All Posts By

iman

KARTINI

Jepara, October 1903
Modertje, my moedertje,say something to me, I am so utterly, utterly unhappy. Physically, spiritually broken, I have energy no more. For days already it is as if there is a fire in my head, as my heart is a burning bullet. I am assumed to be still alive, Is this living ? There are worse things then death. And when I am dead, what will that have achieved ? Nothing ! other than that I have obstructed some people, tripped them up in their egotism. …Oh my poor, poor dreams, my poor sisters.
The house is as though deserted, the bird no longer chrips, it is lying with broken wing, a broken heart, oh and a heart full of terrible, evil thoughts.
Do you despise me,yes ? -it is hard,but still bearable, but that I cannot respect myself, that I cannot bear.
My God have mercy, show me the way !

So wrote Raden Ajeng Kartini two month prior her wedding with the regent of Rembang which almost 30 years older than her. More than 100 letter which Kartini wrote to her mentor, Rosa Abendanon, a wife of the director of education of the Dutch East Indies between 1900 – 1904. In these letter she expressed her belief in her right to the freedom of personal self determination as a woman and a javanesse. She describes her quest for further education and for release from restrictions traditional life imposed on woman, especially the tyranny of an arranged polygamous marriage. But the decision has been made by his father, and she never lived to see that freedom.

Continue Reading

KEPEKAAN YANG TERUS TERGERUS

Saya memang harus mengakui bahwa Dani Ahmad adalah seniman besar. Namun kalau saya melihat karya ciptanya akhir akhir ini dibanding tahun tahun pertama Dewa 19 periode 90 an, sungguh sangat jauh berbeda. Sebagaimana banyak musisi Indonesia lainnya, ia telah kehilangan daya ciptanya begitu kehidupannya mulai ‘established’ atau dengan kata lain sudah kaya. Ini memang problem sebagian besar pekerja seni di Indonesia. Ebiet G Ade tak akan pernah lagi menghasilkan karya yang monumental seperti saat masih terlunta lunta di Yogjakarta, begitu hidupnya sudah mapan di Jakarta. Pramoedya , justru menghasilkan karya roman yang luar biasa pencapaiannya ketika hidupnya berada dalam tekanan dan siksa dalam tahanan di Pulau Buru. Ia tak pernah bisa mengulanginya lagi ketika menghirup udara bebas beberapa tahun kemudian. Tak hanya seniman, Bung Karno juga kehilangan kekuasaannya karena kepekaannya terhadap bangsanya hilang, begitu ia terlena dengan mimpi mimpi mercua suarnya.


Kemapanan memang memabukan dan membuat kita menjadi lemah, tidak sensitif dan stagnan. Padahal kepekaan atau daya sensitif adalah elemen penting tak hanya proses kreatifitas tetapi juga lingkungan, orang yang kita cintai sampai pekerjaan kita. Tak dapat disangkal, ketika manusia berada dalam pergulatan hidup dengan penderitaan yang haru biru, ia bisa menjadi sangat sensitif dan eksploratif. Ini memang tak mudah karena mengisyaratkan kita harus menjaga jarak dengan apa yang namanya kemapanan seperti kekuasaan, kekayaan dan kemasyuran. Ini memang tidak mudah,bagaimana kita tidak tergoda untuk melompat ke sisi lain tersebut. Seniman besar seperti penyair WS Rendra atau sutradara Teguh Karya, telah mencoba melakukannya. Mereka tetap hidup dan bernafas dalam komunitas teaternya. Rumah Om Steve, nama Teguh Karya biasa dipanggil tetap terbuka bagi siapa saja, baik aktor baru atau kondang. Ia bisa tetap mentraktir nasi uduk kebon kacang bersama pemain pemain barunya yang tidak punya uang untuk membeli makanan. Ini membuatnya tetap sensitif terhadap manusia manusia sekitarnya, sehingga karya karyanya tentang sisi kehidupan tetap kuat dan mempesona.

Continue Reading

LOGIKA KEJUJURAN DALAM AKTING DI FILM IKLAN

Seorang guru acting Sanford Meisner

pernah mengatakan di depan murid muridnya, untuk mencoba sebuah karakter sekitar satu menit berdiri di pinggir jalan raya. Kemudian ia bertanya, “ Apa kalian mendengarkan karakter atau mendengarkan diri sendiri ? “. Ternyata dengar mendengarkan karakter akan menambah ‘ elemen of strain ‘ sementara dengan mendengarkan diri sendiri dengan menggunakan telinga kita sendiri – is relaxing, centering. Akan membuat aktor tidak berakting dengan huruf A besar. Berbeda dengan apa yang dipercaya pada umumnya bahwa sebuah acting adalah pura pura. Justru sebenarnya sebuah acting tidak boleh berpura pura dan harus jujur. Seorang aktor harus memulai dengan dirinya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya, menyentuh dengan kulitnya dan merasakan dengan perasaannya. Dengan mempelajari dari skrip ia membentuk sebuah pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Lalu ia membentuk karakter dalam dirinya.

Continue Reading

BEAUTY FOR SALE

BEAUTY FOR SALE
( resensi yang dimuat di majalah periklanan Ad-diction )

“ Apa yang sesungguhnya menjadi pencaharian jiwa bagi manusia manusia modern saat ini ? karier, kekayaan, wajah cantik dan ganteng, gemerlap pergaulan kelas atas atau bisa keliling dunia ?. Jawabannya bukan semua itu, ternyata ada sisi terdalam dari manusia manusia sibuk untuk mencari dan menemukan pasangan jiwanya..”

Sepertinya itu yang coba disampaikan oleh Fradhyt Fahrenheit atau Adit dalam bukunya, “ Beauty for Sale “, Ini cerita tentang lima orang sahabat, sosok sosok yang cantik dan ganteng ini berasal dari keluarga kaya raya , mereka juga sukses dalam karier pekerjaannya. Semuanya memiliki hobby yang sama belanja barang barang branded, jalan jalan keliling dunia, larut dalam sosialisasi kehidupan glamour kelas atas dan yang paling utama semua tokoh memiliki kenangan pengalaman percintaan yang pahit dan kekosongan jiwa, alias jomblo. Debby , yang bekerja sebagai Marketing Director perusahaan beverage. Kiyara, seorang produser film iklan sekaligus menjadi fashion stylist di berbagai majalah Jakarta dan Singapore. Kemudian, Venitta,cenderung lesbian, anak seorang keluarga konglomerat terpandang yang bekerja sebagai Creative group head di sebuah advertising agency. Cantika, berasal dari keluarga Jawa berdarah biru juga seorang creative director di perusahaan advertising milik Jepang. Terakhir Brando, satu satunya pria yang memiliki kelainan orientasi seksual, sebagai gay, bekerja di sebuah bank swasta terbesar di Indonesia.

Dikisahkan mereka semua sepakat untuk tidak bertemu beberapa bulan untuk mencari pasangan jiwa masing masing. Setelah melewati berapa pengalaman hidup, pada hari yang ditentukan mereka bertemu. Namun apa yang terjadi ? ternyata kekasih yang dibawa Kiyara pada pertemuan itu adalah orang yang sama yang juga menjadi kekasih Debby, Venitta, Cantika dan Brando.

Membaca novel ini memang serasa melihat lihat katalog merk merk kelas atas , kamus bahasa Debby Sahertian dan majalah selebritis dunia yang digabung menjadi satu, dengan gaya chic literature yang enak. Kehidupan manusia pemuja fashion dan dunia kosmopolitan ini sebenarnya masih menjadi issue yang menarik dalam novel ini, kalau saja Adit tidak terjebak terus menerus dalam rujukan rujukan merk dan nama nama selebritis dalam mendeskripsikan karakter tokoh. Karena membuat novel ini menjadi sangat ‘ market segmented ‘ dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun bagaimanapun juga Adit berhasil dalam menuturkan vignyet vignyet kehidupan sambil memberikan mimpi mimpi mengenai kota besar, yang mungkin masih menjadi aspirasi manusia Indonesia.

PASSION YANG HILANG

Dalam catatan hariannya,Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa tahun 60 an selalu tak melupakan lembah suryakencana di puncak gunung Pangrango, Jawa Barat. Di tempat itulah ia sering merenung, mencari kedamaian hati dan lari dari situasi kehidupan yang ruwet di Jakarta. Saya memang bisa membayangkan di puncak gunung sana. Sepi, dingin dan rasa jiwa yang membahana melihat kabut kabut di ujung horizon. Sewaktu saya SMA dan kuliah, mendaki puncak puncak gunung Pangrango atau Gede sepertinya menjadi ritual dinamika kehidupan saat itu. Betapa tidak, minggu minggu terakhir ini, berbagai persoalan hidup dan pribadi membawa saya kepada situasi kehilangan rasa atau passion pada kehidupan sekitar saya . Dan yang lebih penting menguapnya daya kreatif sebagai seniman atau penggagas ide. Tentu saja ini sangat berbahaya bagi kelangsungan pekerjaan saya.


Tanpa harus berpikir panjang ,saya pesan tiket pesawat ke Jogja serta memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari disana. Saya memang tak pernah bosan bosan untuk menikmati pesona kota ini. Jalan jalan di Malioboro, memotret situs situs kuno,makan gudeg yu Jum di belakang kampus UGM, menikmati malam malam dengan kopi arang yang terkenal, serta menonton pasar Malam Sekaten di alun alun Keraton. Hari hari terakhir, saya meluncur menuju Losari,sebuah kawasan perkebunan kopi didaerah Temanggung yang telah saya liat dari brosur di biro perjalanan. Tentu saja, semua ini saya mengharapkan pengalaman pengalaman ini mampu membalikan kegelisahan yang menggerus hari hari saya di Jakarta. Namun apakah ini bisa ? Apakah sebuah proses penumbuhan passion itu bisa digerakan dengan menemukan tempat tempat baru yang menyejukan jiwa kita.

Pagi belum sepenuhnya terang,masih gelap dan angin menusuk membuat saya merapatkan erat erat jaket, saat berjalan menyusuri lembah lembah di sekitar losari untuk memotret munculnya sang mentari dari balik gunung merbabu. Terseok seok melintas rumput yang masih basah, mencari jawaban yang sesungguhnya dari penampakan matahari pagi ini. Dan tetap saja saya tidak menemukan jawaban itu. Termenung duduk diatas batu dan putus asa.

Kembali ke Jakarta,memang tidak membuat perubahan yang berarti. Saya juga percaya Soe Hoek Gie mungkin tidak akan pernah menemukan jawabannya, pertanyaan pertanyaan yang terus dibawannya sampai ia meninggal. Lembah Suryakencana dan kabut Mandalawangi hanya menawarkan kesejukan hati sesaat, memuaskan rasa dahaga yang sebentar. Saya mencoba memahami bahwa kegelisahan, amarah dan rasa ketidakpercayaan yang hilang itu membuat hidup ini semakin tidak menarik jika kita melihat dari perspektif emosional saja. Sebuah kiriman post card yang datang tiba tiba dari Africa Barat, dari seorang teman di blog ini, sungguh mencerahkan hari hari yang menggelisahkan saya. Bahwa masih ada bentuk persahabatan yang ditawarkan seorang teman baru. Demikian pula perkenalan dengan para pencari kayu bakar yang saya temui di lembah perbukitan kebun kopi di Losari. Semuanya membukakan mata hati saya, bahwa hidup bagaikan sebuah bendera perang. Kadang ia terjatuh, kotor dan sobek. Namun dengan gagah beraninya tetap dipertahankan, sampai ke tangan Tuhan.

MENCARI SAHABAT DI INTERNET

“ Internet membuka mata hati umat manusia terhadap revolusi peradaban,
tapi seyogyanya internet tidak membunuh akal dan perasaan kita. “
( Jerry Yang – pencipta Yahoo )

Jerry Yang dan David Filo ketika menciptakan revolusi ini mungkin sudah memperkirakan akan terjadinya pergeseran nilai dan budaya perilaku manusia dengan teknologi internet. Sesuatu yang mereka takutkan tetapi tidak bisa mencegahnya. Bukankah peradaban harus terus berjalan apapun konsekuensinya. Teknologi internet telah membuat Kathleen Kelly dengan memakai avatar ‘ ShopGirl ’ bisa menemukan kekasih hatinya kelak, “ NY152” milik Joe Fox. Demikian satu kisah dalam film “ You’ve got Mail “ yang sangat romantis diperankan Meg Ryan dan Tom Hanks. Melihat film ini memang menjanjikan romansa bagaimana berkenalan teman baru melalui internet ataupun chatting. Tapi juga sekaligus membuka sisi borok manusia dan ketidakberdayaan mereka terhadap hawa nafsu, dan tipu muslihat.

Hari yang mendung dan murung itu, seorang sahabat menelpon meminta bertemu dengan saya. Dengan hampir menangis ia bercerita bahwa kekasih wanitanya yang selama ini kelihatan sangat baik dan setia, ternyata mempunyai 5 pacar ‘ gelap ‘dari dunia maya. Semua pacar gelapnya orang asing dan bule yang dikenalnya melalui friendster atau chatting room. Bahkan perselingkuhan itu menjadi sangat jauh, ketika dalam perjalanan dinasnya ke luar negeri, si wanita juga menemui kekasih kekasihnya. Tentu saja saya tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan si wanita itu, sendiri di negeri orang berjumpa dengan selingkuhan bulenya. Saya hanya membayangkan betapa hancur hati sang sahabat, membuka kebohongan yang dilakukan kekasihnya. Tak habis habisnya ia menyesali mengapa dahulu ia yang memperkenalkan dan membuat blog friendster untuk sang kekasih. Tentu saja ini hanya sebagian kecil dari potret manusia mencari teman kencan di internet. Sebagian besar dari mereka juga membuka sisi gelapnya yang tidak bisa secara terus terang terlihat di dunia nyata, dengan mengunjungi ruangan chatting yang bertebaran di setiap pojok tikungan dunia maya.



Selalu ada pamrih yang berbeda dengan pengalaman memiliki sahabat pena sewaktu kecil. Saat itu, dalam majalah Bobo, atau Kawanku ada kolom khusus yang berisi sahabat pena dari berbagai penjuru tanah air, lengkap dengan photo dan alamat lengkapnya. Saya tidak ingat berapa sahabat pena yang saya miliki, tapi ada satu dua orang yang kerap berkoresponden dengan saya. Saya juga lupa dari kota mana, yang jelas saat itu memiliki sahabat pena diwajibkan oleh guru saya, agar sejak kecil kita terbiasa menulis surat. Menunggu surat balasan merupakan momen momen yang mendebarkan bagi kami saat itu. Tentu saja jaman dulu,belum ada Mall, TimeZone, Play Station atau tempat hiburan , sehingga praktis sebagian besar kegiatan kami lebih banyak di rumah saja. Karena masih kecil, isi tulisan surat banyak berkisar kehidupan di kota masing masing, sekolah, adik kakak kita atau remah remah tidak penting. Namun satu hal ada pembelajaran yang diperoleh bahwa kita terbiasa menulis dengan jujur,dan tanpa pamrih kecuali hanya menambah teman baru.

Memang tidak adil juga membandingkan dengan kenangan sahabat pena dengan fenomena korespondensi dunia maya yang menembus lintas batas negara dan budaya secara instant. Ini adalah produk jaman yang berbeda. Namun mungkinkah saat mengetik keyboard komputer, kita menulisnya dengan jujur dan tanpa pamrih ? Ternyata banyak ditemukan manusia manusia yang mudah terbuai dengan daya khayalan semu. Sehingga apa yang pernah saya baca dalam sebuah artikel, bahwa orang orang yang terlibat sangat personal dengan dunia chatting adalah orang orang yang sakit dan rapuh. Apakah ini benar, jika ternyata sebuah sebuah keterikatan dalam dunia maya bisa mempertemukan sebuah cinta ?. Mungkin dunia akan menemukan kedamaian jika semua pengguna teknologi internet seperti Kathleen Kelly dan Joe Fox. Tapi bagaimana jika hanya manusia manusia palsu yang bersembunyi dalam ID CockfromItaly atau CewekBispak. Tidak ada yang salah dengan internet. Tetapi malam itu,internet telah membunuh akal sehat si kekasih dan perasaan sahabat saya. Sambil menemaninya makan nasi goreng tek tek yang lewat di depan kantor, saya sesekali memeriksa Yahoo Mesenger saya. Beberapa pesan tampak masuk ke dalam email saya, Sebuah pesan masuk di Friendster ternyata lebih penting saat itu daripada mendengarkan rintihan keluhan sahabat saya. Dunia memang jadi tidak adil rasanya.

STEMPEL CAP PERTEMANAN DI FILM

Ada percakapan menarik dalam salah satu film legendaris akhir tahun 80an yang berjudul “ When Harry meet Sally “. Dalam sebuah percakapannya dengan Sally, ia sempat mengatakan, “ Men and women can’t be friends because the sex part always gets in the way. No man can be friends with a woman that he finds attractive. He always wants to have sex with her “ Lalu Sally membantahnya, bagaimana kalau perempuan tidak mau berhubungan sex dengan pria itu. Balas Harry “.Doesn’t matter, just let it lie, because if the sex thing is already out there, so the friendship is ultimately doomed and that’s the end of the story “. Mungkin kalau disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia, bisakah pria berteman dengan wanita tanpa ada hubungan cinta. Tentu saja banyak yang mengatakan tentu saja bisa, mengapa tidak ? Tetapi maksud disini apakah jika seorang pria mengganggap teman wanitanya menarik dan atraktif, secara fisik dan intelektual. Bisakah mereka tetap berteman tanpa pamrih ? apakah ia tetap ‘ let it lie ‘ berpura pura memelihara persahabatannya itu ? Apakah juga hubungan percintaan akan mengakhiri sebuah bentuk pertemanan.

Bagaimana kalau analogi tersebut diatas dibalik, dapatkah seorang pria dan wanita mendapat keuntungan baik itu cinta sesaat atau hubungan sex tanpa harus menjadi teman baik ? Bukankah ini yang selalu berada dalam benak orang orang mengenai kehidupan dunia film. Perselingkuhan dan hubungan bebas. Sehingga ada istilah cinta lokasi, maupun TTM .Memang tidak salah, selalu saja ada hubungan sesama seleb atau seleb dengan sutradara, bahkan sesama pekerja film tanpa harus ada kekuatiran bagaimana bersikap dan menjaga perasaan. Teman saya, seorang aktor kondang, bisa menjalin cinta lokasi sesaat dengan lawan mainnya di sebuah film. Tentu saja hubungan cinta disini bukan sekedar jalan jalan berdua ke Mall atau TTS ( tatap tatapan sayang ). Juga tidak harus terlalu obvious hubungannya agar tidak menjadi konsumsi infotainment. Ketika menghadiri preview sebuah film, bersama tamu undangan lain. Si artis itu datang dengan kekasih resmi, begitu juga si aktor. Tegur sapa sejenak, cium pipi kiri dan kanan lalu memperkenalkan masing masing pasangannya. Setelah itu berpisah karena masing masing menuju komunitas temannya sendiri. Tapi tidak juga selalu benar fenomena ini hanya terjadi di dunia film. Kalau urusan cinta lokasi, TTM atau TTS bisa terjadi di dimana saja, sekolah, arisan, club kebugaran, kantor sampai di pesantren.


Masalahnya memang tidak sesimpel ini, stigma yang diberikan kepada orang film membuat banyak gadis gadis atau orang tua mereka memahami bahwa hanya dengan gaya hidup bebas, bisa membuka pintu ketenaran di kemudian hari. Mereka bagai laron laron yang mengerubungi sebuah lampu, yang pada akhirnya akan membunuh mereka sendiri. Padahal ada sisi bakat dan nasib yang jauh lebih menentukan, untuk bisa masuk dan sukur sukur menjadi popular di sini. Sewaktu saya sedang syuting sebuah FTV, ada seorang ibu yang selalu berusaha bercakap cakap dengan saya saat break makan. Oh, rupanya ada anak gadisnya yang ternyata ikut menjadi pemeran figuran – extra talent, begitu kami menyebutnya.
“ Mas, saya ingin menitipkan anak saya.. biar diajak syuting terus…”
“ Oh ya bu, khan pasti sudah masuk database pemain kita,, jadi suatu saatpun kalau ada produksi tentu talent coordinator saya pasti akan memanggil “
Saya melihat ke anak gadis ibu tadi, masih muda dan sepertinya belum berusia 20 tahun. Cantik dan berani membalas menatap. Semprul ! masih kecil sudah berani.
Rupanya jawaban ini belum memuaskan si ibu, ketika syuting selesai . Si ibu kembali menghampiri dan berkata,
“ Mas kalau mau ngajak pergi malam ini nggak apa,..asal nanti diantar pulang, saya biar pulang sendiri saja..”

Si ibu dan anak tidak menyadari bahwa malam itu juga mereka baru saja membunuh semangat persahabatan yang mungkin saya tawarkan. Terus terang saya ingin menjadi teman yang baik dengan semua pemain pemain saya, lalu bagaimana saya tetap berteman jika terus dibayangi bayangi tawaran menggiurkan seperti itu.

SEBUAH PERTEMUAN

Dalam lalu lalang manusia manusia sibuk di Plaza Indonesia di malam ini, tiba tiba seorang wanita menegur saya dengan ramah. Sosok yang begitu dekat sekitar duapuluh tahun yang lalu. yang pernah mengisi indahnya rentang waktu di kampus rawamangun dan depok. Seorang yang pernah saya cintai dalam kehidupan remaja saya. Dia yang namanya masih tertulis dalam kata sambutan skripsi saya, yang setia menemani saya mengetik tugas akhir kuliah di malam malam minggunya. Masih wanita sama yang waktu itu begitu mengagumi saya, yang tertunduk malu ketika ayahnya menangkap basah kami sedang berciuman di teras belakang rumahnya. Wanita itulah yang saat ini berdiri tepat dihadapan saya. Tersenyum dan bola matanya melompat lompat mencari jawaban.

“ Kamu baik baik saja ? “ pertanyaannya singkat dan bermakna luas. Membuat keramaian di sekitar kami menjadi senyap. Sunyi dan menjadi sendu. Dia tidak bertanya, ‘bagaimana anakmu’, dan juga dia tidak menanyakan ‘ bagaimana kehidupan perkawinanmu’. Saya rasa dia tak ingin memasuki ruang pribadi yang sudah terkubur dalam masa silamnya. Seperti saya yang tak perlu menanyakan mengapa ia belum menikah sampai sekarang. Bagaimanapun juga ia terlihat bahagia dengan jalan hidup yang dipilihnya.
“ I’ve heard you have a big name in your industry “
“ No, I just feel nobody until I have my own feature film “. Basa basi sebentar yang mencairkan kekakuan suasana. Tak lama kami sudah tertawa tawa, menemukan remah remah topik yang bisa menjembatani pertemuan singkat ini.
Ini bukan sekadar kisah tonil di panggung sandiwara Romeo dan Juliet yang harus diratapi dengan airmata. Juga bukan hikayat babad Majapahit, ketika Gayatri harus memilih Raden Wijaya daripada seorang ksatria balatentara yang mencintainya. Sebuah pilihan yang harus diambil, karena menurut ramalan para empu dan brahmana, dari rahimnya kelak Raden Wijaya akan menurunkan raja raja yang membawa kebesaran dinasti kerajaan. Pertemuan selama 5 menit ini membawa jauh ke sebuah pemikiran tentang takdir dan garis hidup. Bahwa hidup harus terus berjalan, apapun konsekuensinya itu. Siapa yang bisa memecahkan rahasia kehidupan ?, hingga sebuah percintaanpun tidak harus diakhiri dengan perkawinan, kadang ada tujuan yang lebih mulia dari itu.


Ketika kami berpisah kembali, saya sama sekali tidak mencoba menolehnya kembali, demikian pula dia. Di perjalanan pulang dalam kelap kelip lampu jalanan dan kemacetan yang merayap, saya teringat baris puisi yang saya tulis,

Beranikah kau menganggap
bahwa hidup ini seperti buah dadu
yang diambil dari kotaknya
Tanpa pernah tahu nilai yang diperoleh
Kecuali keyakinan untuk nilai kemenangan

Jika kau merasa bahwa takdir
diucapkan oleh Tuhan hanya sekali
Pernahkah kau merasa dengan
melihat bola matanya,
walau hanya sekilas
kau tahu bahwa dia adalah
pasangan jiwamu ?

Selamat hari Kasih Sayang !

SIDE JOB

Sifat dasar manusia memang selalu tak pernah merasa cukup dengan penghasilan atau gaji yang diperoleh setiap bulan. Kadang kita berpikir meningkatkan penghasilan kita tanpa harus mengganggu pekerjaan utama kita. Montir mobil saya, Dudung bisa menerima panggilan memperbaiki mobil di rumah rumah, jika pekerjaan di bengkelnya sedang sepi atau sore hari setelah jam bengkel selesai. Rasa rasanya untuk memudahkan job sampingan yang kita tekuni, idealnya masih berhubungan dengan pekerjaan sehari hari. Seperti saya, kadang masih menerima side job untuk memotret, menjadi creative director freelance

untuk biro iklan kecil , menulis artikel perjalanan di Majalah atau menjual gambar footage

landscape dan pemandangan alam Indonesia. Jadi seperti saya atau Dudung masih bisa mengkaitkan keahlian yang kita miliki dengan tambahan penghasilan.

Namun saya lebih kagum lagi dengan orang orang yang mempunyai job sampingan yang benar benar berbeda dengan pekerjaan utamanya. Ada teman sejawat yang mempunyai job sampingan menjual apartemen, ada juga yang menjadi peternak ikan hias. Ini membutuhkan keahlian tambahan yang berbeda dengan keahlian utamanya. Seorang pekerja kreatif seperti sutradara , tiba tiba harus memiliki kemampuan pemasaran, atau harus mendalami penyakit ikan hias. Demikian pula pola multilevel marketing ala Amway

atau CNI

, mensyaratkan sejumlah pertemuan dan pelatihan untuk menjaring pembelinya. Bagi yang gagap atau suka gugup kalau berbicara, lupakan saja untuk mencari penghasilan tambahan lewat multilevel marketing ini. Tidak mudah dan jelas membutuhkan passion untuk menggelutinya. Jika tidak mempunyai passion, yang namanya job sampingan ini hanya menghabiskan waktu saja. Sewaktu jaman krismon dahulu, artis dan selebritis mendadak banyak yang memiliki warung tenda yang tidak bertahan lama karena memang passionnya bukan disana, Walau namanya side job, kita tidak boleh memperlakukannya setengah setengah. Tetap professional dan correct. Masalah bagaimana kita menjalani dengan keterbatasan waktu yang kita miliki, adalah problem lain yang harus kita siasati juga.


Sementara orang bisa saja keasyikan dengan side job ini karena ternyata memberi penghasilan yang jauh lebih besar dari penghasilan utamanya. Ini memang menjadi dilema karena membuat tipis batasan antara profesi utama dan sampingan. Kita saja bingung melihat Ruhut Sitompul, pekerjaan aslinya pemain sinetron atau pengacara ? Lihat saja anggota DPR yang terhormat, bisa sekaligus menjadi broker bisnis ke BUMN. Ada wakil presiden yang memiliki side job menjadi ketua partai. Bupati bupati yang memiliki side job menjadi ketua persatuan sepak bola setempat. Mulan Kwok mungkin tidak pernah peduli, kalau dipecat dari Ratu, karena penghasilan dari pekerjaan sampingannya seperti main sinetron, iklan bisa saja lebih besar dari penghasilannya sebagai penyanyi. Banyak produk produk ternama yang dimulai dari usaha sampingan. Tirto Utomo, dahulu hanya seorang seorang pegawai perusahaan minyak, ketika memulai usaha sampingannya dengan memasok air mineral dengan merek Aqua. Tentu saja ia memutuskan pensiun dari kantornya setelah usaha sampingan ini jelas lebih menguntungkan dan membutuhkan perhatian lebih. Demikian juga Mustika Ratu sampai Sido Muncul

Kalau dilihat pada umumnya, usaha manusia memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya berbanding terbalik dengan pendapatan tetapnya. Jadi tanpa melihat sisi moral, bagaimanapun juga usaha job sampingan menunjukan manusia memiliki daya juang dan semangat mencapai penghidupan yang lebih baik. Bagaimana kalau sisi moral itu menjadi parameter ? dari sisi mana kita melihatnya ?. Seperti waktu sebuah produk minuman energi melakukan syuting di Bali dengan bintang sepakbola Portugal. Bisik bisik ada seorang artis sexy yang biasa menjadi model iklan obat suplemen pria, ikut menyusul masuk ke kamar hotelnya. Yang jelas dengan jauh jauh terbang ke Bali untuk mencari tambahan pemasukan, sang artis berusaha menunjukan passionnya dengan job sampingannya. Apapun itu yang dijualnya.

ADA APA DENGAN ‘LATAH’

Selama syuting film, saya sangat suka dengan masakan Ibu kon…l ( maaf ) karena memang masakannya sangat enak. Menu makanan prasmanan ala rumah yang selalu bervariasi setiap hari, sambalnya, es buahnya sampai penganan kecil selalu tersedia buat pekerja film seperti kami. Saya sendiri tidak tahu nama aslinya, dan mungkin juga semua orang tidak ada yang tahu. Tahunya ya ibu KNTL ,karena dia sangat terkenal dengan latahnya mengucapkan alat vital laki laki itu. Yang unik dia sendiri tidak merasa marah dipanggil ibu KNTL, juga keluarganya, juga anaknya karena unit manager saya biasa memanggil nama itu didepan mereka atau ketika menelpon ke rumahnya untuk memberi tahu jadwal syuting. Rasa rasanya hanya ada di Indonesia mengenai fenomena latah ini. Ada yang pernah melihat orang orang bule, arab, cina, Africa, Jepang bertingkah laku atau berbicara latah seperti yang terjadi di sini ? Bagi kami yang hidup dan bekerja di bidang entertainment, show bizz, film, musik dan seni, melihat orang latah sepertinya biasa saja. Dari tukang rias, penari, produser sampai bintang film, semuanya bisa saja terkena penyakit ini. Dan penderita latah tidak harus ‘ banci ‘, banyak sekarang justru gadis gadis cantik, laki laki normal sampai ibu ibu pengajian di kompleks.


Kadang kita tersenyum geli dan menertawakan, walau sebenarnya bagi yang bersangkutan hal itu sungguh amat memalukan. Bagaimana tidak ? umumnya kata yang diucapkan selalu berbau porno, atau mengikuti gerakan seseorang tanpa mereka sadari. Bekas produser saya, kalau kaget ( dan ini bisa berulang ulang ), walau di tengah tengah sebuah meeting tiba tiba berkata ..KNTL !. Saya juga pernah satu lift dengan sebuah kelompok penyanyi wanita sewaktu persiapan pembuatan sebuah film iklan dan kebetulan dalam lift itu ada seorang India Sikh, yang memakai ubul ubul di kepalanya. Kebetulan liftnya tidak terlalu ‘smooth’ sehingga ketika berhenti di suatu lantai , otomatis lift itu bergetar. Apa yang terjadi, getaran lift itu menjadi ‘ trigger ‘ pemicu latah salah seorang personil itu. Ia secara tiba tiba menggeleng gelengkan kepalanya seperti tarian India sambil menggoyangkan tangan didepan wajahnya. Walhasil sepanjang perjalanan menuju lantai atas, di setiap pemberhentian, ia menari sebentar sebelum minta maaf kepada orang Sikh didepannya yang hanya senyum senyum ( sambil mungkin marah ).


Secara umum,latah diartikan kondisi yang muncul ketika obyek dikagetkan sehingga kehilangan kontrol dalam tingkah laku, ucapan, maupun mengikuti perintah yang diberikan. Saya tidak pernah mendapatkan penjelasan secara komprehensif tentang latah. Ada yang mengatakan bahwa umumnya penderita latah ada hubungannya dengan traumatic masa silam. Ada juga yang bilang bahwa alam pikiran seseorang tentang sesuatu kadang terjebak dalam ruang bawah sadarnya, yang bisa dengan liarnya terlontar jika ada pemicu. Bahkan disebut sebagai a Culture specific syndrom

, suatu gejala somatic dan psychiatric yang terjadi pada komunitas budaya tertentu. Tetap saja saya tidak menemukanj jawaban yang memuaskan, kenapa harus kata kata KNTL yang diucapkan. Mengapa bukan nama bunga, atau nama makanan. Kenapa orang yang tadinya tidak latah, bisa menjadi ikut ikutan latah baik secara tidak sadar atau karena memang di program oleh lingkungan dan teman temannya. Penderita latah pastinya tersiksa, dan tidak bisa datang ke Soto Gebrak yang terkenal di belakang SMA 3 Setiabudi. Bisa bisa kaget ditertawakan pengunjung yang lain, ketika penjualnya menggebrak gebrak botol kecapnya. Proses kerja latah ini bahkan membentuk suatu pola berpikir yang berkaitan dengan apa yang menjadi pemicunya, seperti seorang gadis crew film, latahnya sudah luar biasa. Jika kita berteriak di depan dia ‘ Kebakaran Kebakaran ! ‘, secara otomatis dia akan memegang dan menekan dadanya berulang ulang sambil berteriak ‘ Semprot Semprot ! ‘.


Yang lebih mengherankan kenapa gejala ini hanya terdapat di masyarakat Indonesia. Apakah ini ada hubungannya dengan pola perilaku bangsa kita yang memang latah, tidak percaya diri dan suka ikut ikutan budaya luar atau sebuah trend. Apalagi di dunia show biz, seni dan film sebagai penyumbang ‘ tingkat kelatahan ‘ paling besar, sedikit banyak sudah tercermin dalam hasil hasil karya film dan sinetron. Satu buat film layar lebar, yang lain ikut ikutan buat film, walau hasilnya ambur adul dan cuma bertahan sehari di bioskop. Satu buat film horror semuanya latah ikut membuat film horror. Satu sukses memakai bintang film ini,yang lain ikut latah memajang pemain ini . Satu menyadur ( menjiplak ) sinetron Korea / Taiwan, yang lain juga latah membuat sinetron jiplakan dari negeri itu. Tunggu saja musim pemilu nanti , ketika banyak selebritis latah ikutan ikutan jadi caleg. Mudah mudahan juga para pejabat negeri ini tidak sekadar ikut latah, sekadar pura pura peduli dengan mereka yang tertimpa musibah banjir.

Jadi sekali lagi, siapa yang bisa menjelaskan fenomena latah ini ?

BLOOD DIAMOND


Komposisi adalah pengetahuan dasar bagi sebagai seorang sutradara. Dari situ ia melihat bagaimana sebuah sudut angle dibentuk. Bagaimana elemen elemen yang ada dalam frame tersebut merupakan komposisi antara berbagai objek yang seimbang, dan yang lebih penting memberi makna tentang gagasan yang hendak disampaikan. Sehingga tanpa sebuah dialog, sebuah komposisi gambar bisa menjelaskan seribu kata kata tentang suasana yang tercipta.
Komposisi sepasang kekasih sedang berjalan sambil bergandengan tangan di sebuah padang rumput bisa menceritakan romantisme gambar itu. Wajah close up seorang anak yang menangis tak akan berarti apa apa, tetapi dengan sebuah komposisi angle yang lebih lebar yang menampilkan background rumah gubug dan tandus, akan membuat derita hidupnya sangat terasa.

Tugas seorang sutradara adalah telling a story. Ia harus sensitive dan memiliki hubungan emosi dengan komposisi gambar yang diciptakan. Bisa saja ia tersenyum, tertawa bahkan menangis melihat pengadeganan yang dibuat. Tapi apakah dalam kehidupan sehari hari kita bisa membentuk sebuah komposisi hidup yang ideal ? yang dapat dengan mudah diatur sesuai selera kita ? Apa yang kita lihat dalam komposisi sebuah realita kehidupan bisa merupakan bisa merupakan rangkaian cuplikan kepedihan, ketidakberdayaan dan air mata. Tanpa harus berpretensi film tetap harus menyuarakan apa yang dilihatnya, seburuk apapun.

Dalam film ‘ Blood Diamond ‘ sebuah cermin budaya kekerasan dan kemiskinan di Afrika telah memberi kita pertanyaan mengenai komposisi hidup itu sendiri. Apakah hidup itu masih begitu layak dipertahankan jika nyawa manusia hanya bagian sebuah permainan yang diciptakan mereka yang berkuasa . Peran Leonardo Di Caprio ( selain dalam film The Departed ) telah membebaskan dirinya dari karakter cowok ganteng idola gadis gadis. Ia menjelma menjadi penyelundup berlian yang serakah, egois tetapi pada akhirnya bisa menampilkan sisi kemanusiaannya yang paling dalam menjelang kematiannya.

Melihat tragedi dalam film itu serasa melihat cermin tragedi di negeri tercinta, Indonesia. Bahwa ketidakadilan, kemiskinan, bencana dan budaya kekerasan akan selalu ada dan merusak keseimbangan komposisi hidup ini. Memang tak salah kalau disebut negeri kita adalah tanah bencana, bukan arti harafiah bencana alam saja, tetapi bencana dalam semua aspek yang bisa diartikan.

Film itu juga menyadarkan kita akan bahwa exploatasi manusia oleh manusia juga bisa dengan mudah terjadi di negeri ini. Tidak usah jauh jauh, dalam pembuatan film dokumenter bersama NHK Jepang tentang kehidupan anak anak jermal sungguh merobek robek nilai kemanusiaan. Mereka anak anak yang mestinya masih SD atau SMP, tidak bersekolah dan ditaruh oleh majikannya di jermal gubug gubug keramba di tengah laut.

Pekerjaannya hanya memanen ikan ikan teri yang dijaring dibawah jermalnya. Setiap dua minggu sekali sang majikan datang mengambil panenan, sambil mengedrop bahan makanan, beras, ikan asin, poster gadis telanjang serta majalah porno. Mereka berbulan bulan tidak pernah pulang ke darat, sehingga terjadi penyimpangan seksual. Berkat referensi pornografi dari sang majikan membuat praktek homoseksual dan budaya menyetubuhi ikan pari tercipta disana.
Saat itu saya baru mengetahui kalau ikan pari ternyata memiliki semacam alat kelamin seperti wanita. Dengan hanya 150 ribu rupiah anak jermal rela mempertontonkan bagaimana ia menyetubuhi ikan pari yang tertangkap di jaringnya.

Ikan pari berukuran besar yang masih hidup, direntangkan disebuah meja dan dipaku agar tidak bergerak. Proses pengambilan gambar itu menimbulkan kegelisahan yang luar biasa dari para crew. Rasa kemanusiaan mereka berontak, walau para anak anak Jermal juga tidak perduli. Mereka secara paksa telah direnggut dari kehidupannya yang normal sebagaimana anak anak lainnya di darat.

Kegelisahaan yang sama pula sewaktu melihat komposisi gambar ‘ Blood Diamond ‘ sewaktu si petualang Danny Archer berkata pada jurnalis Amerika, Maddy Bowen,..” Aku selalu berpikir apakah Tuhan pernah memaafkan manusia manusia seperti itu, tapi tiba tiba aku sadar bahwa sudah sejak lama Tuhan meninggalkan tanah ini..”
Memang tidak mudah mewujudkan sebuah komposisi gambar hidup yang ideal di negeri ini, dan saya masih perlu bersabar. Tak tahu sampai kapan.

KERJA DI FILM DAN PILIHAN KARIR

Cerita sepuluh tahun lalu ketika saya pindah ke sebuah pemukiman , yang rata rata penghuninya bekerja di kantoran. Mereka berangkat pagi pagi dengan iring iringan mobil keluar gerbang kompleks, dan menjelang malam iring iringan mobil kembali memasuki rumah masing masing. Mirip adegan kehidupan sebuah pemukiman dalam film “ Edward Scissorhand “. Rutin dan monoton. Sementara mereka bertanya tanya tentang saya, apa pekerjaan orang baru ini. Rambut gondrong memakai anting ( waktu itu ), keluar dari rumah siang dan pulang pagi pagi subuh. Bisa juga lepas subuh sudah dijemput oleh sebuah mobil dan berhari hari tidak pernah pulang. Atau kadang tidak kemana mana, hanya kelihatan duduk duduk di teras sambil merokok. Kebetulan waktu itu salah satu video clip Kris Dayanti besutan saya mendapat award dari MTV South East Asia. Sehingga mereka melihat wawancara di TV dan segalanya, barulah ibu ibu komplek yang tadinya mengira saya bandar narkoba mulai tersenyum ramah jika lewat depan rumah. “ oh..orang film ‘ katanya.


Memang jaman dahulu kerja di film memang sering dianalogikan dengan kerja serabutan, sehingga orang tua kita cenderung menyuruh anaknya masuk sekolah kedokteran, ekonomi atau apa saja yang menjamin nanti bisa bekerja di kantoran. Tetapi dengan berubahnya jaman menjadi era globalisasi dan multimedia, dengan banyaknya stasiun TV, TV kabel juga maraknya dunia perfilman. Bidang film khususnya menawarkan berbagai pilihan profesi yang bisa ditekuni dan tentu saja dengan penghasilan yang lumayan. Rincian crew film mulai dari sutradara, produser, Director of Photography, Art Director, Casting Dircetor, Set Builder, Special Effect, Lightingman, Sound recordist, Musician, Editor sampai penata rias. Bahkan kalau di film iklan lebih spesifik lagi , ada food stylish yang mendressing makanan, ada hair stylish khusus untuk iklan shampoo, sampai story board artist yang menggambar visualisasi setiap rancangan adegan. Bagi yang expert dalam disain pakaian bisa menjadi wardrobe stylish, atau yang berkemampuan dalam komputer, grafis bisa menjadi digital effect artist untuk pekerjaan paska produksi. Kalau kita lihat credit tittle di layar lebar bisa sampai puluhan atau ratusan nama yang terlibat. Ini menunjukan banyaknya departemen dengan segala spesifikasi dan orang orang pendukungnya, termasuk para asistan sutadara, asistan produser, asistan kameramen dan sebagainya.


Institut Kesenian Jakarta yang jaman dulu identik dengan sekolah buangan, kini menjadi incaran anak anak yang baru lulus SMA. Demikian di tempat lain jurusan broadcats, sekolah desain serta komunitas film bertebaran di seluruh negeri. Ini menunjukan adanya pola pemikiran baru di generasi muda tentang pilihan karir masa depannya. Jangan dianggap remeh, ada seorang anak muda berusia masih berusia 26 tahun bekerja sebagai ‘ colourist ‘ sebagai tehnisi operator yang mentransfer film negative menjadi data digital atau pita video, bisa bergaji sama dengan seorang direktur bank. Penulis skenario layar lebar papan atas, rata rata dibanderol minimal 50 – 75 juta untuk per skenario. Untuk bidang teknis seperti Director of Photography, Camera operator, Gaffer, Art Director dll umumnya dibayar per hari syuting ( untuk film iklan ) atau kontrak per judul ( untuk layar lebar ). Honor Director of Photograpy atau kameramen untuk film iklan bisa 7 – 12 juta per hari. Untuk pekerja crew lainnya seperti lighting, loader, focus puller, dollyman, grip, unit dll berkisar 500 ribu – 2 juta juta perhari. Sementara seorang PU atau Pembantu umum yang biasa menyiapkan kopi, teh, makanan kecil minimal mengantongi Rp 250,000,- per hari. Lalu bagaimana dengan sutradara ? posisi ini biasanya diikat per project dan honornya relatif, dengan kisaran antara 10 juta sampai 200 juta. Bahkan saya yakin untuk iklan iklan rokok yang banyak memakai sutradara bule, total honornya bisa mencapai 300 – 500 juta. Juga sebagai gambaran untuk sutradara sinetron papan atas bisa berkisar 20 – 25 juta per episode. Sutradara memang hampir seperti pelukis, tidak ada patokan yang resmi. Bisa saja dia memberikan lukisannya dengan gratis, ada juga yang harga lukisannya sejuta bahkan sampai ratusan juta.


Enaknya juga, pekerjaan kita tidak pernah monoton, selalu bertemu orang yang berbeda beda, lokasi berbeda beda, serta ide yang berbeda pula. Bahkan kita bisa melihat suatu tempat yang mustahil kita datangi kalau bukan karena pekerjaan ini. Kita bisa syuting di pelosok papua, danau toba sampai disebuah gunung bersalju, di utara Vancouver – Canada. Mengenai busana kerja, orang film tidak direpotkan dengan baju rapi berdasi, blus, celana atau rok bahan. Cukup jeans, kaos T shirt dan sepatu kets. Kadang saya bekerja atau meeting dengan klien memakai celana pendek saja. Walau suatu waktu juga merepotkan kalau harus menghadiri acara resmi, karena tidak banyak pilihan pakaian resmi yang dimiliki. Dari tahun 1993 saya hanya memiliki 2 steel pakaian batik yang dipakai berganti ganti untuk undangan perkawinan, sunatan keponakan sampai audiensi dengan pejabat. Kembali ke ruang lingkup pekerjaan di film, dengan munculnya generasi baru, memiliki budaya yang lebih ‘ gaul’ , lebih akrab dengan teknologi bahkan memiliki background pendidikan yang kuat, akan menyuntikan darah segar perfilman nasional. Jelas berbeda dengan generasi film lama warisan film film jaman baheula yang lebih ke otodidak dan sangat ‘ gaptek ‘ internet dan komputer. Ada riset dari majalah Fortune di Amerika sana, justru sekolah sekolah bisnis mengalami penurunan peminat, berbanding terbalik dengan sekolah film yang mengalami peningkatan murid. Jadi wahai bapak bapak dan ibu ibu, sudah bukan saatnya lagi memasang wajah galak kepada calon menantu orang film. Mari !