Bahtiar Siagian, salah satu bapak perfilman Indonesia, disamping Usmar Ismail, pasti tak akan habis habisnya menyesali di alam kubur, karena seluruh jejak jejak karyanya sudah dimusnahkan oleh Pemerintah orde baru. Sungguh menyedihkan, bahwa kita tidak lagi memiliki dokumentasi perfilman era orde lama, terutama sutradara sutradara yang dicap penganut paham komunis seperti Bahtiar Siagian. Itulah sebabnya film tak pernah lepas dari kepentingan berbagai pihak, terutama pihak yang berkuasa ( baca : pemerintah ). Sampai ketika orde baru rontok, masih ada pertanyaan apakah Pemerintah masih berkepentingan untuk mengatur perfilman ini. Termasuk penyelenggaraan Festival Film Indonesia yang telah digelar sejak tahun 1973. Khrisna Sen dalam bukunya “ Indonesia Cinema – Framing new order “, mengatakan FFI adalah bagian dari proses pengawasan dan pengarahan film nasional selain badan badan film yang dibentuknya. Sampai akhirnya Jum’at kemarin, saya mendapat sms dari Joko Anwar untuk datang ke pertemuan pekerja film untuk berkumpul di bilangan kemang. Topik utama dalam pertemuan ini adalah membahas langkah langkah yang perlu disuarakan mengenai penyelenggaraan Festival Film Indonesia, yang baru baru ini menimbulkan sejumlah kontroversi.
Pemilihan Film “ Ekskul “ sebagai film terbaik disamping sutradaranya, Nayato Fio Nuola sebagi sutradara terbaik, menjadi salah satu pemicu kontroversi mengenai standarisasi dan penilaian sebuah Festival Film Indonesia . Banyak kekecewaan disuarakan mengapa filmnya Nia, ‘ Berbagi Suami’ atau filmnya John De Rantau’ Denias ‘ atau film film yang dianggap bermutu bisa kalah dengan film berkualitas seperti ‘ Eskul ‘. Saya sendiri akhirnya tidak menghadiri undangan itu, namun dari teman teman yang hadir saya mendapat kesan pertemuan itu selain menyiapkan rancangan petisi keprihatinan pekerja film, juga secara tidak langsung menjadi pengadilan terhadap karya Nayato.
Memang sutradara ini cukup unik, dia kerap berganti ganti nama dalam menggarap film filmnya, seperti memakai nama Koya Pagayo dalam filmnya ‘ Panggil namaku 3 X’ dan ‘ 12.00 am ‘, lalu ada Chiska Doppert dalam film ‘ Missing ‘, memakai nama Pinkan Utari dalam film ‘ Gotcha ‘. Dia hanya memakai nama aslinya Nayato Fio Nuola dalam film ‘ Soul ‘ dan ‘ Ekskul ‘ sekarang. Apakah ini karena dia tidak PeDe sehingga memakai nama palsu, saya juga tidak tahu. Mau bertanya secara langsung juga tidak bisa karena saya sudah tidak memiliki nomor telponnya. Terakhir bertemu dengan dia mungkin sekitar 6 – 7 tahun lalu ketika ia masih menjadi sutradara iklan.

Terlepas dari kualitas filmnya yang dianggap biasa biasa saja, saya mengharapkan bahwa ini bukan kampanye secara sistematis terhadap jenis film lain, seperti ketika golongan realisme sosialis menggayang film film manikebu ‘ dari seni untuk seni ‘ jaman orde lama.. Saya lebih melihat bagaimana sistem dan prosedur penjurian ini dilakukan. Pola yang ada sekarang dimana dewan juri yang dipilih sangat rentan terhadap penyelewangan dan bentuk intervensi dari pihak luar, bukan saja Pemerintah tapi mungkin para pebisnis yang sangat berkepentingan terhadap industri ini. Saya sama sekali tidak meragukan integritas anggota dewan juri Rima Melati, Noorca M Massardi, Chaerul Umam, Eddy D Iskandar, Embi C Noer, Remy Silado dan WS Rendra dalam kompetensi bidangnya masing masing. Namun apakah mereka memiliki ‘ mata ‘ yang cukup up to date untuk mengikuti trend pergaulan , budaya, teknologi, serta memiliki pemahaman mengenai bagaimana menilai film yang baik dan buruk. Lihat saja, ada beberapa musik dalam film “ Ekskul ‘ yang jelas jelas menjiplak plak ketiplek soundtrack film Gladiator karya Hans Zimmerman. Ini memang kebodohan dewan juri mengapa sampai kecolongan ? atau memang tidak ada yang tahu siapa music composer kondang itu ? terutama Embi C Noer sebagai wakil dari musisi ( terakhir ia membuat musik filmnya ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘). Mudah mudahan Yato, demikian nama panggilannya kelak mau menjelaskan pertanggungjawaban etika penciptaan karya film. Kalau melihat contoh bagaimana Academy Oscar Award dilakukan, yang mana penjurian dilakukan oleh Academy of Motion Picture Art & Science sebuah lembaga non profit yang sangat independen dan memiliki integritas tinggi. Lembaga ini memiliki anggota sekitar 6500 orang yang mewakili 14 cabang interest – actor, animator and short film makers, art director and costume designers, cinematographers, composer and song writers, documentary film makers, directors,executive, producers, film editors, public relations specialist, sound technicians, visual effects expert and writer. Untuk tahap pertama, anggota harus memilih calon yang bidangnya sama, seperti misalnya sutradara yang anggota AMPAS hanya memilih sutradara. Kemudian setelah masuk nominasi baru seluruh 6500 anggota memilih calon calon pilihannya. Seluruh proses ini diawasi dan dilaksanakan melalui PriceWaterhouse & Cooper sebuah lembaga audit independen, dan sampai amplop itu dibuka di depan panggung, hanya dua orang partner PriceWaterhouse & Cooper yang tahu siapa pemenangnya.
Anggap saja dewan juri FFI telah melakukan tugas dengan sebaik baik dengan segala pertimbangan dan standarisasi yang dipakai. Bagaimana jika betul film film tipe horror, remaja, cinta anak sekolah ternyata memang menjadi potret film nasional kita ? Jumlah penonton kita justru menunjukan banyaknya angka penggemar jenis film film tersebut. Apakah kita harus malu dan tetap bersikeras bahwa potret film Indonesia yang sesungguhnya yang berkelas film film festival luar negeri dan penuh philosphy. Lihat India saja tidak pernah merasa rendah diri dengan gaya film menari, dan menyanyi diantara tiang tiang dan tetap memproduksi jumlah film yang terbanyak di dunia. Akhirnya ini memang potret masyarakat kita yang sakit, lebih percaya pada dukun dan tahayul sehingga suka film horror. Masyarakat yang terbiasa dengan poligami, tentang mimpi mimpi kota besar, sehingga film cinta memble lebih digemari, daripada film yang berseting di hutan Papua. Namun bagaimanapun juga kita mesti setuju bahwa film harus memberi kesaksian atas cermin peradaban suatu budaya, sekalipun betapa buruknya peradaban itu. WS Rendra tentu masih ingat sajaknya berjudul Kesaksian ( Aku mendengar suara, jerit hewan terluka/ Ada orang memanah rembulan / ada anak burung terjatuh dari sarangnya/ orang orang harus dibangunkan / kesaksian harus diberikan / Agar kehidupan bisa terjaga ).
Selamat Tahun baru 2007 !