All Posts By

iman

ANTARA EKSPETASI DAN REALITA

Neil French, worldwide creative director dari Ogilvy & Mather pernah menerangkan apa yang disebut 3 langkah ke surga ( Three Steps to Heaven )….” I always say that advertising is a bit like trying to get laid in singles’s bar. You wake up one evening after your little nap for the day, and you need to gou out. First you’ve got to be noticed. Secondly, you’ve got to get their interest. And thirdly, you might get laid. So get noticed, get their interest, Get laid. Now you can’t get to number two without getting past number one, and you certainly can’t get to number three without getting past number two…”
Saya melihat getting noticed adalah elemen utama, begitu anda melalui langkah ini, dengan mudahnya anda akan mendapatkan getting interested, bahkan getting laid. Neill French lebih lanjut mengkhawatirkan bahwa mencoba membuat getting noticed akan berakibat banyaknya kepentingan yang harus diakomodasi,..” ..as they usuallya are, with far too many bits and pieces thet they want to put in.

Getting noticed adalah prioritas utama dalam membuat iklan Televisi Telkomsel Corporate dengan durasi 60 seconds. Ini yang mau diambil oleh teman teman creative muda dari Biro Iklan yang menghire saya. Namun memang tidak semudah itu dalam perjalanannya, Art director menjadi tidak begitu percaya diri, dengan begitu banyaknya references yang terus bertambah dari hari ke hari mulai dari looks, cutting, colors, typography, effects sampai technique yang mau di capai. Sementara copy writer yang mungkin merasa cukup mempunyai wawasan tentang dunia film karena sering menonton bioskop, banyak berbicara tentang soul of the filming, characters serta menginginkan jalan cerita yang story telling tetapi tidak ingin adanya ‘ cut ‘ antara transisi scene. Padahal antara ‘ storty telling ad ‘ dengan ‘ no cut ala gaya motion control approach ‘adalah suatu yang berbeda. Story telling membutuhkan cutaways untuk menambal emosi cerita atau karakter, sementara dalam gaya transisi tanpa cut lebih masuk ke ranah teknik sinematografi yang tentu saja intensitas karakter dan emosi menjadi tidak dalam. But you cant have it all !.

Semua persis yang dirasakan Neill French dalam pengalamannya,..” They also sent me example of everyone else’ s ads in the market, as well as their own reel, and that was very drepressing. All their ads, with which they’re extremely pleased, look absolutely identical to everyone else’s. And the reason they’re so pleased with them is because they’ve got everything in them that they think ought to be in them. They’ve completely forgotten that the consumers is going to ignore them, or be confused…”. Pada tahun 1996, sewaktu masih menjadi produser di Katena Films, saya pernah bekerja membuat iklan permen Coffe Club, dengan salah satu pimpinan biro iklan ini yang sekarang tidak mengurusi kreatif lagi. Tentu saja pengalaman yang berbeda, karena belum jamannya internet, DVD dan masih sedikit sumber referensi , membuat pekerja kreative menitikberatkan konsep cerita, dan tentu saja bisa menjadi lebih focus karena tidak bias dengan hal hal lain. Ini tentu tidak bisa disalahkan karena dengan perkembangan jaman sekarang, para manusia creative agency bisa mengakses dengan mudahnya referensi iklan, film, fashion, gaya hidup, yang disatu pihak bisa memberikan pencerahan tetapi disisi lain membuat bingung sendiri, yang ujung ujungnya menjadi nggak PeDe, pendekatan mana yang mau diambil dalam sebuah iklan. Pengaruh ini pula membuat ekspetasi iklan yang akan digarapnya menjadi meluas melewati batas budgeting yang di alokasikan klien. Cilakanya, produser agency juga tidak mempunyai gambaran mengenai proses produksi film serta pemahaman budgeting produksi yang ideal.

Tidak saja itu, koordinasi yang berantakan dalam pemilihan lokasi, membuat saat eksekusi terutama di airport membuat mimpi buruk bagi saya. Bahkan ( mungkin karena masalah budgeting juga ) scene di gunung semula direncanakan hanya menggunakan format 16 mm, sementara scene lainnya tetap memakai format 35mm, komposisi against blue screen dengan background pegunungan dari stock footage. Terus terang pikiran saja menjadi blur nggak keruan memikirkan bagaimana menyatukan semua itu. Akhirnya dengan perdebatan dan perjuangan keras, saya bisa memaksakan untuk mengembalikan ke format 35 mm dan syuting di lokasi asli di puncak gunung Tangkuban Perahu. Walau dengan konsekuensi saya menanggung bahan baku film dari kocek sendiri. Ditambah sewaktu syuting di gunung, tidak seorangpun wakil dari production house entah producer atau unit manager yang datang menemani.

Sementara si produser pelaksana, mempunyai problem dalam mengawasi jalannya produksi, kadang kadang ia terlihat menyendiri dan berbicara berbisik bisik di telpon. Sepertinya ia mempunyai masalah personal yang cukup berat sehingga tidak bisa berkonsentrasi penuh. Secara tidak sengaja saya melihat foto bayi di screen saver handphone, dan sambil tertawa ia menjelaskan bahwa ini bayinya. Saya tidak mau berpikir aneh aneh walau saya tahu dia tidak bersuami, toh jaman ini dengan alasan kepraktisan, sudah banyak wanita karier yang memilih menjadi single parent. Namun pada akhirnya, film iklan ini juga selesai juga, dan saya merasa puas dengan hasilnya. Saya sendiri tidak berani menduga duga apakah agency ini merasa iklan ini cukup terdelivery dengan baik atau malahan buruk. Tapi justru sejak itu saya banyak mendapat telpon dari teman creative dari biro iklan lain yang mengatakan bahwa iklan tersebut sangat baik eksekusi maupun konsepnya. Cocok menggambarkan jiwa pioneer dan pencapaian teknologi tinggi perusahaan sekaliber Telkomsel. Yang jelas, saya banyak mendapat order pembuatan iklan lagi.

Suatu hari ketika saya sedang memilah milah story board yang akan saya kerjakan, tiba tiba mata tertumbu pada sebuah berita infotainment di TV. Ternyata si produser pelaksana saya sedang menggelar konperensi pers, mengatakan bahwa ia sudah mempunyai anak dan menuntut pengakuan penuh dari bapaknya, seorang sutradara film layar lebar ternama yang banyak mendapat penghargaan di festival festival film.
Oalah Gusti !!!

KALAU SUTRADARA PUNYA BLOG

I think that if you have a talent for acting, it is the talent for listening,,,Morgan Freeman.

Hari hari pertama punya blog memang agak excited, walau disana sini agak bingung bagaimana harus memulainya, disamping buru buru ingin punya disain template secanggih Enda Nasution. Walhasil, untuk beberapa hari ini terpaksa saya harus menunda beberapa kerjaan, termasuk untuk me re-write tulisan untuk scenario film saya mendatang. Padahal saya sudah janji kepada partner saya di kantor, Paquita Wijaya dan Lance untuk hari Jum’at ini akan menyerahkan draft revisinya.

Mumpung weekend ini Paquita harus menemani Nan Achnas, melakukan hunting lokasi di Semarang untuk film “ Photograph “ yang akan dibesut bulan November, jadi semakin lupa dia dengan tugas saya. Sehingga saya bisa punya waktu untuk mengutak atik template, browsing sana sini cari info mengenai apa itu yang namanya web blog, termasuk mengirim pesan di message box nya Tiara Lestari. Mudah mudahan dia masih ingat saya, karena ternyata dia pernah ikut dalam salah satu produksi di kantor saya ( shooting video klip Eric Bennet, mantan suaminya Hale Berry ) hampir dua tahun yang lalu. Lucunya, waktu itu kasusnya belum meledak, jadi tidak ada yang peduli dan terlalu memperhatikan dia. But, she’s talented, really !

Pertama tama saya agak ragu apakah ada yang membaca blog saya, mengingat dari sekian tulisan yang saya posting, hanya ada comment 3 buah saja. Kedua saya bertanya tanya, topik apa yang sekiranya bisa menarik bagi para bloger bloger. Seorang teman meminta saya menulis mengenai gossip ( yang bukan gossip karena memang benar ) di dunia film, mulai dari remah remah selebritis sampai perselingkuhan. Tapi saya sepertinya tidak sreg, kok jadi infotainment ? Bisa bisa saya dimarahi oleh teman teman saya, karena sudah menjadi komitmen tidak tertulis, apa yang saya lihat atau alami (…ehm ) tidak boleh keluar menjadi konsumsi publik. “ Iya, tapi khan lu bisa nulis dengan cara yang tidak terlalu reportase, khan bisa dibuat semacam tulisan artikel yang menyoroti gaya hidup plus nyerempet nyerempet “ desak teman saya sambil terus memaksa. Dan saya hanya tertawa.

Sore itu ketika saya sedang memberi brief kepada story board artist, tiba tiba sms handphone saya berbunyi, ternyata dari salah seorang teman yang juga aktor dan sekaligus model iklan televisi,..” ditunggu di Banana Café , Dharmawangsa Square jam 10 malam “
Rupa rupannya ia dan pacarnya yang juga seorang presenter TV yang cantik dan bintang sinetron, akan mengundang beberapa teman dekat, ya katakanlah inner circle untuk hang out melepas malam di café tersebut. Mereka sudah cukup lama berhubungan ( anehnya tidak pernah tercium oleh para wartawan infotainment ). Ini yang membuat saya bingung, karena belum lama berselang diberitakan di infotainment, si bintang cantik yang sudah bersuami tersebut diberitakan mempunyai hubungan dengan seorang sutradara film layar lebar, sehingga digossipkan hubungan rumah tangganya retak. Yang mana dibantah habis habisan oleh mereka bertiga, si bintang, si suami dan si sutradara layar lebar itu Jadi sebenarnya siapa pacarnya si bintang sinetron itu, si sutradara atau aktor teman saya itu ? Waduh kok saya jadi ngegosip ? sudah sudah…..!!

FILM & ISLAM

Hari ini saya malas berbicara tentang film atau bahkan underwater fotography yang menjadi passion saya. Mungkin saja nuansa bulan Ramadhan membuat saya secara tiba tiba ingin membahas mengenai Islam. Ya, agama yang saya junjung tinggi tetapi juga menyisakan banyak pertanyaan mengenai hakekat Islam itu sendiri, terutama dalam segi peradaban manusia modern.
Dalam buku ‘ Pergolakan Pemikiran Islam ‘ – Catatan Harian Ahmad Wahib’, seorang pemikir Islam yang mati muda karena kecelakaan pada tahun 1973. Ia menulis,
“ Apakah nilai nilai budaya modern itu mendapat support dari ajaran Islam ? atau bahkan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri ? tetapi apakah budaya yang dianggap modern itu sudah siap ? Kemanakah kira kira kemungkinan perubahannya ? Pemahamanku sampai kini tentang pada ajaran Islam menunjukan bahwa budaya budaya modern tidak senafas dengan Islam. Karena Islam itu tidak mensupport apalagi dikatakan merupakan nilai nilai Islam itu sendiri. Kelihatannya dalam ajaran Islam ada unsure penyerahan, unsure puas terhadap Kurnia Allah, unsure nrimo, qisnaah, waro yang karena itu tidak sesuai dengan nilai nilai budaya modern. Tapi mudah mudahan kesimpulan saya salah, karena saya belum terjun pada fondamen yang lebih mendasar dari ajaran ajaran Islam…”
Memang pada masanya, Ahmad Wahib bersama pemikir islam modern lainnya seperti Nurcholis Madjid dianggap kelewatan cara berpikirnya, bahkan ada yang mengganggapnya murtad dan bidah. Beruntung FPI belum lahir pada zaman itu sehingga kantor penerbit LPES tidak diobrak abrik oleh massanya yang beringas.
Walaupun demikian catatan harian yang ditulis hampir 36 tahun yang lalu, masih saja relevan untuk di bicarakan sampai hari ini. Apalagi hiruk pikuk pro kontra RUU Pornografi / Pornoaksi belum saja usai. Mungkin saja Ahmad Wahib tak akan pernah menduga bahwa, musik Islam yang dahulu identik dengan irama gambus padang pasir, sekarang bisa saja metamorfosa dalam bentuk aliran rock ala grup musik GIGI atau pop kreatif dengan orchestra seperti OPICK.

Saya selalu bertanya tanya bagaimana Islam bisa menerima budaya pop art, fashion, trend serta pergaulan modern ( bukan pergaulan bebas ) orang orang film. Wah ternyata mau tidak mau saya harus balik ke film lagi !. Saya juga berpikir apakah saya nanti benar benar bisa dituntut ke pengadilan, karena membuat iklan minuman energi Kuku Bima, dengan Miss Energy yang memakai kostum ketat dan sexy. Atau bagaimana saya merefleksikan sebuah kehidupan anak muda saat ini dalam film layar lebar saya ( someday ), tanpa harus memperlihatkan tank top, celana jeans yang robek di pantat, atau gaun backless. Disini saya tidak bicara berciuman apalagi adegan sex. Mungkin hanya pegangan tangan yang lazim dilakukan anak muda jaman sekarang.

Jika mengutip salah satu tulisan Gunawan Mohammad, …” Ada lagi ketentuan: “Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto, dan/atau lukisan yang mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa”.
Jika ini diterima, saya pastikan kesenian Indonesia akan macet. Para pelukis akan waswas, sastra Indonesia akan kehilangan puisi macam Chairil, Rendra, dan Sutardji serta novel macam Belenggu atau Saman. Koreografi Gusmiati Suid atau Maruti akan terbungkam, dan film kita, yang pernah melahirkan karya Teguh Karya, Arifin C. Noer, Garin Nugroho, sampai dengan Riri Riza dan Rudi Sujarwo akan menciut ketakutan. Juga dunia periklanan, dunia busana, dan media.
Walhasil, silakan memilih: Indonesia yang kita kenal, republik dengan keragaman tak terduga-duga, atau sebuah negeri baru, hasil “RUU Porno”, yang mirip gurun pasir: kering dan monoton, kering dari kreativitas. “

Akhirnya semua pertanyaan yang menggelisahkan saya, tak akan begitu saja mendapat jawaban. Jika selama ini dikatakan sumber Islam adalah Qur’an, Sunnah dan Akal ( ijtihad ), mungkinkah akal manusia bisa mendeskripsikan budaya modern sehingga bisa beriringan dengan prinsip prinsip Islam ? Tentu saja pensiun dari dunia film bukan merupakan jawaban yang memuaskan. Tentu saja tidak.

BANDA NAIRA


MENYELAM DI BANDA NEIRA SAMBIL MENYUSURI KEMEGAHAN KOLONIAL ABAD PERTENGAHAN
( Artikel dimuat di majalah PLAYBOY Indonesia, edisi September 2006 )

Akhirnya balasan yang saya tunggu tiba juga, sebuah surat beramplop coklat yang dikirim oleh Des Alwi sendiri. Agak geli juga saya menerima surat itu,betapa tidak di jaman modern yang serba praktis dimana orang bisa berkomunikasi melalui facsimile atau internet, ia masih saja menggunakan jasa kantor pos untuk menyampaikan jawaban atas keinginan saya berkunjung ke Banda Neira. Sudah sejak lama saya ingin berpetualang di kepulauan eksotik yang pernah didatangi para selebritis dunia seperti Princess of York, Sarah Ferguson sampai Mick Jagger. Rupanya tidak begitu mudah mengatur perjalanan ke Banda, penerbangan dari Ambon hanya dilakukan seminggu sekali dengan pesawat perintis, sementara jadwal kapal Pelni tidak menentu, bisa setiap sepuluh hari atau dua minggu sekali. Pilihan menggunakan pesawat Merpati dari Ambon juga hampir mustahil, mengingat kapasitas penumpang yang hanya 20 orang dengan beban bagasi terbatas, tak mungkin menerima rombongan kami yang walau berjumlah delapan orang, namun masing masing bisa membawa lebih dari 30 kilogram bagasi. Terutama berisi peralatan menyelam serta perlengkapan kamera video dan photography. Yang melegakan dalam surat itu Des Alwi menyanggupi untuk menyediakan sebuah perahu boat yang akan dicharter untuk membawa kami dari pulau Ambon menuju Banda Neira..

Setelah menempuh penerbangan malam hari dari Jakarta, kami tiba di Ambon pukul 7 pagi dengan perasaan tak sabar untuk bergegas menuju pelabuhan Tuluhatu di teluk Ambon, tempat kapal boat kami bersandar. Memasuki pelabuhan, hati kami semakin berbunga bunga ketika dari kejauhan, terlihat sebuah kapal pesiar besar. Andrias, kawan saya berkata, “ Wah, hebat juga sambutannya, sebuah kapal mewah buat kita “. Ternyata dugaan kami salah, sebuah perahu kayu boat kecil berukuran 2 x 8 meter tepat disebelah kapal pesiar besar itu, yang akan membawa kami menuju ke pulau Banda ! Hati saya agak ciut membayangkan betapa kecilnya benda ini di tengah laut lepas. Apalagi kami akan menyebrangi laut Banda yang terkenal dalam dengan palung palungnya. Namun melihat Nus, Dive guide kami dari Maluku Divers serta wajah kapten dan anak buah kapal yang tak sedikitpun menyiratkan kekuatiran, membuat kami cukup percaya diri. Bagaimanapun juga ‘ the show must go on ‘, apalagi dalam surat penjelasan Des Alwi mengatakan bahwa bulan bulan baik mengunjungi pulau Banda adalah bulan April – May atau September sampai November, dimana cuaca bersahabat dan laut sangat tenang. Di luar bulan bulan tersebut, musim barat membuat laut Banda menjadi sangat berbahaya untuk diarungi dengan kapal kapal kecil, dan tentu saja ini sudah menjadi pertimbangan mereka dalam mengundang kami di bulan April ini.

Perlahan kapal dengan 2 mesin tempel yang masing masing berkekuatan 115 PK mulai mengarungi laut lepas. Kapal ini terasa sangat sempit dengan jumlah rombongan kami dan barang barang muatan, termasuk tabung tabung penyelaman yang dibawa dari Ambon. Benar saja, laut sangat flat dan tenang membuat kami tak begitu merasakan guncangan gelombang. Setelah diselingi makan siang, beberapa teman mencoba mengurangi kebosanan dengan membaca atau mendengarkan musik Ipod, sementara saya tak terasa jatuh tertidur. Beberapa kali saya terbangun dan tertidur kembali, namun kita masih saja berada di lautan lepas tanpa ada tanda tanda untuk sampai di tujuan. Beberapa teman mulai gelisah, dan kami sudah mulai bosan bertanya kepada kapten kapal, berapa lama lagi kita akan tiba. Setelah 7 jam mengarungi laut lepas, terlihat mulai ada burung burung berterbangan, dan itu artinya sudah dekat dengan daratan. Ternyata tak berapa lama terlihat dikejauhan sebuah sosok samar daratan. bersamaan dengan mulai terbenamnya matahari di ufuk barat. Tepat jam 9 malam, setelah mengarungi hampir 9 jam perjalanan, kapal boat kami merapat di dermaga Maulana Hotel, Banda Neira, milik Des Alwi. Hampir seluruh staff hotel menyambut kami di tepi dermaga yang berbatasan langsung dengan serambi hotel. Raymond, putera bungsu Des Alwi dengan ramahnya menyapa dan langsung mengajak kami makan malam yang sudah dipersiapkan untuk rombongan kami. Segala kelelahan akibat lamanya perjalanan tadi seketika sirna dengan situasi akrab yang ditimbulkan oleh Raymond beserta staffnya. Namun kami tak bisa berlama lama karena harus beristirahat serta menyiapkan perlengkapan selam dan photography buat besok.

Pukul 6 pagi saya sudah terbangun, dengan suara suara burung di luar. Bergegas saya keluar untuk melihat dengan seksama bangunan hotel ini. Sebuah bangunan lama bertingkat sederhana model spanyol, dengan sebuah pohon kenari raksasa di depan serambi hotel, tepat menghadap laguna teluk Banda dan diseberangnya berdiri kokoh sebuah gunung berapi setinggi 1000 meter, yang disebut Gunung Api. Jarak dari teras hotel menuju tepi dermaga laguna hanya sekitar 6 meter, dan saya melihat air laut sebening kaca memantulkan refleksi violet, biru dan magenta dari langit pagi ini Sementara di bibir puncak gunung , masih tampak terlihat bongkahan batu dan tanah tanah hitam sisa sisa erupsi beberapa tahun lalu. Benar benar sebuah pemandangan yang indah dan fantastis ! Dikemudian hari , Des Alwi menjelaskan bahwa karena posisi letak hotel yang tak ada duanya di dunia, tepat di depan laguna dan gunung berapi, membuat Hotel Maulana pernah dikategorikan sebagai salah satu dari 50 hotel terbaik di dunia. Sesekali melintas nelayan dengan perahu kecilnya sambil melambaikan tangannya kepada saya di tepi dermaga. Begitu damainya disini, dan tiba tiba saya sadar bahwa begitu kayanya alam negeri Indonesia ini.

Hotel Maulana terletak di Naira, di pulau Banda kecil yang pernah menjadi incaran pedagang seluruh dunia abad pertengahan. Kilas balik sejarah menjelaskan ketika armada, conquistador Alfonso de Alburqueque dari Portugis menaklukan Malaka tahun 1511 yang menjadi pusat perdagangan rempah rempah dunia. Ia sudah mempersiapkan ekspedisi besar ke Maluku dan Banda Neira, sebagai pusat produsen rempah rempah dunia. Dengan bantuan penunjuk jalan dari Malaka, armada Portugis bisa mencapai Banda Neira pada tahun 1512 – 1514, sampai akhirnya terusir oleh armada VOC. Berjalan jalan di Banda Neira membangkitkan kenangan akan situasi kehidupan kolonial jaman dahulu. Hampir seluruh rumah rumah atau gedung gedung berarsitektur kolonial terawat dengan baik, dan masih dipakai sampai sekarang. Sudut sudut kota, jalanan serta bangunan yang ada tetap merefleksikan kehidupan yang sama ratusan tahun yang lalu. Masjid yang dipakai oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir di masa pembuangan mereka di pulau ini, masih terus dipakai oleh masyarakat sana. Demikian pula gedung atau rumah peninggalan kolonial yang kini dipakai menjadi kantor, sekolahan serta hotel hotel kecil disekitar Banda Neira.

Hari ini kami memulai petualangan penyelaman di salah satu dive spot terbaik di dunia. Kepulauan Banda memang terkenal dengan keindahan hayati alam bawah lautnya serta terumbu karang yang mempesona. Memang, akibat letusan gunung Api telah merusak sebagian sisi terumbu karang Pulau Banda Besar. Namun menurut penilitian dari UNESCO, akibat fenomena ini justru pertumbuhan terumbu karang di tempat ini paling cepat didunia. Jika di tempat lain, terumbu karang bisa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dewasa. Di Pulau Banda Besar hanya membutuhkan waktu tidak sampai sepuluh tahun. Menyelam di kepulauan Banda memang menakjubkan, clear visibility bisa sampai mencapai 40 meter saat itu membuat pemandangan alam bawah laut bisa terlihat dengan jelas. Hampir seluruh area penyelaman di Pulau Banda Besar,Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Hatta dan Pulau Sjarir sampai di dermaga Banda Neira memiliki pesona dan keanekaragaman alam bawah laut yang tak mungkin dilihat di tempat lain di dunia. Mata kami benar benar dimanjakan dengan warna warni terumbu karang dan soft coral yang sehat. Belum lagi dengan ikan ikan yang dengan eloknya berkeliling berdekatan tanpa menghiraukan kehadiran kami. Sesekali sekelompok lumba lumba menemani sambil melompat di sisi kapal boat yang membawa kami menuju titik titik penyelaman di kepulauan Banda.

Perjalanan antara titik penyelaman yang satu sama lain, tidak terlalu jauh dan dapat ditempuh antara 30 menit sampai 1,5 jam dengan kapal boat. Istirahat makan siang biasanya kami mencari pantai pantai kosong yang tersebar diseluruh kepulauan, untuk menyantap hidangan rantangan yang kami bawa dari Hotel. Sungguh terasa nikmat duduk menikmati makan siang diatas pasir putih yang lembut sambil menghadap air laut yang jernih. Sesekali kami meminta awak kapal untuk mengambil buah kelapa muda dari pohon pohon kelapa yang ada di tepi pantai. Dalam penyelaman di sekitar Pulau Hatta, kami menemukan hutan sea fans ( seperti kipas cemara ) raksasa yang terhampar di kedalaman 20 meter. Sambil menyetel kamera dan terus mengabadikan tempat ini, tak terasa saya terbawa arus ke kedalaman sekitar 30 meter, dan hampir saja saya menabrak sebuah jelly fish atau ubur ubur raksasa. Secara refleks saya memutar badan dan mulai menjepret dengan kamera Nikon D 70 saya yang dibungkus oleh housing, sebelum mata saya menangkap obyek di kejauhan. Ternyata iring iringan ratusan school of jack fish yang biasa disebut ikan kuwe, yang bergerak elok dalam satu rombongan menuju kedalaman.

Petualangan kami memang terasa lengkap, karena setelah menyelam kami masih bisa berjalan jalan keliling Banda Neira. Ketika berkunjung ke museum budaya, kita membayangkan betapa pentingnya pulau ini , karena dicari cari oleh seluruh armada laut negara negara Eropa untuk menemukan pusat rempah rempah dunia. Disini kita bisa melihat catatan sejarah yang ada. Barang barang peninggalan VOC, serta yang menarik adalah lukisan lukisan mengenai situasi jaman tersebut. Tepat di tengah ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian 44 orang terpandang dari Banda. Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Fort Nassau. Kemudian di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibantai secara kejam oleh algojo algojo Samurai yang disewa dari Jepang !. Setelah VOC menancapkan kuku monopoli perdagangan, mereka membangun sebuah peradaban baru di Banda Neira yang nantinya akan merupakan blue print pembangunan kota Batavia kelak. Istana Merdeka di Jakarta yang menjadi tempat tinggal Gubernur Jendral Hindia Belanda,mencontoh replika gedung Istana mini yang masih berdiri di Banda Neira. Demikian pula gereja Immanuel di depan stasiun gambir memiliki arsitektur yang sama dengan gereja di sini yang sayangnya telah dirusak oleh massa pengungsi kerusuhan Ambon beberapa waktu yang lalu. Kalau kita memperhatikan sudut sudut kota tua di Jakarta, akan sama juga dengan komposisi sudut bangunan dan jalanan di sana. Saya membayangkan bahwa tempat ini sangat cocok untuk pembuatan syuting syuting film mengenai era kolonial, karena struktur bangunan dan kotanya yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

Kami juga berkunjung ke Benteng VOC, Fort Belgica yang dibangun diatas sebuah bukit, dan bisa ditempuh hanya setengah jam berjalan kaki dari hotel Maulana. Mengagumkan sekali pemilihan letak posisi benteng tersebut, karena dari puncak benteng kita bisa melihat ke arah laut dari segala sisi pulau. Ini memudahkan VOC untuk mengawasi kapal kapal yang keluar masuk Banda pada masa itu. Rumah rumah yang dahulu ditempati Bung Hatta dan Sutan Sjahrir masih terawat dengan baik, berikut dengan barang barang peninggalan mereka. Dari mesin tik yang mereka pakai saat itu, sampai ruangan kelas di belakang rumah, tempat Bung Hatta mengajar terhadap anak anak Banda, yang salah satunya adalah Des Alwi sendiri. Banda Neira memang tak lepas dari sosok Des Alwi, kini berusia 80 tahun, seorang tokoh nasional yang begitu mencintai dan merawat Banda bagaikan anggota keluarganya sendiri. Sosoknya yang dihormati terlihat dari foto fotonya bersama para pemimpin negara, tokoh dunia, negarawan yang terpasang di dinding hotel Maulana. Ketika akhirnya ia datang menyusul kami di sana, ia sangat bersemangat menceritakan semua yang patut diceritakan tentang Banda. Sepanjang malam, setelah makan malam bersama tamu tamu ‘ bule ‘ lainnya, ia menjadi seorang narasumber mengenai sejarah dan budaya Banda. Di sela sela kegiatan kami disana, sesekali terlihat ia menerima wawancara jurnalis TV dari luar negeri.

Tak terasa sudah hampir seminggu kami berada di Banda Neira, menjelajah alam bawah airnya yang mempesona, serta menikmati sisa sisa kehidupan masa silamnya yang eksotis. Selama ini kami benar benar terputus dari dunia luar. Handphone tidak berfungsi disini, dan hubungan telpon TELKOM hanya bisa diperoleh di hotel atau wartel dekat pelabuhan. Saya juga sama sekali tidak melihat adanya pesawat TV di hotel Maulana atau mungkin juga dirumah rumah disekitar pulau. Esok pagi kami akan kembali menuju Pulau Ambon, dengan kapal kecil sama yang membawa kami kesini. Des Alwi menjelaskan, angin laut akan bertiup ke arah Ambon, sehingga perjalanan kembali akan lebih cepat 2 – 3 jam dibanding saat datang menuju Banda Neira. Hari terakhir kami menyeberangi pulau menuju perkebunan pala dan kenari. Perjalanan masuk menembus hutan pala sangat mengasyikan, udara segar dan suara burung kakak tua terdengar di kejauhan. Pemandu kami sesekali menunjukan pohon berusia ratusan tahun, yang menjadi saksi sejarah perdagangan rempah rempah. Sore ini kami kembali menyempatkan menyelam di dermaga hotel, yang dipenuhi oleh ikan ikan Mandarin berwarna corak kemerahan. Sementara anak anak Banda Neira tampak riang gembira berenang dan bermain di tepi dermaga, suatu ritual kehidupan yang dialami juga oleh Des Alwi dan teman temannya semasa kecil puluhan tahun yang lalu.. Celoteh riang mereka terus terngiang ngiang kembali ke telinga saya, diatas pesawat terbang yang membawa kami kembali ke Jakarta. Biarlah Banda tetap menjadi apa adanya, sebagaimana mereka masih bisa bertahan selama ratusan tahun.

PINASTHIKA AWARD = TETAP SEMANGAT

Menjadi ketua APFII memang direpotkan dengan undangan undangan sana sini yang benar benar menyita waktu saya. Bagaimana tidak, berarti saya harus mulai membiasakan diri dengan mengatur waktu disela sela jadwal produksi dan kehidupan sosial lainnya. Tetapi ada hal hal yang ternyata bisa memberikan pencerahan kalau kita melihat cerita saya dibawah ini. Pertama, suatu kali saya diminta datang oleh suatu Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak untuk kemajuan komunitas masyarakat tuna netra. Mereka meminta saya memberikan sebuah ‘ workshop ‘ setengah hari mengenai proses produksi pembuatan sebuah film. Ternyata mereka ingin membuat sebuah video profile yang diproduksi secara swadaya sendiri mengenai Yayasan Mitra Netra, guna kepentingan para donatur donatur mereka. Yang membuat saya takjub,karena saya berbicara didepan pengurus Yayasan yang hampir semuanya penyandang tuna netra. Tetapi ada yang lebih dari itu, bahwa mereka secara bergotong royong akan membuat scenario dan salah seorang dari mereka akan menyutradarai sendiri ! Mungkin hanya kameramen dan editor yang akan dilakukan oleh manusia sehat.

Cerita berikutnya adalah ketika saya diminta menjadi pembicara dan memberikan saran saran terhadap para sutradara muda dalam ajang Pinasthika Award di Jogja. Bayangan saya mengenai sutradara Jakarta yang penuh dengan gaya serta pernak pernik gadget mulai Mac Powerbook, Ipod dan berbagai ‘ tool of presentation ‘ mendadak sirna. Saya melihat sosok sederhana, pemalu, dan agak sedikit tidak pede ketika harus mempresentasikan hasil karyanya. Namun saya menemukan wajah wajah yang jujur, berdedikasi terhadap pekerjaannya serta daya kreatif yang luar biasa. Tanpa harus memperbandingkan kualitas serta medium format yang dipakainya, saya melihat karya mereka yang sangat kuat dan simple.

Dari dua cerita diatas ada yang bisa diambil sebagai pencerahan bagi kehidupan produksi film iklan saat ini, yakni bagaimana memelihara semangat menghasilkan sebuah karya yang baik, baik secara kreatif dan secara komunikasi pemasaran produk atau pesan yang ingin dijual. Kedua kasus diatas bisa menggambarkan bahwa passion dan komitmen dari seluruh elemen pekerja filmnya akan menghasilkan karya yang apik. Ada yang bilang film iklan itu elitis, karenanya selalu didukung oleh infrastruktur dana dan peralatan yang up to date. Sehingga kadang kita terjebak oleh paradigma bahwa sebuah film iklan berarti harus mahal ( termasuk harus melibatkan padat karya tenaga kerja ). Begitu ruang gerak kita dibatasi oleh budgeting yang pas pasan, otak dan daya nalar kita mendadak menjadi buntu. Seorang sutradara bisa kehilangan moodnya ketika diminta mengerjakan sebuah board yang disyuting dengan video., atau seorang kameramen bisa ngambek tidak karuan begitu tahu jumlah lightingman dikurangi. Padahal anak anak Jogja ini,bisa menghasilkan sebuah shoot yang dramatis hanya berbekal sebuah lampu sorot yang biasa digunakan di taman taman, lalu sutradara tuna netra ini bisa membayangkan sebuah adegan dengan rinci hanya dengan menceritakan point point tujuan shootnya.

Lebih dari itu semangat ‘ team work ‘ jelas tergambar dari dua cerita diatas. Ketika diminta menceritakan proses produksinya, si anak anak Jogja ini bisa merangkap setiap lini departemen yang dibutuhkan, tentu saja ini karena budgeting yang terbatas, atau mensiasati sebuah shoot yang sederhana dan simple karena keterbatasan shooting equipment. Memang pada akhirnya kita bisa berkata, bahwa semua itu tergantung dari bagaimana agency board itu tergambar . Kalau klien akan memahami konsekuensi biaya sebuah story board, Client will pay at cost anyway dengan kata lain. Sehingga ujung ujung nya membuat kita malas dalam mencapai puncak kreativitas, lalu semangat dan passion akan selalu dihargai dengan nilai uang.

Sudah saatnya kita membuang jauh jauh stigma yang selalu kita ucapkan ke klien, you pay nuts you get monkey. Saya hanya berharap kelak suatu saat ketika anak anak Jogja itu hijrah ke Jakarta, mereka masih membawa semangat itu. Mudah mudahan

KEBANGGAAN PROFESI

Hani Saputra, teman saya yang sudah lama sekali tak pernah bertemu karena kini sibuk dengan layar lebarnya, seperti ‘ Virgin ‘ dan ‘ Heart ‘, konon dianggap sebagai sutradara kejam di kalangan pekerja film. Saya juga tidak begitu paham mengapa ia mendapat stigma kejam, mungkin karena ia begitu perfeksionis dalam melihat shoot shootnya. Lalu apa hubungannya dengan isi tulisan ini ? Begini ceritanya, beberapa tahun yang lalu saya mendapat tawaran mengerjakan sebuah sinetron FTV yang tentu saja sangat menarik, karena isi ceritanya juga bisa mengurangi kejenuhan mengerjakan iklan iklan melulu. Kemudian saya meminta kepada produser agar setidaknya dapat membawa beberapa crew inti saya yang biasa bekerja sama di iklan, seperti DOP dan art director, sisanya saya tidak berkeberatan dengan kombinasi crew yang biasa di sinetron.

Permasalahannya tidak berhenti disini saja, lama kelamaan dalam proses shooting saya melihat ketimpangan yang sangat jauh dari crew iklan dan crew sinetron. Dari segi kecepatan pergerakan / speed, sampai dari pemahaman estetika gambar, dan yang paling menyebalkan adalah disiplin waktu. Kadang seorang VTR recorder bisa datang jam 10 pagi sementara call time tetap jam 6 pagi, atau seorang 1st assistant director bisa baru datang setelah makan siang, dengan alasan terlalu capai. Rupa rupanya mereka tidak terbiasa dengan cara kerja saya yang sangat cepat, detail dan disiplin dengan breakdown shoot. Mereka merasa sangat tertekan dan mengalami pressure yang sangat tinggi, misalnya untuk pindah dari lokasi satu ke lokasi lain. Walhasil semakin lama mereka semakin kedodoran dan ketinggalan speed. Tak lama kemudian, saya mendengar gossip di kalangan pekerja sinetron,..” Ada seorang sutradara baru sinetron, dia lebih kejam dari Hani Saputra ! “

Dari cerita diatas, tentu saja saya memiliki pembelaan, karena apa yang saya lakukan merupakan refleksi yang biasa dikerjakan dalam sebuah produksi film iklan. Kita terbiasa dengan dead line waktu, pressure yang tinggi, serta kesempurnaan visual sebuah produk jualan dari klien. Crew iklan sudah jamak dengan wrap tengah malam dan sudah berada di lokasi pada jam 6 pagi esok harinya. Tentu saja seorang sutaradara iklan tidak akan menerima begitu saja barang barang props milik pemilik rumah seperti perabotan meja kursi tanpa memperhatikan dengan estetika gambar. Tak heran sinetron sinetron yang ada dari satu seri ke seri lainnya, selalu menampilkan kesan rumah yang sama, dengan perabotan yang sama pula, walaupun itu scene mengenai perkantoran tetapi suasana ambience yang ditangkap tetap saja sebuah rumah.

Lalu apakah itu salah ? tentu saja tidak, kita harus memiliki kebanggaan atas profesi pekerja film iklan yang mana mempunyai standard tinggi dalam pelaksanaan sebuah produksi. Manajemen produksi iklan disatu sisi telah melahirkan kualitas pekerja yang tangguh dan mumpuni. Tak heran jika dahulu sewaktu masih di bekerja di iklan, produser Mira Lesmana juga mengajak teman teman sekolahnya di IKJ seperti Garin Nugroho, Riri Riza, Enison Sinaro dan lain lain untuk belajar mengenai Manajemen produksi dan pemahaman teknologi film di Katena Films. Tak heran , walau jenis pekerjaan film iklan tidak terlalu prestige dibanding film layar lebar atau music clip sekalipun, namun pekerja iklan diakui memiliki standar kualitas yang tinggi. Ini tercermin dari upah kerja yang relatif lebih tinggi diantara pekerja film lainnya. Namun masih banyak dari kita semua yang tidak menghargai kebanggaan profesi yang kita miliki ini, dan merusaknya dengan budaya aji mumpung, tidak disiplin dan korupsi. Saya merasa trenyuh melihat crew yang baru selesai syuting jam 4 pagi, tetapi masih saja mengambil pekerjaan lain yang call timenya jam 6 pagi. Bagaimana ia bisa bekerja dengan segar dan maksimal jika ia sendiri tidak beristirahat tidur yang cukup ? art director yang jarang datang menghadiri pre production, hanya mengirim assistant atau prop masternya mengantar disain gambarnya. Lalu crew datang ke lokasi syuting dengan mengenakan sandal jepit , padahal potensi kecelakaan karena peralatan berat bisa saja terjadi. Juga sutradara atau DOP yang makan minum sambil merokok disekitar area kamera. Bisa dibayangkan jika abu rokok masuk ke dalam gate magazine, tentu akan merugikan sebuah proses produksi secara keseluruhan.

Industri film iklan modern di Indonesi sudah berjalan selama lebih dari 15 tahun, dan muka muka baru mulai bermunculan. Janganlah proses regenerasi ini dirusak dengan memberi contoh racun kepada mereka mereka yang ingin bereksistensi di dunia film iklan. Kebanggaan profesi wajib kita jaga dengan sebaik baiknya dan yang lebih penting adalah bahwa ketrampilan teknis yang tinggi jika tidak dibarengi dengan akhlak dan karakter kepribadian dalam bekerja sama saja akan menjadi bumerang di kemudian hari.

UNDERWATER VIDEOGRAPHY


UNDERWATER VIDEOGRAPHY
( Artikel ini dimuat dalam Majalah Behind The Screen , Edisi September 2006 )

Indonesia sebagai negara kepulauan terluas di dunia memiliki potensi kekayaan dan keindahan alam bawah lautnya, termasuk diantaranya kehidupan terumbu karang dan keanekaragaman hayatinya. Hanya saja, dokumentasi dan film mengenai eksplorasi bawah laut sebagian besar masih dilakukan oleh bangsa asing. Masih sedikitnya apresiasi dari bangsa sendiri, untuk menjadikan laut sebagai sumber ilmu pengetahuan, dokumentasi dan inspirasi melalui media film. Hal ini patut disayangi, mengingat jika National Geographics, di tahun tahun mendatang hanya memfokuskan untuk melakukan eksplorasi di wilayah Afrika, Indonesia dan Papua Nuigini. Ini menunjukkan justru orang asing sendiri yang pada akhirnya memiliki dokumentasi kekayaan alam bawah laut Indonesia.

Pengambilan gambar underwater baik dalam bentuk video atau film, sungguh sangat menarik dan memiliki tantangan tersendiri yang tentu saja berbeda dengan proses pengambilan gambar di darat pada umumnya. Dikatakan menarik karena alam bawah laut memiliki kontur landscape yang sangat menakjubkan dan tidak semua orang bisa menikmatinya, belum lagi ditambah dengan kehidupan hayati yang beraneka ragam, termasuk berbagai jenis ikan yang ada. Kemudian ada tantangan yang tidak mudah,mengingat medan kerjanya yang berbeda dengan di darat, membuat shooting underwater harus memiliki sejumlah persyaratan tertentu.

Paling utama adalah kemampuan untuk bisa menyelam atau scuba dive, karena ruang lingkup kerja di bawah air membuat kita harus bisa mengetahui prinsip prinsip penyelaman, tidak saja secara basic tetapi juga harus diatas rata rata. Karena sebuah seni dari filming underwater adalah bagaimana memadukan kemampuan menyelam dengan kemampuan teknis mengambil gambar dengan kamera. Sebagai contoh , seorang penyelam berpengalaman akan mampu mengatur persediaan udara di tabungnya selama mungkin dengan pola pernafasan tertentu, bagaimana bermanuver di bawah air sambil membawa kamera seandainya timbul arus deras, sampai bagaimana bisa mendekati obyek hewan tanpa membuat mereka lari menghindar. Juga mengatur framing sebuah object, sambil mengatur posisi badan agar bisa bertahan stabil, tidak naik turun yang tentu saja akan membuat gambar menjadi shaking atau tidak stabil.

Karena ruang lingkupnya di bawah air, kamera film atau video harus dibungkus dengan underwater housing yang memiliki spesifikasi dan jenis housing yang berbeda dari setiap jenis kamera. Setiap housing pun telah didisain berbeda beda untuk bisa menahan tekanan dalam air. Pada umumnya underwater housing yang beredar di pasaran, hanya didisain untuk recreational dive dikedalaman sampai maksimal 40 – 50 meter. Sementara untuk pengambilan gambar di laut yang lebih dalam, membutuhkan jenis housing tertentu yang mampu menahan tekanan air yang sangat kuat. Bahkan kalau kita sering melihat film film ilmu pengetahuan mengenai palung palung terdalam di dasar laut, pengoperasian kamera sudah dilakukan oleh robot atau alat tertentu, mengingat kemampuan tubuh manusia yang tidak memungkinkan untuk mengoperasikan kamera di area kedalaman tersebut.

Berbeda dengan shooting di darat yang bisa melibatkan banyak orang, shooting dalam laut praktis hanya bergantung pada seorang saja. Disamping mengoperasikan kamera, ia harus tahu kapan menggunakan available light ( sinar matahari ) dan kapan menggunakan tambahan lighting yang menempel di housing, atau mengkombinasikan sumber cahaya keduanya. Lighting disinipun tidak seperti lighting di darat yang besar besar, tapi hanya sekadar lighting bersifat fill in yang menempel di sisi underwater housing. Ini perlu diketahui karena prinsip prinsip dasar spectrum cahaya sinar matahari yang masuk ke dalam air, membuat sebagian warna perlahan lahan menghilang semakin dalam kita menyelam. Warna merah akan menghilang di kedalam 5 meter, lalu kuning di kedalaman 10 meter, sampai akhirnya tinggal warna biru dan hijau saja diatas kedalaman 18 meter. Dengan lighting ( sama juga dengan prinsip lighting di darat, yakni bisa jenis daylight atau tungsten) bisa mengembalikan warna yang menghilang tadi, sehingga warna warni terumbu karang serta ikan ikan bisa terlihat seperti apa warna aslinya. Kita juga tetap bisa menggunakan beberapa jenis filter lensa seperti Polarizer, ,ND dan filter filter yang didisain untuk menangkap spectrum warna di dasar laut. Namun umumnya, para kameramen underwater selalu melengkapi dengan filter merah yang bisa dipasang dan dilepas didepan kaca housing,guna mengembalikan warna merah yang menghilang. Khusus untuk film film dokumenter dan ilmu pengetahuan lebih banyak menggunakan format video, DV atau HD daripada format celluloid, disebabkan format film hanya memiliki recording time terbatas, dibanding format video yang minimal bisa mencapai 30 menit. Sungguh tidak praktis jika, kameramen penyelam harus bolak balik ke permukaan mengganti magazine filmnya.

Karena tidak seperti shooting di darat yang bisa dilakukan seharian penuh tanpa beristirahat. Shooting di dalam air mempunyai batasan batasan waktu yang disesuaikan dengan profile penyelaman kita. Dalam menyelam kita tergantung dengan jumlah pasokan udara di tabung yang kita bawa. Sebagaimana prinsip penyelaman, bahwa semakin dalam kita menyelam, konsumsi kebutuhan oksigen semakin cepat dan boros yang dikarenakan tekanan air laut yang semakin besar pula. Sehingga dengan rata rata waktu penyelaman sekitar 1 jam saja, seorang kameramen penyelam harus sudah kembali kepermukaan, dan mempunyai surface interval yang cukup sebelum bisa kembali menyelam. Mengapa membutuhkan masa istirahat atau interval yang cukup ? karena udara yang kita hirup dari tabung, tidak berisi oksigen murni melainkan kombinasi campuran dengan nitrogen ( umumnya kadar oksigen hanya 21 % dan sisanya 79 % terdiri dari nitrogen ). Semakin lama dan semakin dalam kita menyelam , semakin banyak pula kadar nitrogen yang terserap ke dalam tubuh kita, sehingga kita membutuhkan beberapa waktu baik di safety stop setidaknya 5 meter dibawah air sebelum kembali kepermukaan, atau ketika sudah berada di permukaan. Ini untuk memberikan nitrogen yang terserap ke dalam tubuh perlahan mengalir keluar dari tubuh kita. Logikanya semakin lama kita menyelam , berarti akumalasi nitrogen yang terserap di tubuh kita semakin banyak, dan hal ini bisa berakibat fatal jika tidak terbuang keluar, seperti kelumpuhan bahkan kematian.

Dalam mengambil gambar di bawah laut, sangat tergantung dengan kondisi laut itu sendiri seperti sinar matahari, visibility atau jarak pandang, arus, serta waktu yang tepat. Kita harus tahu musim atau prediksi cuaca pada saat penyelaman dilakukan. Visibility di dasar laut,bisa suatu saat hanya berkisar 3 meter tetapi disuatu waktu dalam kondisi yang lain, bisa mencapai jarak katakanlah 40 meter. Tentu saja semakin bagus visibility akan membuat gambar yang dihasilkan semakin indah.Menurut pengalaman saya, mengambil gambar di bawah laut yang tepat, adalah pagi hari dan jangan sampai terlalu sore. Karena jika semakin siang dan sore, pasokan intensitas cahaya matahari sudah mulai berkurang , dan kondisi air laut juga sudah menjadi low tide atau surut, yang membuat banyak partikel partikel terangkat sehingga bisa air cenderung keruh dan membuat visibility berkurang.

Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah saya jelajahi, dan kadang kala hati saya menjadi miris melihat hanya orang orang asing yang hilir mudik mengambil keindahan alam bawah laut kita. Dalam setiap produksi pembuatan film atau dokumenter bawah laut yang dilakukan perusahaan atau bangsa asing di Indonesia, mereka selalu bertanya kepada saya apakah ada komunitas kameramen penyelam di Indonesia yang bisa didayagunakan. Sampai sekarangpun saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.

Iman Brotoseno
Dive Master PADI 483482
National Geographics Diver 0510A43653

TETAP SEMANGAT + IPANG WAHID

Saya mengenal sahabat yang satu ini pada tahun 1993 ketika saya masuk bekerja di Katena Films. Salah seorang crew Katena berbisik kepada saya,.” Dia keponakannya Gus Dur “. Hanya saja bayangan wajah pesantren sangat jauh dari penampilannya, celana kargo selutut dan sepatu ala Doc Martin. Hal yang tak mungkin lagi dilakukan sekarang, dahulu kadang dia juga ikut ‘ dancing ‘ di lantai disko untuk acara ‘wrap party ‘ seusai shooting yang pada jaman itu kerap dilakukan. Ya, Ipang adalah asisten sutradara kesayangan Gary Hayes , Phil Warhurst dan Bob Chappel, para dewa dewa sutradara iklan dari Katena films. Jaman itu saja saya sudah terkagum kagum melihat bagaimana rincinya ia membuat breakdown shooting yang sangat details. Tidak hanya membagi breakdown shooting sesuai frame, tetapi juga hal hal yang perlu disiapkan demi kelancaran produksi, seperti apa yang harus team art lakukan sebelum memasuki lokasi, barang barang props yang harus dibawa, pergerakan mobil produksi dsb. Membaca booklet breakdown shooting yang disiapkan dari laptop Acer miliknya terasa bermanfaat karena sudah merupakan lintas pemikiran sutradara, produser, art director dan location manager sekaligus. Sejak dulu ia sudah mengemukakan keinginannya menjadi sutradara, dan saya yang waktu itu menjadi produser pernah sekali mencoba menjualnya untuk iklan minuman energi, Lippovitan kalau tidak salah. Hanya saja gagal menembusnya, karena memang pada masa sebelum krisis moneter, sangat kecil kemungkinannya menjual sutradara local untuk iklan iklan thematic.

Setelah itu ia menghilang, dan menjadi freelancer di beberapa tempat sampai akhirnya saya dengar ia bergabung dengan Square Box, sebuah PH lain di bilangan daerah kota. Sampai suatu saat di akhir periode 1996 , ia datang mampir ke kantor kami dan menunjukan iklannya yang pertama, Metro department store. Saya melihat wajahnya yang berbinar binar, penuh semangat bahwa ia bisa mengerjakan iklan televisi pada akhirnya. Dan saya tak perlu menceritakan padanya, bahwa saya dan kolega produser saya lainnya, Salmiah Sani, hampir melabrak pada seorang art director ‘ bule ‘ yang dengan sinis dan sangat personal mencerca iklan itu. Saya sempat berkata pada Gary Hayes, “ Well, G ..the time for indonesian director its about to begin “. Beruntung Ipang memiliki produser seperti Stella dan Joe Seouw yang penuh dedikasi dan tak kenal lelah menjualnya kepada klien kliennya. Bahkan sejak iklannya Bank Danamon, Ipang telah menunjukan talentanya yang luar biasa sebagai sutradara iklan story telling yang mumpuni di Indonesia.

Cerita sepuluh tahun yang lalu itu, seolah tergambar sama dengan situasi saat ini, dimana pasar iklan yang marak di Indonesia, dipenuhi oleh sutradara sutradara asing baik yang resmi atau gelap bercampur dengan sutradara sutradara muda anak negeri yang menunggu kesempatan bereksistensi. Melihat mereka, serasa melihat calon Ipang Ipang baru yang akan meramaikan dunia film iklan kita. Hanya saja kesempatan itu terlihat sangat berat untuk bisa dicapainya. Sungguh ironis, para produser produser kita sangat kurang gigih memperjuangkan, memberi kesempatan anak anak muda yang penuh harapan ini. Kalau dilihat pertumbuhan jumlah sutradara local Indonesia dari tahun 1998 sampai sekarang, mungkin hanya sekitar 15 orang, padahal jumlah PH yang tercatat di data base kami sebanyak 108 perusahaan. Hanya ada segelintir PH yang mempunyai dedikasi untuk menciptakan sumber daya manusia baru, sementara PH PH lainnya hanya menunggu untuk mencaplok hasil ciptaan PH tersebut. Para produser kurang berani merekrut muka muka baru dari video klip atau yang baru lulus sekolah film untuk ditempa menjadi sutradara iklan. Fenomena ini tidak bisa disalahkan, karena banyak produser produser pemilik PH disini lebih sebagai ‘ tool of businessman ‘ bukan produser film seutuhnya. Banyak yang tidak memiliki background produksi, tapi hanya melihat peluang bisnis yang menjanjikan di industri iklan. Mereka hanya melihat dari kaca mata untung rugi, sehingga berinvestasi pada sumber daya manusia adalah pilihan terakhir. Bagi mereka lebih aman menjual sutradara yang sudah ‘ established ‘ atau sutradara asing sekaligus. Seandainya saja saya menjadi pelaku kebijakan yang memberikan ijin perusahaan film, saya akan membuat peraturan ‘ nyeleneh ‘, setiap perusahaan diwajibkan menciptakan setidaknya satu orang sutradara, sehingga dari 108 perusahaan yang terdaftar tadi kita mempunyai setidaknya 108 sutradara !

Namun semua itu masih mungkin terjadi dan saya tetap bersemangat untuk mewujudkan niat mulia ini. Ketika saya menulis editorial ini, Ipang masih mengirim pesan sms mengenai kelanjutan ide kami kami tentang saresehan klub sutradara, sebagai tempat ‘ sharing ‘ dan saling membantu terutama bagi sutradara sutradara pemula. Saya rasa baginya, membagi ilmu adalah ibadah, dan sebagai hamba Allah yang sholeh, ia tetap berkewajiban menjadikan sebagai salah satu bentuk kecintaanya kepada dunia film iklan. Dengan semangat semangat baru yang bermunculan dari teman teman produser untuk menumbuhkan bibit bibit sutradara, disamping juga kelompok kerja lainnya seperti DOP, art director, assistan sutradara dan sebagainya. akan memacu sikap profesionalisme para pekerja iklan, yang saat ini agak’ terlena ‘ karena sedikitnya pilihan yang ada. Karena bagi yang malas, tidak kompeten dan tidak ‘ performed ‘ akan tergilas dengan sendirinya dari industri film iklan. Terus terang, saya masih percaya dengan semangat ini.

APAKAH FINES FESTIVAL BENAR BENAR AJANGNYA PEKERJA FILM IKLAN ?

Jakarta, 10 Juli 2006
Akhirnya ajang festival film iklan Indonesia yang pertama selesai diselenggarakan pada tanggal 7 juni lalu bertempat di Gedung Usmar Ismail ( d/h PPHUI ). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan AIOEU itu memang didukung oleh APFII sebagai salah satu agenda tahunan yang patut diwujudkan. Sudah sejak lama, timbul kegelisahan diantara para pekerja film iklan, bahwa mereka kurang mendapat apresiasi atau penghargaan atas kerja kerasnya selama ini. Ajang festival iklan yang ada selama ini lebih mengedepankan teman teman advertising disamping lebih menonjolkan kategori kategori identitas produk. Karena sebagus bagusnya konsep itu berasal, hanya akan menjadi sebuah iklan yang biasa saja dan hambar, tanpa komitmen dan kerja keras kami para pekerja film. Untuk itu sangat wajar jika ada sedikit perhatian dan penghargaan terhadap orang orang belakang layar ini. Sehingga dalam festival ini, seyogyanya kita akan melihat suatu bentuk penilaian sinematografi yang seutuh utuhnya , sebagaimana yang kita lihat dalam festival film pada umumnya,

Hanya saja dalam malam pelaksanaan, terasa kurang ‘gregetnya’ sebuah festival yang kerap kali disebut sebagai pestanya pekerja film. Tidak semua pekerja film hadir disana,bahkan ada kesan ajang ini hanya dihadiri oleh para petinggi petinggi perusahaan film, pemilik PH atau produser , DOP dan director saja. Itupun tidak mewakili seluruh komunitas film yang ada, bandingkan dengan kongres APFII bulan Maret lalu yang dihadiri ratusan pekerja film secara antusias. Ada apa gerangan ?
Memang APFII hanya memberikan dukungan dan tidak terlibat secara pengorganisasian dalam penyelenggaraan festival fines ini. Hanya saja potensi networking di kalangan APFII tidak dimanfaatkan secara langsung oleh panitia penyelenggara, ini dapat dilihat dari tidak adanya pekerja film iklan,atau pengurus APFII dalam proses penyelenggaraan ajang festival ini. Sehingga timbul jurang komunikasi dalam proses sosialisasi ke komunitas pekerja film, disamping banyak hal hal yang akhirnya justru menghambat kehadiran para pekerja film, seperti tiket hanya dapat diperoleh di secretariat panitia, baru hanya beberapa hari terakhir dilakukan penyebaran tiket di sejumlah tempat. Itupun tak banyak menolong, lalu harga yang cukup mahal bagi para pekerja film yang umumnya pekerja freelance. Sehingga umumnya yang bisa membeli adalah produser atau pegawai in house suatu PH, karena ditanggung oleh perusahaan mereka sendiri.

Kemudian struktur dewan juri yang justru tidak ada representasi sama sekali dari pekerja film iklan sendiri. Dalam hal ini bukannya tidak menghargai integritas dan kemampuan anggota dewan juri lainnya seperti tokoh perfilman nasional, kritikus, praktisi iklan lainnya. Tetapi alangkah eloknya serta bermanfaat jika kami kami yang sangat memahami seluk beluk industri film iklan ini dapat dilibatkan dalam proses penjurian. Cira Adi Pariwara saja tetap dinilai oleh sebagian para pekerja creative biro advertising tanpa harus ada intervensi atau conflict of interest, atas penilaian sebuah karya.
Ini dapat dilihat dari hasil penjurian yang ada. Bagaimana tidak ? ada beberapa karya yang mungkin baik dalam kategori special efek, namun tidak bisa dinilai dalam kategori tersebut, karena hanya didaftarkan dalam kategori wardrobe atau musik misalnya. Ini terjadi karena proses pendaftaran tiap kategori sudah dibatasi dan hanya diisi oleh perusahaan atau pihak yang mendaftarkan. Mestinya perlu dipikirkan suatu mekanisme dimana suatu karya film didaftarkan secara utuh, dan pihak juri yang akan menilai dari seluruh aspek kategori yang ada dan menetapkan di kategori mana karya itu bisa mendapatkan nilai tinggi.
Dan yang lebih mengherankan, bahwa dalam pengumuman tiap kategori dipanggung, misalnya kategori best editing, tidak disebutkan siapa editornya, best sinematografer tapi tidak disebutkan Director of Photographynya, demikian pula tidak disebutkan siapa sutradaranya dalam best commercial. Memang dalam penjelasan oleh ketua Panitia Penyelenggara, sdr Nurmanjaya, disebutkan bahwa nama nama yang bersangkutan ditulis dalam piagam kemenangan yang diterima. Namun esensi sebuah festival film adalah sebuah penghargaan dengan mengumumkan orang orang terbaik dibidangnya didepan audiens yang hadir. Lalu apa bedanya dengan festival film iklan lainnya, yang hanya mengedepankan perusahaan yang mendaftarkan. Sehingga jika ajang ini diklaim sebagai pestanya para pekerja film, patut dipertanyakan lagi kebenarannya.

Memang tak ada gading tak tak retak, demikian pula penyelenggaraan Fines festival ini, karena bagaimanapun , kita wajib memberikan penghargaan setinggi tingginya kepada rekan Nurmanjaya dan panitia yang bisa mewujudkan ajang ini. Adanya kesemerawutan dalam teknis pelaksanaan adalah hal biasa dalam sebuah proses, tentu saja tidak fair memperbandingkan dengan Citra Adi Pariwara yang sudah lama ada. Namun yang lebih penting apakah Fines festival benar benar menjadi sebuah pestanya pekerja film iklan ?

QUO VADIS FILM IKLAN INDONESIA

Syahdan ketika Bung Karno, pertama kali datang ke Amerika Serikat pada era pertengahan tahun 50 an. Alih alih mengunjungi Presiden Dwight Einshower, di gedung Putih, Justru pertama tama yang dilakukan adalah mendatangi studio studio besar Hollywood, serta dapat berjumpa dengan artis pujaannya, Jane Mansfield. Hal itu membuktikan betapa besar perhatian Presiden pertama Republik Indonesia dengan dunia film. Tak hanya itu, dalam masa pemerintahannya ,beasiswa belajar di luar negeri diberikan kepada putra putri bangsa untuk belajar seni, seperti tari, lukisan, teater, sastra serta film. Sjumandjaya adalah salah satu sineas sineas terkemuka masa lalu yang sempat belajar film ( walau ) di Moscow. Bandingkan dengan jaman orde baru yang mana hanya insinyur teknik dan ahli pesawat terbang yang dikirim belajar keluar negeri. Saya tak bisa membayangkan lebih jauh, karena saat itu belum ada sinetron, acara TV, maupun film iklan. Namun satu hal perlu dicatat bahwa perhatian Pemerintah mengenai film nasional akan menentukan hidup matinya industri film itu sendiri. Film iklan sebagai salah satu tiang pondasi industri film nasional, berhak atas perlindungan sebagai lahan penghidupan yang patut dibina sebaik baiknya. Hal itu yang tidak terlihat dalam era era berikut pemimpin Republik ini.

Film iklan sendiri, berada dalam posisi ambivalen, disatu pihak dianggap sebagai bukan sebagai film utuh, karena kaitannya dengan pemasaran sebuah produk. Namun disisi lain, para pekerja film iklan juga merupakan bagian dari insan film yang juga bekerja di film layar lebar, sinetron, musik klip serta dokumenter. Kadang kadang, kita para sutradara film iklan sering dijuluki sutradara pelacur, karena bekerja hanya pada nilai uang, yang ‘konon’ memang lebih besar diperoleh dibanding bidang film lainnya. Selain itu, juga terlalu banyak kompromi yang diberikan dengan pihak advertising agency dan klien dalam mensiasati isi cerita, yang ujung ujungnya memang bermuara pada bagaimana produk itu bisa dijual. Sehingga banyak sutradara yang terbiasa dengan film layar lebar atau sinetron susah untuk bisa memasuki lahan ini, karena keengganannya untuk berkompromi dengan idealismenya. Tak salah kalau Maruli Ara, seorang sutradara terkemuka sinetron merasa kapok untuk ikutan mengerjakan film iklan.

Terlepas dari itu semua, seiring dengan globalisasi pemasaran produk, industri iklan di Indonesia ternyata berputar kapitalisasi modal yang luar biasa besarnya. Sebuah produk shampoo dari kelompok usaha terkemuka, bisa menghabiskan uang Rp 100 milyar setahun untuk promosi produknya, yang mana didalamnya terdapat elemen pembuatan film film iklannya. Ditambah dengan jumlah penduduk Indonesia yang nomor empat di dunia sebagai target konsumsi penjualan produk yang potensial, membuat angka pembuatan film iklan Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sehingga mengundang banyak pekerja film asing baik yang resmi atau tidak resmi , untuk ikut mencari nafkah di Jakarta. Enison Sinaro, ketua KTF Asosiasi Sineas Indonesia, mengatakan bahwa ia ingin para mahasiswa mahasiswa IKJ saat ini bisa melihat, bahwa industri film iklan adalah salah satu lahan potensial yang bisa dimasuki oleh mereka. Walaupun hingga hari ini, tidak ada jurusan film iklan di lembaga pendidikan tersebut, namun sinyalemen dari rekan saya itu tidak salah dan patut diwujudkan.
Lalu bagaimana dengan Pemerintah kita sendiri ? sepertinya mereka masih asyik dengan permasalahan lainnya sehingga bidang usaha yang perputaran uangnya bisa mencapai trilyun rupiah setahun ini seperti dianaktirikan. Atau mungkin karena tidaktahuan mereka , boleh jadi kalau kita melihat di RUU Perfilman nasional yang akan dimajukan, sama sekali tidak mencantumkan apa itu film iklan. Untuk bisa berharap seperti Pemerintah Malaysia dengan kebijakan “ Made In Malaysia “ masih sangat jauh dan mungkin hampir mustahil. Tak ada dapat dipungkiri proteksi dan pembinaan yang dilakukan Malaysia telah menghasilkan sineas sineas dan pekerja film yang tangguh yang sekarang banyak bertaburan di kawasan regional Asia Pacific. Memang pada akhirnya kita tidak bisa menghidari arus perdagangan bebas dan globalisasi, namun rasa kebangsaan kita bisa terusik melihat begitu banyaknya pekerja film asing yang ‘ illegal ‘lalu lalang membawa pergi devisa negara. Bahkan untuk pekerjaan pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan oleh anak negeri sendiri, seperti penata rias ataupun penata busana. Jangan jangan apa yang dikatakan Maruli Ara benar, bahwa film iklan Indonesia sangat elitis dan eksklusif, kita bagaikan menara gading di dunia film nasional.

NURANI

Rasa rasanya belum hapus dari ingatan ketika bencana tsunami melanda bumi serambi Mekkah beberapa waktu yang lalu, ketika negeri ini dikagetkan dengan bencana gempa bumi yang meluluhlatakan sebagian besar daerah DI Yogyajakarta dan sebagian Jawa Tengah pada hari sabtu , 27 Mei lalu. Banyak teman teman kita dari komunitas film dan iklan yang juga kehilangan sanak saudara, rumah tempat tinggal, serta seluruh harta bendanya. Saya atas nama Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia mengucapkan turut berduka cita serta merasakan kepedihan yang luar biasa atas musibah ini. Saat ini sebagai salah satu bentuk kepedulian kami, dalam beberapa hari ini telah digalang dana kemanusiaan dan sumbangan barang barang logistik serta makanan yang setidaknya bisa menjadi setetes oase dahaga bagi penderitaan saudara saudara kita disana. Sampai hari Rabu malam tanggal 31 Mei, telah terkumpul Rp 28,100,000,- yang hampir separuhnya sudah dibelikan obat obatan, dan sisanya akan dibelikan barang barang kebutuhan seperti susu, makanan, tenda dsb. Semuanya akan dibawa pada hari Kamis 1 Juni, oleh rekan rekan kita melalui jalan darat, langsung menuju daerah yang membutuhkan, tentu saja dengan berkoordinasi dengan lembaga lembaga atau pihak pihak yang telah membuka jalur distribusi disana. Perlu dicatat, bahwa kami juga memberangkatkan team lain yang berisi relawan dokter dokter yang semua bisa dilibatkan atas dasar solidaritas kemanusiaan. Semua itu tidak hanya berhenti hari ini, kami akan terus menggalang dana, menerima sumbangan dalam bentuk apapun yang akan kami salurkan dalam ‘ kloter – kloter ‘ pemberangkatan di hari hari mendatang.

Jika kita melihat apa yang terjadi disana, betapa berharganya sebungkus supermie ,segelas air minum dan selimut hangat. Apakah kita masih bisa menikmati berlimpah ruahnya makanan katering, minuman kaleng, serta buah buahan segar yang disiapkan selama hari hari syuting ? Harapan apa yang dimiliki oleh mereka melihat rumahnya tinggal puing, alat mata pencahariannya yang rusak jika dibanding dengan nikmatnya menjadi pekerja film iklan di Jakarta. Maukah kita sedikit menyisakan dari penghasilan kita yang besar untuk mereka ? Sementara masih saja ada oknum oknum berkutat dengan mencari keuntungan di produksi syuting, korupsi di segala bidang, mengeluh jika feenya dipotong karena bekerja tidak profesional, serta berteriak untuk penggantian bon bon yang tak masuk akal. Teman, percaya atau tidak semua ini akan menjadi bencana di kemudian hari di industri film iklan jika borok borok ini tidak dibersihkan.
Namun saya percaya masih banyak juga mereka mereka yang memiliki hati nurani, dan mau berjuang serta menjaga lahan pekerjaan ini sebaik baiknya, karena ini adalah mata pencaharian dan gambaran jalan hidupnya . Tidak seperti saudara saudara kita di Bantul, Klaten, Gunung Kidul yang seperti sudah tak memiliki harapan lagi, buntu dan suram melihat gambaran masa depannya.
Malam ini, ditengah tumpukan kardus kardus obat obatan, air mineral, pakaian , tenda, sambil menikmati semangkuk bakso bersama rekan Yusuf, ditengah hilir mudiknya relawan relawan pekerja film yang mengatur barang barang yang harus dikirim besok. Pikiran saya menerawang jauh, ternyata masih saja ada orang orang yang memiliki hati nurani, dan ini adalah modal kita dalam bersikap di profesi yang kita geluti saat ini.

Photo dari : Google

PERAN MEDIA TV

PERAN MEDIA TV & FILM DALAM MERUBAH PERSPEKTIF MASYARAKAT TERHADAP ISU ISU KECACATAN
( Makalah ini dibacakan untuk National Workshop ” Disabililty Awareness For Journalist ” di Yogjakarta, Januari 2006 )

Jamie Stobie, sutradara film FREEDOM MACHINES, yang berasal dari Amerika bercerita tentang filmnya yang bercerita mengenai issue issue difabilitas atau kecacatan, berkata “ I don’t have any visible disabilities, and it was very hard for me to get that perspective “. Ia bekerja sama dengan aktivis kecacatan di California Utara, hanya untuk mendapatkan perspektif mereka secara utuh, dan menangkap apa yang benar benar mereka inginkan, dan tetap saja ia merasa ragu, apakah ia orang yang tepat untuk bisa memahami dunia yang akan diangkat dalam filmnya. Lebih lanjut ia mengatakan “ We screened the film many times for people in this community. We would either end up with a film that the filmmakers liked, that people with disabilities hated, or we would end up with a cut that people with disabilities thought was right, but the filmmakers would say didn’t work because the story wasn’t there. It was really a challenge. “

Dari cerita diatas ada satu hal yang sangat penting, yakni bagaimana mendapatkan perspektif mengenai dunia difabilitas atau kecacatan secara proposional. Ada pola pandang yang salah terhadap komunitas ini, yakni banyak orang berpikir bahwa seharusnya tetap menjadi tanggung jawab keluarganya masing masing, dan tidak membebani dunia luar. Kita lupa bahwa cacat fisik yang diderita mereka tidak berhubungan dengan intuisi, pemikiran, dan kecerdasan mereka. Banyak yang ingin tetap sekolah, bekerja dan berinteraksi seperti halnya orang orang normal disekitarnya. Bahkan bagi Rory Thomas Hoy, menjadi seorang penderita autis bukan halangan untuk menjadi seorang sutradara, mengesankan ia telah membuat kurang lebih 26 film pendek, dan beberapanya telah diputar di BBC program. Salah satunya berjudul AUTISM AND ME telah memenangkan Camelot Foundation’s annual 4th award. Ia menjelaskan latar belakang filmnya “The whole idea behind my project is to help others who have been affected by autism in the best way I can, and that’s by making a film, as that’s what I’m best at doing! It’s not easy being autistic and other people don’t know how we feel. In my film, I can give them an idea with everyday examples, so they can, hopefully, relate to them. It will also help them to understand us more “.

Dalam kehidupan bermasyarakat masih ditemui rendahnya tingkat kesadaran dalam mengapresiasi masalah difabilitas (kecacatan). Dalam kehidupan sehari-hari, meski tiap-tiap komponen masyarakat fasih melafalkan term demokrasi, pada kenyataannya hasrat untuk menempatkan kaum difabel pada posisi sosial yang adil dan setara masih rendah. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat cenderung enggan menerima kaum difabel “apa adanya” dalam lingkungan sosial mereka.. Hal ini tampak pada sulitnya memenuhi keinginan kaum difabel untuk untuk mendapatkan aksesibilitas ruang publik dalam menjalani kehidupan sehari hari. Tak ada yang berpikir bahwa hak hak mereka sebagai warga negara setara dengan mereka yang normal dan sehat.

Saya mempunyai teman, seorang music composer yang biasa membuat musik untuk film film iklan TV.Tak ada yang tahu jika musik musik indah dari sebuah iklan lahir dari tangannya, seorang penderita cacat yang harus memakai kursi roda. Jika ia memiliki 10 orang karyawan, yang katakanlah masing masing memiliki 2 orang anak, maka ia bisa menghidupi 40 orang normal. Bagaimana jika kita mempunyai 10,000 orang difabel yang profesional dengan pekerjaannya, berarti mereka bisa menanggung hidup sejumlah 400.000 orang. Apakah kita tega menutup kesempatan bagi mereka yang berpotensi menghidupi ratusan ribu bahkan jutaan orang lain, karena pemikiran kalkulasi yang picik, bahwa jumlah difabel yang sedikit akan menjadi tidak ekonomis kalau harus dibuatkan aksesibilitas seperti ramp bagi kursi roda dan guiding block bagi tunanetra misalnya.

Lebih lanjut dalam kerangka acuan National Workshop ” Disability awareness for journalist ” di Yogjakarta awal tahun 2006 disebutkan, ”…Kondisi tersebut tentunya cukup memprihatinkan. Pasalnya, marginalisasi peran dan fungsi difabel di tengah iklim demokrasi hanya akan mereproduksi satu bentuk kekerasan sosial baru di masyarakat. Kekerasan itu nyata telah terjadi, misalnya seorang tunanetra ditolak mendaftar ujian calon pegawai negeri sipil karena panitia tidak menyediakan soal dalam huruf braille, pemakai kursi roda ditolak mendaftar kuliah karena laboratorium kampus tersebut di lantai dua sementara tidak ada ramp maupun lift, Dinas Tenaga Kerja menolak difabel untuk mengikuti kursus karena menurut mereka tempat difabel adalah di Dinas Sosial, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kekerasan yang lain..”

Sangat disayangkan, perhatian media massa melalui industri film dan televisi terhadap permasalahan difabel juga masih rendah. Lalu bagaimana industri ini bisa menjadi kontribusi yang besar bagi pemahaman isue isue kecacatan dengan perspektif yang masuk akal dan bertanggung jawab

Pertama tama yang harus dilakukan adalah mendorong media TV dan film sebagai pembongkar bentuk-bentuk kekerasan yang selama ini disembunyikan oleh culture, serta mengubah pola pikir masyarakat yang semula diskriminatif menjadi peduli dan menempatkan difabel setara dengan dirinya. Dalam perkembangan sejarah umat manusia, media ini terbukti berpengaruh terhadap pembentukan pola pikir masyarakat Mulai dari promosi suatu produk, hiburan , propaganda sampai syiar agama bisa memakai media ini. Bagaimanapun juga Film adalah cermin dari budaya bangsa, sehingga pesan pesan atau muatan yang terkandungnya juga merupakan refleksi budaya dan perilaku yang terjadi di masyarakat.. Masih ingat, model potongan rambut pendek ala Demi Moore sempat menjadi trend di kalangan wanita, ketika film GHOST meledak beberapa waktu yang lalu, atau mendadak kaum muda menjadi keranjingan puisi setelah melihat sosok Rangga dalam film ADA APA DENGAN CINTA.

Di negara seperti Russia saja mempunyai program tahunan untuk festival film Internasional untuk film film disability awareness, yang diikuti oleh film film dari seluruh penjuru dunia. Dalam festival film yang diselenggarakan Perspektiva, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang lebih dari satu dekade memberikan pelayanan pada komunitas difabel, menampilkan mulai dari features, docomentaries, publics service announcement sampai animasi , sehingga bisa menjadi sarana media yang menyuarakan keberadaan kaum difabel melalui industri film.

Bahkan ada Festival Cinema for the Deaf , acara tahunan di Chicago untuk film film bagi kaum tuna rungu, yang dibidani oleh Association of Deaf Media Professionals. Kita membayangkan diantara gegap gempitanya film film Holywood, mereka masih bisa memproduksi ( dan banyak ) film film khusus yang adegannya tidak memakai dialog suara, tetapi gerakan gerakan tangan untuk berkomunikasi. Lalu bagaimana dengan di Indonesia ? Sejalan dengan kemajuan film nasional saat ini, sangat disayangkan tidak ada satu tema mengenai isue ini yang diangkat dalam cerita skenario. Sangat ironis , jika dalam film film jaman era tahun 70 an saja kita masih menemui cerita cerita seperti anak yang terjatuh lalu menjadi buta, tetapi masih berusaha menjalani hidupnya dengan tegar. Sedangkan pada sebuah sinetron televisi, kita melihat sinetron Cecep yang dibintangi Anjasmara, tidak sama sekali menyuarakan aspirasi komunitas difabel. Hanya sosok bodoh yang lucu yang terus dieksploatasi, demi memancing gelak tawa pemirsa.

Mengapa hal itu terjadi ? mungkin karena para produser berpikir lebih pragmatis bahwa menjual program acara atau cerita yang bersifat komedi, horor atau percintaan remaja dengan dunia cafe atau mall lebih menjual angka rating tontonan mereka. Padahal semua itu tergantung kepada bagaimana cerita itu diangkat. Ada ilustrasi kasus menarik, dalam cerita Si Buta dari Gua hantu yang juga diangkat ke layar lebar dan televisi. Setidaknya secara komersil film itu juga diminati dipasar dan di sisi lain bisa memberikan perspektif baru bahwa seorang jagoan pembela kebenaran tidak harus orang yang sehat jasmaniah.

Kedua, adalah bagaimana memberdayakan peran Pemerintah. Sebenarnya setelah tumbangnya orde baru, kita memiliki kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menaikan kesetaraan komunitas difabel ini, mengapa tidak, dengan memiliki presiden dan ibu negara yang ( kebetulan ) memiliki handicap fisik secara jasmani, seharusnya isue isue ini bisa menjadi program konsisten dari pemerintahan mereka. Jaman dulu saja, dalam acara berita di TVRI , di pojok gambar selalu ada caption berisi orang yang menjelaskan isi berita dengan gerakan tangan bagi penderita tuna rungu, yang mana saat ini sudah tidak ada lagi di televisi nasional. Jika kita lihat di televisi saat ini banyak iklan iklan layanan masyarakat dari Pemerintah ( Public Service Announcement ) mengenai penebangan hutan, lingkungan hidup, kekerasan terhadap wanita, PMI, sampai iklan untuk edukasi pencegahan demam berdarah dan flu burung. Mengapa sama sekali tidak ada alokasi dana untuk pembuatan iklan layanan masyarakat mengenai aspirasi dan kesetaraan kaum difabel. Ini menjadi bukti rendahnya apreasiasi Pemerintah terhadad isue isue ini. Padahal banyak BUMN, Bank atau perusahaan rekanan pemerintah yang bisa dengan mudahnya mendanai pembuatan iklan layanan masyarakat ini. Dengan angka 1 milyar rupiah saja sudah bisa membuat sebuah iklan layanan masyarakat termasuk dengan biaya pemasangan di media televisi selama sebulan. Bandingkan dengan angka triliunan rupiah kredit macet yang terbuang sia sia.

Dengan adanya iklan layanan masyarakat yang berulang ulang, terlebih ditambah jatah penanyangan secara gratis dari pemilik TV swasta, maka akan menggulirkan bola kesadaran kepada seluruh lapisan masyarakat. Pemilik gedung, manufaktur kendaraan, pengelola fasilitas dan sarana transportasi umum, sampai perusahaan atau kantor kantor.

Lebih jauh Jamie Stobie mengatakan, “ The most interesting thing I learned is how the word “disability” becomes a label. There’s a great dissonance between those of us who feel we’re normal and those whom we label as disabled. We’re often afraid to make eye contact with people in wheelchairs, who don’t look quite “normal.” And that changed me forever, when I realized that the barriers that divide us are not so much physical as cultural, that they grow out of the way that we look at people. “

Oleh karenanya, dalam proses transformasi sosial menuju terciptanya tatanan kehidupan bersama yang adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai persamaan dan kebebasan, keterlibatan media massa ini diperlukan. Keterlibatan dalam konteks ini tidak saja terkait dengan fungsi edukasi sosial yang melekat pada media, tetapi juga bagaimana film dan televisi bisa memainkan peran kritisnya dalam mendekonstruksi ketimpangan sosial yang memarginalkan peran dan posisi kaum difabel di masyarakat.