan Haryo yang terekspos dengan sempurna. Hanya peran pemilik klub malam oleh Christian Sugiono terasa tidak pas dengan karakternya yang lembut, dan manis manis Indo. Yang jelas ia belum bisa membebaskan karakter dari remaja idola dalam sebagian besar film dan sinetronnya, menjadi sebuah sosok kejam dan kasar dalam dunia industri hiburan malam.



Sekali lagi karena saya bukan kritikus film,maka saya hanya melihat dari segi teknisnya saja. Satu hal mengganggu yakni lighting dan setting lokasi film ini. Rasa rasanya lighting Yadi Sugandhi sangat datar terutama di area dance floor, dan sebagian scene scene malam. Saya membayangkan suasana lighting dramatis dengan lampu sorot yang menembus asap asap rokok yang pekat. Sementara lighting di area diskotiknya sampai di kamar kos Viki sangat flat dan biasa saja, sehingga saya langsung tahu bahwa adegan itu dibuat disebuah set studio, bukan di real location. Padahal umumnya di sebuah club malam, lighting cenderung gelap terutama di bagian pengunjung dan gradasi terang di area penari penarinya. Sangat disayangkan jiwa Chinatown ( daerah kota ) sebagai pusat industri esek esek tidak terekspos dengan pas. Sama sekali tidak ada establishing situasi atau backdrop gang gang kumuh dengan keramaian pengunjung, pedagang asongan, tukang parkir, billboard neon sign yang berkelap kelip, dan gadis gadis belia lalu lalang di jalanan. Ada satu referensi mengenai nyawa dunia malam dan china town yang tata pencahayaannya sangat luar biasa, yakni film “ Replacement Killer “ Antoni Fuqua ( dibintangi Chou Yun Fat dan Mira Sovirno ) ,lalu untuk adegan kejar kejaran malamnya bisa melihat referensi dalam film “ Missipi Burning “ nya Alan Parker, yang mendapat Oscar Award awal 90 an untuk sinematographynya


Namun bagaimanapun juga Lance telah membuat langkah besar yang mana justru saya belum memulainya juga. Ini sebuah pencapaian dan pembelajaraan yang berharga dalam karier sebagai sutradara. Semakin lama saya menonton membuat semakin ingin cepat pulang menyelesaikan kerja skrip yang tertunda tunda terus. Bagaimanapun juga sisi potret kehidupan malam di Jakarta adalah realita sebuah industri yang berkaitan dengan hajat hidup dan hajat syahwat orang banyak. Seorang relasi bisnis dari luar negeri pernah geleng geleng kepala melihat fenomena industri esek esek di sebuah negeri yang penduduknya beragama Islam terbesar di dunia. Saya bilang, itulah Indonesia, teroris dan prostitusi bisa akur sejalan. Ketika saya keluar dari gedung bioskop, pundak saya di colek oleh salah satu pemeran dalam film ini. Ia hanya cengar cengir seperti kucing angora minta kawin. Dan saya teringat masa silam, menjadi saksi mata bersamanya dan teman lain menyusuri malam di pojok pecinan kota ini. Apakah ini berarti ada sisi sisi manusia yang membutuhkan ‘ cover ‘ nya ? apalagi disaat ketika banyak orang dan ulama mengatakan lebih baik berpoligami daripada zinah. So what next ?

NASIONALISME PERFILMAN

Bulan Desember ini memang sepertinya jadi hajatan orang orang film. Dari hiruk pikuk Jiffest sampai menjelang Festival Film Indonesia yang konon akan dibuka oleh Presiden SBY sendiri. Seorang teman yang suka nonton film sudah kasak kusuk untuk mencari tiket undangan buat pembukaan Jiffest. Mungkin menurutnya ada gengsi tersendiri bisa berada dalam antrian penonton yang merupakan undangan saja, untuk menonton filmnya Alejandro Gonzales Innaritu, “ Babel “ sebagai film pembukaan Jakarta Internasional Film Festival 2006 di Djakarta Theater. Sementara kolega saya, produser senior yang sudah banyak makan asam garang di film layar lebar maupun iklan, sudah sejak sore buru buru meninggalkan kantor. “…ntar mau ke undangan Jiffest “. Perasaan saya sih dia ke Salon dahulu, bersolek agar malam ini terlihat pantas bersama insan insan perfilman nasional. Dari cerita di atas menunjukan dunia film selalu menjadi magnet yang tidak ada habis habisnya bagi siapa saja yang memujanya, entah itu teman saya yang hanya suka menonton atau partner saya yang memang hidup matinya bekerja di dunia film.

Film sudah menjadi globalisasi industri hiburan di seluruh dunia. Khusus di Indonesia sejak film bioskop pertama “ Loetoeng Kasaroeng “ dibuat tahun 1938, mungkin tak ada yang mengira bahwa perkembangannya demikian pesat. Definisi film sudah tidak hanya layar lebar saja, sudah melebar ke video klip, iklan, televisi dan dokumenter. Mungkin nantinya merambah ke multimedia internet juga. Pembuat film sudah melewati lintas batas Negara. Film film Holywood bisa dengan mudahnya masuk sampai ke pelosok pelosok negeri. Dibidang pertelevisian , banyak pekerja film dari India, Malaysia dan Hongkong lalu lalang disini. Apa lagi bidang film iklan, banyak sutradara, produser dan juru kamera dari Australia, Singapore, Malaysia, Thailand, Hongkong, Cina sampai Eropa yang mencari nafkah di sini. Namun tidak ada yang tahu bahwa rambu koridor kegiatan perfilman Indonesia sebenarnya sangat nasionalistik. Lihat saja UU No 8 Tahun 1992 mengenai Perfilman Nasional dan PP tahun 6 tahun 1994 tentang penyelenggaraan usaha perfilman Disana jelas jelas tertulis industri film nasional tertutup bagi orang asing atau badan hukum asing. Para pembuat undang undang dan peraturan ini menganggap film sebagai budaya bukan industri. Karena sebagai budaya maka sudah sewajibnya di lindungi dari pengaruh asing. Masuk akal, karena film bisa secara tidak langsung mempengaruhi sikap perilaku masyarakat atau bisa sebagai alat ‘ brain wash ‘ propaganda sebuah gagasan. Lihat saja model rambut Demi Moore dalam film “ Ghost “ diikuti oleh para gadis gadis seluruh dunia pada era awal 90an. Atau mendadak sontak banyak remaja ikut ikutan suka puisi gara gara tokoh Rangga yang doyan puisi dalam film “ Ada Apa dengan Cinta “. Ini pula yang menyebabkan tiba tiba saja banyak artis artis Indonesia menjadi caleg, walau otaknya kosong tapi popularitasnya bisa mendulang suara suara para pemujanya.


Lalu apa yang sebenarnya salah dengan memproteksi seperti ini ? Dengan globalisasi dunia saat ini serta era perdagangan bebas 2010, kita sudah tidak bisa membendung arus globalisasi industri film. Ironisnya Malaysia justru menjipak UU perfilman kita dan mengimplikasikan dalam kebijakan “ Made in Malaysia “, atau popular dengan MIM. Suatu kebijakan untuk melindungi industri film nasionalnya dan menumbuhkan pekerja pekerja film bumiputera, untuk suatu saat nanti bisa bersaing sewaktu arus kran perdagangan bebas dibuka. Bedanya dengan kita, yang tak peduli dengan penerapan sebuah undang undang. Malaysia justru sangat ketat dan benar benar diawasi, sehingga film iklan Marlboro yang mendunia dengan koboi koboinya tidak bisa tayang di televisi Malaysia. Alhasil pihak produsen rokokpun harus membuat film iklan di Malaysia dengan konten dan isinya yang mencerminkan budaya Malaysia. Memang salah satu isi dari program MIM adalah film iklan yang bisa tayang di Malaysia harus dikerjakan di Malaysia, dengan tenaga warganegara Malaysia pula. Khusus untuk film iklan di Indonesia memang paling banyak menyerap expat expat yang umumnya illegal. Rasa kebangsaan kita bisa terusik melihat tidak hanya porsi sutradara, juru kamera dan produser yang banyak diduduki pekerja film asing, tapi untuk posisi seperti art director, penata busana sampai make up artis. Demikian pula kasus beberapa sutradara asal India yang tidak bisa berbahasa Indonesia tetapi mengerjakan sinetron sinetron di Indonesia.

Sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan masalah ini, bukan hanya terpesona dengan glamournya festival festival film. Perdagangan bebas AFTA sebentar lagi akan dibuka, dan pekerja film Indonesia akan tergilas dengan sendirinya, kalau sejak dini tidak dilindungi. Jangan jangan nanti sequelnya “ Ada apa dengan Cinta Jilid 2 “ akan dibesut oleh Ang Lee, who knows ? Lagi pula siapa yang peduli, toh orang lebih suka melihat prestisenya daripada urusan urusan teknis belakang layar ini. Sampai sore itu teman sayapun masih tetap menelpon kalau ada kelebihan undangan Jiffest.

SEBUAH PILIHAN

Akhir akhir ini saya dihadapkan dengan sebuah persimpangan pilihan karier, Tidak tahu kenapa , seolah saya kehilangan ‘passion’ di dunia film iklan, dunia yang telah memberikan asam garam karier kehidupan selama lebih dari sepuluh tahun. Ini sebenarnya berbahaya bagi proses kreativitas saya dalam menjalani eksekusi sebuah pekerjaan. Mungkin ini ada kaitan dengan kejenuhan menghadapi pola pola pekerjaan film iklan yang itu itu saja. Dalam Film “ When Harry Met Sally “, salah satu karya masterpiece Rob Reiner, ada scene yang menunjukkan betapa sengsaranya hidup dalam jebakan routinitas sehari hari yakni pekerjaan. Selesai bekerja, nonton TV, aktivitas di gym, bengong bengong main kartu, tetap tak bisa membuat hidup ini menjadi lebih ‘ berwarna ‘. Pacar pacar merekapun ternyata juga bukan pilihan yang tepat. Sehingga hidup hanya untuk karier, gaji, apartemen yang bagus serta ‘ social life ‘ yang membosankan.

Memang ada beberapa project ke depan yang semestinya menjadi prioritas untuk keluar dari kebosanan film iklan. Menyelesaikan ‘ coffe table book ‘ untuk buku foto foto bawah laut yang terus tertunda tunda dan yang paling mendebarkan, menyutradari 2 proyek layar lebar yang dua duanya harus dibesut tahun depan. Terus terang saya iri dengan teman saya Prima Rusdi yang akhirnya bisa menemukan dunianya di penulisan scenario film, setelah lama berkutat sebagai creative di biro iklan. Kagum dengan Lance yang bersama sama saya merintis karir di film iklan, telah membuat 2 buah layar lebar ( Cinta Silver dan Jakarta Under Cover ). Bahkan bekas asisten asisten saya yang sekarangsudah membuat layar lebar. Sementara saya masih saja berkutat dengan film film iklan yang monoton dan begitu begitu saja. Tak heran sewaktu bertemu Mira Lesmana dan Riri Reza di Bakul Cofee, mereka terus saja menyindir keragu raguan saya untuk memasuki dunia layar lebar.


Tentu saja pilihan ini bukan tanpa pertimbangan yang matang, karena ada konsekuensi yang tentunya tidak sebanding jika melihat penghasilan yang bakal diterima. Membuat layar lebar mewajibkan kita memberikan tenaga, waktu dan bahkan jiwa kita yang mungkin tidak sebanding dengan apa ( baca : honor ) yang kita dapat. This is art work, we put our soul that probably we gain as not as much like tv commercials. Saya juga tidak tahu mengapa saya menulis ini,mungkin cuaca di Jakarta yang akhir akhir ini hujan, membuat saya agak melankolis. Namun betapa beratnya sebuah pilihan, harus dimulai dari sisi orang yang terdekat dengan saya. Saya harus memulai dengan pilihan untuk lebih memperhatikan Abel, buah hati saya yang hari ini berulang tahun. Pilihan untuk menyisakan sedikit waktu dari pekerjaan saya, untuk setidaknya bisa bercengkerama bersama dia. Harry dan Sally memang pada akhirnya menemukan pilihan hatinya, setelah melalui pembelajaran hidup yang berbeda. Saya harap saya bisa menemukan pilihan itu. Ya, saya telah berjanji dengan Abel melalui telpon tadi, untuk datang ke pesta ulang tahun bersama teman temannya. Lagu ‘All by Myself ‘ dari Delta FM sayup sayup mengantar saya menembus kemacetan menuju ulang tahun Abel.

TENTANG POLIGAMI

Ceuceu, seorang ibu tetangga yang tadinya gemar mengirim brosur dan kaset kaset ceramah AA Gym pada saya tiba tiba jadi sewot tidak keruan. Setelah saya tanya dengan suaminya, ternyata ia kesal karena da’i junjungannya tiba tiba menikah lagi. Rupa rupanya ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pada akhirnya ulama kondang itu harus mengambil istri baru.
Padahal saya ingat sejak dahulu ia kerap mengajak saya ke ceramah ceramah dan pengajiannya si Aa ( mungkin ia khawatir dengan predikat orang film yang katanya sekuler sehingga butuh pencerahan dari segi agama ). Yang jelas saya tidak akan membahas masalah poligami dari segi agama, karena memang pengetahuan saya tidak kompeten tentang hal itu.
Setahu saya dahulu Nabi mengawini janda miskin yang suaminya meninggal karena perang, sementara fenomena di Indonesia, para golongan priyayi ( celeb, ulama, politikus, pejabat dsb ) justru mengawini gadis gadis mulus binti perawan. Waduh !!

Film “ Berbagi Suaminya “ Nia Dinata benar benar melukiskan potret manusia Indonesia mengenai urusan syahwat ini. Saya memakai istilah ini, karena banyak dalil dalil agama yang dipakai untuk pembenaran mengambil istri muda, yang sebenarnya ujung ujungnya ke urusan syahwat. Masih ingat beberapa tahun silam, seorang ulama NU yang memiliki pondok pesantren besar di kawasan Kebon Jeruk, mengawini janda almarhum Amir Biki ( tokoh peristiwa Tanjung Priuk ) hanya semalam di sebuah hotel lalu paginya diceraikan lagi.

Sebenarnya ini tidak ada urusannya dengan masalah agama ( baca : Islam ), kalau dilihat sejarah bangsa ini, memang kerap lelaki Indonesia yang dekat dengan kekuasaan dan ketenaran doyan perempuan. Lihat saja sejarah raja raja Jawa, selirmya bisa sampai puluhan orang. Kolam Taman Sari di Yogjakarta, dahulu juga dibangun Sultan Jogja untuk leyeh leyeh sambil memandangi selir selirnya yang sedang berendam. Bahkan dalam catatan Thomas Bent, seorang utusan kerajaan Inggris tahun 1602 yang datang mengunjungi Kerajaan Aceh. Si penguasa Sultan Iskandar Muda mengajukan permintaan ‘ nyeleneh ‘, yakni meminta dikirim 2 ( dua ) wanita kulit putih asli dari Inggris yang nanti akan dikawini. Untung saja pengiriman tenaga kerja wanita Inggris ini tidak jadi, bisa dibayangkan pejuang pejuang GAM nantinya Indo Indo.

Belum lagi kalau kekerasan dipakai untuk memaksa wanita yang ingin dikawini. Puteri Prabu Siliwangi , dibunuh beserta rombongannya di gresik ketika ia menolak dijadikan selir oleh Brawijaya penguasa Majapahit. Lalu Sunan Amangkurat dari dinasti Mataram bisa membunuh si bawahannya, hanya untuk mengambil istri si bawahan untuk dijadikan selir.

Saya tidak bisa membayangkan jalan pikiran si istri tua. Kenapa dia tidak memilih bercerai dan memelihara anaknya, daripada mengorbankan perasaannya, tetapi mungkin juga ada pertimbangan lain yang jauh lebih penting. Disatu sisi ada ketidakberdayaan dari wanita Indonesia untuk dipaksa menerima hal ini, seperti RA Kartini menerima lamaran Bupati Joyo Adhiningrat, sehingga Pramudya Ananta Toer harus menggambarkan kegeramannya dalam Roman “ Gadis Pantai “ …” Mengerikan bapak,..mengerikan kehidupan priyayi ini..Ah tidak, aku tidak suka pada priyayi. Gedung gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka tanpa perasaan..”demikian si mas nganten melihat si tuan mas Bendoro yang gemar kawin.

Sementara di sisi lain, ada keterpesonaan wanita pada sosok sosok tertentu seorang laki laki sehingga rela jika dimadu. Sebagaimana keterpesonaan Utari, Inggit, Fatmawati, Hartini, Haryati, Ratna Sari Dewi, Yurike Sanger pada Bung Karno. Lalu penyair WS Rendra yang pernah serumah rukun dengan 2 istrinya ( waktu itu ) Sunarti dan Sitoresmi. Angel Lelga dengan Haji Rhoma Irama, si pengusaha restaurant Wong Solo , bahkan sampai istri istrinya si supir produksi film dalam ceritanya Nia Dinata.

Kesimpulannya apakah keterpesonaan, dan kepasrahan diri ini suatu kebodohan ? Yang jelas si ceuceu tetangga saya menjadi bertambah bingung karena puteri sulungnya yang baru lulus SMA memaksa untuk masuk ke sekolah film di IKJ ( “..mau jadi kayak om Iman, katanya …” ). Padahal bayangan si ceuceu, orang film doyan kawin cerai, sementara ulama panutannya baru saja mengambil istri muda. Saya hanya berharap mudah mudahan ceuceu masih mau mengirimkan saya kaset kaset ceramah agama lagi. Isinya memang menyejukkan, sungguh !.

TOGEAN

( sebuah sisi di teluk Tomini, Sulawesi )

Perjalanan ini memang terasa sangat melelahkan, bayangkan dari kota Gorontalo, saya harus menempuh 4 jam perjalanan darat, melalui gunung gunung serta menyusuri tepi teluk Tomini untuk mencapai desa pelabuhan Marisa. Wajah wajah penduduk desa nelayan itu, kelihatan tak peduli dengan kehadiran manusia manusia seperti kami yang membawa tas ransel, koper kamera besar besar. Beberapa anak anak kecil berteriak teriak dan sambil berenang di sisi sampan kecil yang membawa kami menuju perahu nelayan dengan tenaga mesin truk diesel menunggu di ujung sana. Ya, saat itu air surut sehingga perahu itu tidak bisa merapat di tepi pantai . Dari sini kami masih harus menempuh perjalanan menyeberangi teluk Tomini, menuju kepulauan Toegan selama kurang lebih 6 jam. Jadi total adalah sepuluh jam perjalanan menuju pulau kadiri sebagai salah satu bagian dari kepulauan Togean, Sulwesi Tengah.

Kalau ada yang pernah melihat film ‘ The Beach “ yang dibintangi Leonardo di Caprio pasti tak asing dengan landscape serta kontur alam di pulau Kadiri. Ya, film itu dibesut di Thailand. Hanya saja togean merupakan sebuah titik di teluk Tomini, Sulawesi yang jauh dan terabaikan. Pasir putih lembut, batu batu karang mencuat diantara perairan teluk yang tenang, serta sunset yang menyejukan mata dan hati. Luar biasa ! Jadi teringat MAW Brouwer, seorang budayawan dan penulis kelahiran Belanda , saking jatuh cintanya dengan tanah pasundan pernah menulis di awal tahun 70an, “ Tuhan pasti sambil tersenyum ketika ia menciptakan tanah priangan “. Saya berani bertaruh ia pasti akan menarik kembali kata katanya jika melihat keindahan alam yang ditawarkan di togean. Apalagi kalau ia tahu betapa baunya kota Bandung dengan sampah menumpuk, serta semrawutnya kawasan puncak dengan banner banner spanduk, kaki lima dan kemacetan.

Menarik, persis seperti film The Beach, saya menemukan orang orang bule yang dari antah berantah datang menuju pulau ini. Ada yang menempuh 22 jam perjalanan dari kota kota kecil di Sulawesi Tengah, naik bus antar kota lalu dilanjutkan dengan perahu perahu kecil Mereka tinggal semaunya dan hidup menikmati alam di kepulauan ini. Ada yang berpacaran dengan local guide setempat, ada yang yang tak peduli dengan bangun siang dan bermalas malasan seharian. Nelayan nelayan setempat datang menawarkan ikan segar dan kepiting sebesar butir kelapa dengan harga murah. Tiba tiba saja saya tersadar betapa indahnya alam Indonesia ini. Mata saya tak berani beranjak dari viewfinder kamera, untuk menelanjangi keindahan yang tak bisa saya lihat di tanah jawa . Sebuah sisi dunia lain, yang tak tahu sampai kapan mampu bertahan.

FILM & HAMBATAN BIROKRASI

Film James Bond terbaru “ Casino Royale “ baru saja beredar , dengan pendekatan yang berbeda dengan film film bond sebelumnya. Karakter Daniel Craig si pemeran baru 007, berwajah keras, berdarah dingin dan gemar berkelahi ala Jet Li. Lain dengan Pierce Brosnan yang flamboyant dan cenderung ‘ bermain ‘ halus, dan banyak mengandalkan teknologi pemberian M. Mungkin film James Bond, adalah salah satu jenis film yang pasti laku dan ditonton. Orang menonton karena ‘ heritage ‘ warisan nama 007 yang sudah melegenda dari jaman dahulu. Ceritanya ya begitu begitu saja, tapi yang lebih penting siapa pemerannya, siapa gadis bondnya, siapa tokoh penjahatnya dan satu hal, di negara mana film ini dibuat. Karena salah satu daya tarik film ini adalah lokasi lokasi di belahan dunia yang menjadi backdrop lokasi.

Saya jadi teringat kira kira tahun 1996, waktu itu saya sering berhubungan dengan Nigel Goldsack, seorang produser film asal London yang sering melakukan shooting dokumenter dan corporate di Indonesia. Kebetulan ia sangat terkesan dengan alam geografi negeri ini, sehingga ia merekomendasikan kepada EON Productions, perusahaan yang memproduksi film film Bond, untuk memakai Indonesia sebagai salah satu tempat lokasi buat pembuatan film James Bond , kalau tidak salah “ Tomorrow Never Dies “. Akhir kata ia dan Michael Wilson, si executive produser datang ke Indonesia, dan meminta saya dan Lance ( sekarang sutradara film layar lebar ) untuk menemani melakukan ‘ recce’ atau location scout berminggu minggu di seluruh penjuru Indonesia. Dari Krakatau, Jawa, Bali sampai Toraja semua area dijelajahi dan sudah diplot untuk sesuai dengan skenarionya. Misalnya kapal perang Kerajaan Inggris akan bersandar di selat sunda dengan background Gunung Krakatau, lalu situasi sarang penjahat si raja Media di bawah Pura Besakih ,Candi candi sekitar Jawa Tengah atau gunung gunung di Tanah Toraja. Wisma BNI akan dijadikan head office imperium bisnis si penjahat. Bahkan adegan James Bond meluncur dengan sebuah banner raksasa dirancang dari puncak gedung ini. Kejar kejaran ( Bond dengan mobil BMW ) akan dilakukan di daerah pecinan kota tua Glodok dan sekitarnya. Pertemuan dengan Mabes TNI dilakukan untuk menjajaki peminjaman ( baca : menyewa ) salah satu kapal fregatnya atau pesawat tempur HS Hawk untuk di cat ulang menjadi warna identitas Kerajaan Inggris. Juga bertemu para pejabat, terutama Gubernur dan Departemen Pariwisata untuk mendapat dukungan pembuatan film di Indonesia.

Yang menyedihkan, bahwa aparat dan pihak berwenang ( baca : Pemerintah ) sama sekali tidak tertarik atau memberikan dukungan yang nyata, malah terkesan ogah ogahan dan tak peduli. Mereka sama sekali tidak membayangkan impact yang di dapat Indonesia, jika produksi di lakukan di Indonesia, terutama dari segi promosi pariwisata, disamping pemasukan devisa sebesar 70 juta US ( sebagaimana yang dikatakan Michael Wilson waktu itu ) untuk biaya produksi, pembuatan infrastruktur set konstruksi, akomodasi, pekerja film / crew di Indonesia, perijinan dsb. Bahkan saya selalu mengingat apa yang diucapkan Dirjen Pariwisata waktu itu,Bp Mapasameng sewaktu menerima kita, “ I don’t like James Bond movies…ceritanya tidak masuk akal bla bla bla.. “. Tentu saja saya tercengang dan tidak percaya ucapan itu bisa keluar dari mulut seorang pejabat teras yang seharusnya berbasa basi, serta menjanjikan kemudahan prosedur perijinan di sini. Walhasil EON Productions akhirnya memilih Thailand sebagai lokasi produksi mereka, dan hilang sudah kesempatan nama saya berada dalam credit title produksi film James Bond. Jadi memang film dan birokrasi agak susah untuk bisa seiring sejalan di negeri ini.

SISI LAIN SEBUAH PERSEPSI

Cerpen Umar Kayam yang berjudul “ Musim Gugur di Connecticut “ adalah salah satu cerpen yang saya sukai. Sebagaimana karya karya Umar Kayam lainnya yang mengambil setting era G 30 S PKI, cerita ini menyentuh sisi hati kita yang paling dalam tentang arti sebuah tragedi kemanusiaan. Ada yang menarik bahwa sepanjang cerita, secara tidak langsung ia membentangkan sebuah situasi melalui persepsi Tono, si tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat yang menjadi ‘onderbouw’ organisasi PKI. Persepsi mengenai realisme sosialisme yang ia bela, dan juga persepsi dia akan cintanya terhadap istrinya yang sedang hamil. Gambaran yang ada juga membentuk persepsi pembaca bahwa rezim militer sangat kejam dan betapa teraniayanya mereka mereka yang kalah. Betapa mengharukan penyerahan diri si tokoh ketika di jemput tentara di rumahnya, saat ia sedang berkumpul dengan istrinya. Padahal kita belum tentu tahu gambaran situasi yang sesungguhnya terjadi dalam masa prahara itu. Pada akhirnya Tono mempersepsikan kebun karet tempat ia akan dieksekusi sebagai deretan pohon pohon maple di musim gugur di Connecticut. Sendiri, dingin dan tak berdaya di sapu angin.

Persepsi dari pikiran kita kadang dapat membelokan sebuah fakta menjadi ketidakpercayaan dan ketidakberdayaan. Gara gara video klip Kris Dayanti yang saya garap cukup kondang tahun 1998, saya diminta seorang creative director untuk mengerjakan sebuah produk kosmetik. Waktu itu saya masih menjadi pemula, yang belum pernah mengerjakan ‘thematic tvc “, jadi masuk akal agak grogi. Beruntung PH yang menghire saya, sangat support terhadap pekerjaan ini. Director of Photography atau kameramennya didatangkan dari Bangkok, lalu pengerjaan paska produksi juga dilakukan disana. Sehingga pada akhirnya kalau ‘ look ‘ hampir menyerupai gaya gaya iklan iklan Bangkok memang tidak salah. Namun ketika tayang di sini, ada saja orang yang tidak percaya kalau iklan itu hasil karya sutradara lokal. Menyedihkan sebuah persepsi telah mengalahkan realita.

Sementara di bidang kehidupan yang lain, orang film juga sering dipersepsikan sebagai seniman, free lance yang hidupnya nomaden. Apalagi kalau urusan kredit dengan Perbankan. Dian Bahtiar, seorang sutradara iklan yang saleh, rajin sholat , berzikir memuliakan asma Allah ( jadi siapa bilang orang film itu sekuler dan rusak moralnya) dan Rei Supriadi, kameramen film layar lebar ‘ Eifel Im in Love ‘ dan ‘ Apa artinya Cinta “ pernah mengalami hal ini. Mereka berdua datang ke sebuah bank untuk mengajukan permohonan kredit pemilikan rumah. Masing masing diterima oleh customer service yang berbeda meja. Segala kelayakan administrasi seperti rekening koran dan tabungan tidak bisa meloloskan untuk mendapatkan sebuah KPR. Alasannya karena ya orang film, freelancer yang tidak punya kantor yang menanggungnya. Disamping itu mungkin kesan penampilannya, rambut agak gondrong berantakan, memakai anting dan bercelana kargo tiga perempat, sehingga costumer servicenya agak ragu ragu menilai sosok yang duduk terpekur putus asa di depannya. Persepsi customer service ini yang akhirnya menolak permohonan kredit teman teman saya. Akhirnya dengan hati masgul mereka berdua meninggalkan gedung bank itu, sambil masing masing mengendarai mobil Jaguar seri XJ dan BMW seri 5.

KORUPSI DI DUNIA FILM IKLAN


( Hubungan PH dan Biro Iklan )

Minggu lalu seharian bersama Arswendo Atmowiloto menjadi juri buat Iklan iklan layanan masyarakat yang diselenggarakan KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Benar benar miris setelah berbicara dengan teman teman di KPK mengenai tingkat korupsi di Indonesia. Betapa menyedihkan kalau bangsa ini termasuk dalam sepuluh besar bangsa yang tingkat korupsinya terbesar di dunia, bersama Myanmar serta negara negara Afrika seperti Nigeria, Burgundi. Ada yang bilang, ah itu khan biasanya terjadi di departemen , proyek proyek pemerintah atau Bapenas. Jangan salah, justru di kalangan dunia advertising, korupsi ini terjadi dengan bentuk bentuk kolusi antara PH dan biro iklan. Saya berani bertaruh setidaknya lebih dari separuh dari PH PH yang ada di Jakarta melakukan praktek praktek KKN termasuk didalamnya uang sogokan dan under table money demi untuk mendapatkan job. Hal ini memang issue yang sensitive dan sudah sekian lama dibiarkan menjadi pola pola kerja sama yang lama kelamaan akan menghancurkan industri ini sendiri. Pada awalnya saya menduga, bahwa praktek ini dimulai dengan kesalahkaprahan PH PH ketika menempatkan dirinya sebagai supplier dan bukan sebagai partner dalam produksi..

Dimulai dari keinginan PH untuk membina hubungan yang langgeng dengan suatu biro iklan atau orang orang kunci di dalamnya, baik dalam bentuk services makan, entertainment atau uang perdiems sewaktu melakukan post di luar negeri. Saya pribadi melihat ini masih dalam bentuk koridor yang wajar wajar saja, toh memang hal hal ini bisa dilakukan sepanjang dengan kemampuan PH dan tidak ada paksaan. Saya atau teman teman produser dari PH sering clubbing bersama teman teman biro iklan, dan kami menikmati saat saat ini bersama sebagai bagian dari sosialisasi pertemanan, Sebagai sutradara juga kadang saya di jamu makan ke luar oleh post production sebagai bagian dari proses pemasaran mereka. Bahkan pernah dibayari dan ditanggung akomodasi bersama para sutradara lain untuk menghadiri Pameran Broadcast Asia di Singapore. Yang penting saya tidak pernah meminta uang atau bagian dari quotation PH jika saya membawa pekerjaan post ke tempat mereka. Buat di kalangan PH ini diawali dengan service PH yang berlebihan dan terkesan royal. Seorang creative director bule dalam sebuah post di Singapore pernah mengeluh kenapa kamarnya hanya standar sementara produsernya bisa menempati junior suite. Ini membuka peluang peluang yang diawali mungkin dengan pembayaran tagihan telpon, kiriman parcel ( ..eh parcelnya di kirim ke rumah aja ya, jangan ke kantor.,padahal parcelnya buat seluruh team di kantor ), lalu akhirnya yang paling parah berapa persentase yang bisa diberikan pada oknum oknum tersebut.

Inilah yang membuat rusak, kalau sudah ada deal deal sejumlah uang , atau komisi dari nilai quotation sebuah PH kepada agency. Nggak fair ! ini khan pekerjaan seluruh lini departemen dari traffic, client service, producer sampai creative. Lebih baik ngetreat party bareng dengan seluruh team di biro iklan. Ini akhirnya jadi serba salah, kalau tidak ada uang under table ke seorang oknum , job bisa bisa melayang. Mau dibiarkan, rasa rasa hati ini tidak rela, walaupun ini sebenarnya urusan produser, tetapi sebagai sutradara akan lebih bermanfaat jika uang tadi dialokasikan pada tambahan equipment, shooting days sehingga film iklan yang dibuat bisa lebih maksimal. Praktek ini sudah berlangsung lama dan tentu saja tidak ada yang mau melaporkan pada pimpinan biro iklan yang bersangkutan. Ya karena sudah dianggap biasa atau karena takut kehilangan job lagi. Pernah suatu malam saya mendapati seorang produser dari sebuah biro iklan yang pimpinannya adalah teman saya, sedang mengambil sebuah handphone PDA seri terbaru di kantor PH tempat saya bekerja. Goblognya si producer gaptek itu bukannya langsung pulang, tapi malah meminta producer saya mengajari cara pengoperasiannya. Si produser PH hanya cengar cengir kepada saya, ..” biasa man “. Lalu saya pernah ditelpon oleh seorang creative director dari biro iklan nasional, yang menanyakan apakah PH tempat saya pernah memberi uang kepada si produser biro iklan , tentu saja saya bilang tidak ( apakah ini bentuk kesetiaan ? ) walau saya tahu si produser itu gemar meminta bagian dengan alasan tactical fund untuk seluruh team. Akhirnya ada juga PH lain yang berani membuka suara sehingga si produser itu dipecat. Tidak hanya produser, ada juga Account Director yang meminta bagian 5 % dari total nilai job, dengan meminta jangan ditransfer ( mungkin ia takut bukti transfer bisa sebagai barang bukti ). Lalu bagaimana dengan orang kreatifnya, sami mawon. Ada teman kreatif yang meminta bagian dengan memintanya mentransfer ke rekening kakaknya ( mungkin dia tak mempunyai rekening tabungan sendiri ). Saya pernah ditelpon oleh seorang Creative Director, yang mengatakan bahwa akan ada job buat saya . Tentu saja saya berterima kasih. Tak lama kemudian datang sms dari dia,..” minta paket berapa saja buat gue..” tentu saja saya bingung, lho kok bukan produser yang mengurusi hal hal begituan. Mungkin dia malu berbicara dengan produser PH dan merasa lebih dekat dengan saya. Sampai sekarang saya masih menyimpan bukti transfer via ATM BCA itu, tentu bukan untuk dipublikasi, hanya disimpan buat collector items saja. Yang lebih parah kalau praktek ini dilakukan bersama sama secara team . Tidak percaya, ada creative director dan account manager ( atau account director ? ) yang sama sama mengambil uang jatah ke kantor PH. Kontan, masing masing 10 juta, mengantri di bagian keuangan, bersama sama supllier lainnya. Yang paling menyebalkan jika jatah bagian untuk oknum biro iklan itu hampir sama atau bahkan lebih tinggi dari production fee atau keuntungan si PH.

Memang tidak semua orang di biro iklan seperti ini, saya banyak mempunyai teman teman teman di kreatif, produser, dan client service yang memiliki integritas tinggi, jujur dan production result oriented. Namun gejala ini setidaknya menjadi pemikiran saya, betapa korupsi sudah berakar urat di segala system pekerjaan di Indonesia. Walau saya merasa seperti Don Qixot, saya juga bukan sok menjadi pahlawan dengan mengangkat topik ini, pasti ada yang terusik dan mungkin marah marah dalam hati. Bahkan kapok memberi saya job. Saya memang sudah mempertimbangkan semuanya, dan akhirnya dapat memahami apa yang pernah dialami Soe Hoe Gie, ketika ia merasa sendiri dan terasing dengan keterusterangannya.