Browsing Category

PERIKLANAN

Bagaimana memahami pengadaan jasa kreatif

Sampai sekarang Pemerintah masih tergagap gagap dalam memaknai nilai pekerjaan kreatif, sehingga itu yang muncul dalam perkara kasus konten creator Amsal Sitepu. Pekerja kreatif marah karena penyidik mengganggap ide kreatif bisa memetik dari udara, sehingga dianggap gratis dan bernilai 0 rupiah. Humas Kejaksaan Agung memberikan tanggapan didepan awak media, bahwa ada ketidaksesuaian antara RAB ( Rencana Anggaran Belanja ) dengan praktek di lapangan, yakni misal dalam RAB disebutkan pemakaian drone sekian hari tapi dalam praktek jumlah harinya lebih sedikit. Tapi mereka juga melihat Amsal juga melakukan syuting tambahan karena ada revisi dari kepala desa, artinya ada tambahan hari yang tidak di charge kepada klien.

Padahal dalam dalam pekerjaan pembuatan film atau video, bisa saja pekerjaan bisa lebih cepat karena ternyata cuaca mendukung dalam proses syuting, atau para pemain bisa langsung nyetel, jadi tak perlu lama lama latihan. Selain itu pemakaian beberapa alat – termasuk drone, kamera action Go Pro, itu kadang melekat kepada unit utama. Terserah mau dipakai sehari atau setiap hari. Sebenarnya semua aspek merupakan satu kesatuan, bukan dipecah pecah seperti kita menilai komponen harga dalam pembuatan bangunan atau pembelian barang umum.

Sehingga saya ketika pertama kali masuk TVRI, saya berdebat untuk mengubah sistem tender yang ujungnya murah murahan untuk pekerjaan kreatif – panggung musik atau pembuatan iklan, dokumenter atau drama seri. Bahkan LKPP ( Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang & Jasa Pemerintah ) dan BPK sudah memperbolehkan kita mengikuti kebiasaan yang berlaku di industri kreatif.

Team program TVRI juga pernah menghadapi pertanyaan dari auditor negara, kenapa membayar honor Iwan Fals sekian ratus juta harus melewati agency. Bukankah itu pemborosan ? Kenapa tidak langsung ke Iwan Fals. Perlu banyak penjelasan bahwa ini kebiasaan di industri ekonomi kreatif, dimana mana artis juga masuk dalam pemasaran agency. Lalu kenapa harus memakai sebuah PH dari luar untuk pekerjaan dokumenter senilai 600 juta, sementara dengan tenaga in house TVRI biaya mungkin hanya 50 juta. Lagi lagi harus menjelaskan prinsip ono rego ono rupo. Kita membutuhkan karya bagus agar konten kita dilihat orang.

Continue Reading

Memahami manusia social media

Baru baru ini iklan sebuah produk Sidomuncul di layar TV membuat percakapan yang seru di media sosial. Ini bukan iklan tematik atau promo regular. Hanya sebuah iklan CSR, terhadap komitmen perusahaan untuk membantu operasi katarak secara gratis ke seluruh penjuru negeri. Persoalannya adalah bintang iklan itu KSAD. Seorang Jenderal aktif.

Langsung beberapa teman bertanya apakah saya yang membuat, karena kebiasaan saya membuat beberapa iklan produk produk keluaran perusahaan tersebut. Dan memang bukan saya yang membuat.
Menariknya komentar para pekicau di media sosial mempertanyakan pemakaian simbol negara – dalam arti atribut miter – untuk iklan komersial. Ada juga yang bertanya, apa ini bagian dari pencitraan sang Jenderal sehubungan pilpres 2014 yang mendekat ?

Saya tahu niat tulus Irwan Hidayat, pemilik Sidomuncul untuk membantu para penderita katarak. Dia salah satu pengusaha di Indonesia yang memadukan fungsi marketer dan public relations yang baik. Saya juga tahu dibalik pemakaian bintang iklan Jenderal, karena hanya institusi Angkatan darat yang memiliki akses teritorial sampai ke pelosok negeri. Koramil sampai babinsa bisa didayagunakan untuk menjaring penderita katarak. Belum lagi rumah sakit lapangan yang mobile.

Yang menarik justru ini mengingatkan saya pada sebuah prediksi yang ditulis James Surowiecki dalam buku ‘ The Wisdom of Crowds ‘. Ia mengatakan bahwa orang banyak alias crowd akan mampu menghasilkan keputusan yang sering kali lebih baik dibanding keputusan yang dibuat oleh tiap tiap individu.

Continue Reading

Jangan remehken Logika

Suatu periode tahun delapan puluhan. Sebagai mahasiswa baru di Universitas Indonesia, kami wajib menyiapkan sebuah acara di malam perkenalan kampus. Sempat bingung sebentar, sampai kami sepakat membuat operet tari tarian ala Michael Jackson. Video Klip “ Beat it “ menjadi referensi. Contoh gerakan tari, kostum dan gaya menyanyi sound alike, di contek habis.
Seorang teman yang menjadi anggota Swara Mahardikanya, mengajari kami bagaimana menari dan bergoyang. Jadilah sebuah operet yang sebenarnya memalukan, sekaligus mengundang tepuk tangan.

Apa yang bisa ditarik dari seorang Michael Jackson pada masa itu ? Sebuah budaya barat egaliter yang bisa menginspirasikan sebuah operet picisan mahasiswa mahasiswa baru di negeri berjarak ribuan mil jauhnya.
Bahwa seni – musik, film, tari, bahkan komunikasi – selain bersifat menghibur atau alat propaganda. Ia harus dalam paparan universal dan logis bagi siapapun yang menerimanya.

Orang daratan Cina, mungkin tidak bisa berbahasa Inggris tapi bisa berdendang mengikuti irama lagu lagunya Michael Jackson. Kenapa Islam bisa diterima ? karena Wali Sanga tidak melulu menafsirkan budaya arabnya. Ada unsur wayang dan budaya lokal yang diselipkan.

Continue Reading

BF – Bicara Film

Dalam waktu dekat sebuah komunitas baru akan diluncurkan. Komunitas BF. Jangan berpikir ngeres. Ini tentang dunia film dan seluk beluknya. BF atau Bicara Film menjadi simpul baru bagi mereka yang menggandrungi film tapi tidak secanggih pemahaman pekerja film atau anggota kine klub. Namun mereka terbiasa menjadi hakim tentang sebuah film diantara teman temannya.
Mereka yang terbiasa menonton nomad, kagum dengan special effect ketika Neo menghindar peluru dalam film Matrix, ingin tahu bagaimana film animasi dibuat, penasaran bagaimana film iklan rokok bisa menghabiskan budget milyaran rupiah. Juga ingin tahu behind the scene sebuah film layar lebar.

Sebagaimana dikutip dari situsnya , yang masih belum selesai dibangun.
” Siapa bilang film itu ekslusif, sulit dan jauh di awang awang. Film itu menyenangkan dan siapapun bisa bicara, masuk kedalam dunia ini. Bicara Film adalah sebuah wadah diskusi dan tukar info yang cenderung informal, menampung peminat film dari dari kalangan biasa. Basis komunitas BF adalah blogger dan pengguna layanan media social serta jejaring sosial.
Mereka itulah yang akan menyebarluaskan kegiatan, dan terutama opininya tentang film. Mulai dari film layar lebar, film iklan, film indie, film pendek, musik video, film TV/ sinetron, film animasi/ kartun , company profile sampai dokumenter “


” Ini adalah situs yang baru kami luncurkan. Tidak sekadar situs karena selain kegiatan online, ada juga kegiatan offline yang tak kalah menarik, yakni diskusi, bincang dan tukar pengalaman tentang dunia film.
Semua bisa bicara. Tak cukup hanya nonton. Begitu motto kami “.

Continue Reading

Ilham Anas sebagai Barack Obama

Euforia Barack Obama membuat rejeki datang secara tiba tiba untuk fotografer asal Indonesia. Ilham Anas yang wajahnya mirip sebagai Barack Obama memulai perannya didunia selebritis. Menjadi bintang iklan untuk sebuah produk obat obatan di Phillipina.
Dalam film iklan ini diceritakan dia sedang diundang jamuan makan bersama Presiden Philipina, Gloria Macapagal – Arroyo.
Pakde Umar Kayam pernah memerankan Bung Karno dalam film ‘ Pengkhianatan G 30 S PKI ‘. Ketika syuting di Istana Bogor, para pelayan yang sudah puluhan tahun disana, tiba tiba ndeprok, ” Bung Karno Rawuh “.

Kemiripan wajah seorang tokoh bisa menimbulkan tragedi, lelucon atau tafsir diri kita sendiri. Untuk periklanan ini dipakai sebagai repositioning yang menjadi elemen penting dalam restrategizing. Suatu positioning dengan wajah tokoh terkenal – makanya banyak iklan memakai selebritis – tidak sekedar merefleksikan suatu ‘ ajakan ‘, tapi juga merupakan strategi pemasaran. Ini membuat perbedaan dengan produk kompetitor lainnya. Jadi konsumen akan semakin tinggi brand awarenessnya terhadap produk ini.
Ya, namanya iklan. Sebagaimana kata Budiman Hakim. Jangan berharap iklan akan menjalani fungsi mendidik.

Continue Reading

Kopi Berontoseno

Secara tradisional ketika dunia periklanan belum maju, perusahaan Indonesia belum berpikir menggunakan pemasaran modern untuk mendongkrak citra mereknya. Kini dengan menggeliatnya – globalisasi – komunikasi pemasaran. Walau bukan satu satunya tapi periklanan lewat media massa punya pengaruh cukup besar. Setidaknya menciptakan brand awareness.

Bagi masyarakat, sesuai hukum demand dan supply , umumnya menganggap semua produk sama, sampai konsep pemasaran di gunakan untuk keluar dari bungkus commodity trap seperti itu. Jadilah Kopi ABC, Nescafe dan tentu saja Kopi Brontoseno.

Merek merupakan nilai utama pemasaran. Dalam sebuah kompetisi pemasaran yang sangat ketat peran merek akan meningkatkan pemasaran.  Sayangnya di Indonesia tradisi mengedapankan merek agar menjadi ekuitas yang kuat, belum sepenuhnya disadari.  Merek hanya sebuah nama, dan bagian dari produk.  Digunakan agar bisa dibedakan dengan produk lain.

Continue Reading

TV RATING

Ada pemikiran menarik dari pakar komunikasi Effendi Gazalie minggu lalu dalam harian Kompas, yang menentang dominasi rating televisi terhadap kebijakan siaran televisi. Tentu saja kaitannya dengan pemilihan program acara. Bagaimana tidak, dengan isi acara televisi yang lebih banyak cinta cinta anak SMA, horror, hidayah yang tidak bermutu, hiburan talkshow yang lebih banyak komedinya membuat banyak orang bertanya tanya apakah benar ini yang menjadi bench mark tontonan bangsa ini ? Pemilihan rating ini yang dilakukan oleh lembaga riset bisnis juga , membuat televisi terjebak untuk membuat acara berdasarkan data yang dibuat lembaga riset tersebut, serta kaitannya dengan nilai rupiah iklan iklan yang menjadi pemasukan TV. Klopnya, pemilik TV di Indonesia merupakan pebisnis ala pedagang kelontong yang tidak berpikir tentang kontribusi penyiaran terhadap pendidikan atau budaya misalnya.

Permasalahannya apakah data tersebut cukup akurat dengan metode sampling untuk menentukan bentuk tontonan ini memang digemari orang, repotnya lagi tidak ada lembaga riset independen yang mengurusi hal seperti ini. Pemerintah juga tidak peduli, padahal di Amerika sejak tahun 60an sudah ada pengaturan mengenai urusan TV rating yang disahkan kongres, karena memang bisa mempengaruhi pola pikir suatu masyarakat. Ini bisa jadi mengerikan karena televisi sudah menjadi bagian pola hidup manusia. Bayangkan saja penonton kita mengalami cultural brain wash , karena dijejali bentuk bentuk tontonan kering, tidak inovatif dan melankolis. Ibu tiri yang kejamnya luar biasa,pembantu yang cantik jelita, bapak guru yang bercinta dengan muridnya sampai cerita agama yang lebih mengajarkan sosok Tuhan dengan pecut api di tangan kiriNya serta dan pintu neraka di tangan kananNya.

Continue Reading

APA ITU IKLAN BUATAN INDONESIA ?

Suatu hari di minggu minggu lalu saya mendapat panggilan di telpon genggam dari seorang staff ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, yang disusul dengan permintaan bahwa Menteri Sofyan Djalil ingin bertemu dengan perwakilan pekerja film iklan, tentu saja dengan kapasitas saya sebagai Ketua Asosiasi Pekerja Film Iklan Indonesia. Dalam pertemuan yang sangat menyiksa terutama dalam kostum, karena saya harus mengganti busana jeans dan kaos t shirt sehari hari, jelas dipaparkan kebijakan Pemerintah dalam mengatur industri film iklan di Indonesia melalui mekanisme penyiaran di lembaga penyiaran. Beberapa hari kemudian kembali telpon genggam saya disibukan dengan panggilan dari teman biro iklan atau rumah produksi. Ada yang memaki maki, ada juga yang bersyukur, ada juga yang ketakukan sampai ada juga yang putus asa, Semuanya berhulu pada kebijakan Pemerintah, melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, No 25 /5/2007 mengenai “ Penggunaan Sumber Daya Dalam Negeri Untuk Produk Iklan yang disiarkan melalui lembaga Penyiaran. Kesibukan industri film iklan menjadi senyap sesaat untuk saling mencari tahu apa dan bagaimana bentuk produk kebijakan Pemerintah tersebut. Bahkan, ada teman saya seorang sutradara asing yang tinggal dan hidup di Indonesia bertahun tahun, harus membatalkan meetingnya karena ia harus menemui saya dan mencari penjelasan lebih lanjut mengenai periuk nasinya di kemudian hari. Sementara bagi pekerja film iklan Indonesia, kebijakan ini bisa menyenangkan tetapi disisi lain sekaligus menakutkan sekaligus membunuh kalau memang kita tidak siap mengisinya.

Continue Reading

LOGIKA KEJUJURAN DALAM AKTING DI FILM IKLAN

Seorang guru acting Sanford Meisner

pernah mengatakan di depan murid muridnya, untuk mencoba sebuah karakter sekitar satu menit berdiri di pinggir jalan raya. Kemudian ia bertanya, “ Apa kalian mendengarkan karakter atau mendengarkan diri sendiri ? “. Ternyata dengar mendengarkan karakter akan menambah ‘ elemen of strain ‘ sementara dengan mendengarkan diri sendiri dengan menggunakan telinga kita sendiri – is relaxing, centering. Akan membuat aktor tidak berakting dengan huruf A besar. Berbeda dengan apa yang dipercaya pada umumnya bahwa sebuah acting adalah pura pura. Justru sebenarnya sebuah acting tidak boleh berpura pura dan harus jujur. Seorang aktor harus memulai dengan dirinya, mendengarkan dengan telinganya, melihat dengan matanya, menyentuh dengan kulitnya dan merasakan dengan perasaannya. Dengan mempelajari dari skrip ia membentuk sebuah pemahaman dari dalam dirinya sendiri. Lalu ia membentuk karakter dalam dirinya.

Continue Reading

KORUPSI DI DUNIA FILM IKLAN


( Hubungan PH dan Biro Iklan )

Minggu lalu seharian bersama Arswendo Atmowiloto menjadi juri buat Iklan iklan layanan masyarakat yang diselenggarakan KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi ). Benar benar miris setelah berbicara dengan teman teman di KPK mengenai tingkat korupsi di Indonesia. Betapa menyedihkan kalau bangsa ini termasuk dalam sepuluh besar bangsa yang tingkat korupsinya terbesar di dunia, bersama Myanmar serta negara negara Afrika seperti Nigeria, Burgundi. Ada yang bilang, ah itu khan biasanya terjadi di departemen , proyek proyek pemerintah atau Bapenas. Jangan salah, justru di kalangan dunia advertising, korupsi ini terjadi dengan bentuk bentuk kolusi antara PH dan biro iklan. Saya berani bertaruh setidaknya lebih dari separuh dari PH PH yang ada di Jakarta melakukan praktek praktek KKN termasuk didalamnya uang sogokan dan under table money demi untuk mendapatkan job. Hal ini memang issue yang sensitive dan sudah sekian lama dibiarkan menjadi pola pola kerja sama yang lama kelamaan akan menghancurkan industri ini sendiri. Pada awalnya saya menduga, bahwa praktek ini dimulai dengan kesalahkaprahan PH PH ketika menempatkan dirinya sebagai supplier dan bukan sebagai partner dalam produksi..

Dimulai dari keinginan PH untuk membina hubungan yang langgeng dengan suatu biro iklan atau orang orang kunci di dalamnya, baik dalam bentuk services makan, entertainment atau uang perdiems sewaktu melakukan post di luar negeri. Saya pribadi melihat ini masih dalam bentuk koridor yang wajar wajar saja, toh memang hal hal ini bisa dilakukan sepanjang dengan kemampuan PH dan tidak ada paksaan. Saya atau teman teman produser dari PH sering clubbing bersama teman teman biro iklan, dan kami menikmati saat saat ini bersama sebagai bagian dari sosialisasi pertemanan, Sebagai sutradara juga kadang saya di jamu makan ke luar oleh post production sebagai bagian dari proses pemasaran mereka. Bahkan pernah dibayari dan ditanggung akomodasi bersama para sutradara lain untuk menghadiri Pameran Broadcast Asia di Singapore. Yang penting saya tidak pernah meminta uang atau bagian dari quotation PH jika saya membawa pekerjaan post ke tempat mereka. Buat di kalangan PH ini diawali dengan service PH yang berlebihan dan terkesan royal. Seorang creative director bule dalam sebuah post di Singapore pernah mengeluh kenapa kamarnya hanya standar sementara produsernya bisa menempati junior suite. Ini membuka peluang peluang yang diawali mungkin dengan pembayaran tagihan telpon, kiriman parcel ( ..eh parcelnya di kirim ke rumah aja ya, jangan ke kantor.,padahal parcelnya buat seluruh team di kantor ), lalu akhirnya yang paling parah berapa persentase yang bisa diberikan pada oknum oknum tersebut.

Inilah yang membuat rusak, kalau sudah ada deal deal sejumlah uang , atau komisi dari nilai quotation sebuah PH kepada agency. Nggak fair ! ini khan pekerjaan seluruh lini departemen dari traffic, client service, producer sampai creative. Lebih baik ngetreat party bareng dengan seluruh team di biro iklan. Ini akhirnya jadi serba salah, kalau tidak ada uang under table ke seorang oknum , job bisa bisa melayang. Mau dibiarkan, rasa rasa hati ini tidak rela, walaupun ini sebenarnya urusan produser, tetapi sebagai sutradara akan lebih bermanfaat jika uang tadi dialokasikan pada tambahan equipment, shooting days sehingga film iklan yang dibuat bisa lebih maksimal. Praktek ini sudah berlangsung lama dan tentu saja tidak ada yang mau melaporkan pada pimpinan biro iklan yang bersangkutan. Ya karena sudah dianggap biasa atau karena takut kehilangan job lagi. Pernah suatu malam saya mendapati seorang produser dari sebuah biro iklan yang pimpinannya adalah teman saya, sedang mengambil sebuah handphone PDA seri terbaru di kantor PH tempat saya bekerja. Goblognya si producer gaptek itu bukannya langsung pulang, tapi malah meminta producer saya mengajari cara pengoperasiannya. Si produser PH hanya cengar cengir kepada saya, ..” biasa man “. Lalu saya pernah ditelpon oleh seorang creative director dari biro iklan nasional, yang menanyakan apakah PH tempat saya pernah memberi uang kepada si produser biro iklan , tentu saja saya bilang tidak ( apakah ini bentuk kesetiaan ? ) walau saya tahu si produser itu gemar meminta bagian dengan alasan tactical fund untuk seluruh team. Akhirnya ada juga PH lain yang berani membuka suara sehingga si produser itu dipecat. Tidak hanya produser, ada juga Account Director yang meminta bagian 5 % dari total nilai job, dengan meminta jangan ditransfer ( mungkin ia takut bukti transfer bisa sebagai barang bukti ). Lalu bagaimana dengan orang kreatifnya, sami mawon. Ada teman kreatif yang meminta bagian dengan memintanya mentransfer ke rekening kakaknya ( mungkin dia tak mempunyai rekening tabungan sendiri ). Saya pernah ditelpon oleh seorang Creative Director, yang mengatakan bahwa akan ada job buat saya . Tentu saja saya berterima kasih. Tak lama kemudian datang sms dari dia,..” minta paket berapa saja buat gue..” tentu saja saya bingung, lho kok bukan produser yang mengurusi hal hal begituan. Mungkin dia malu berbicara dengan produser PH dan merasa lebih dekat dengan saya. Sampai sekarang saya masih menyimpan bukti transfer via ATM BCA itu, tentu bukan untuk dipublikasi, hanya disimpan buat collector items saja. Yang lebih parah kalau praktek ini dilakukan bersama sama secara team . Tidak percaya, ada creative director dan account manager ( atau account director ? ) yang sama sama mengambil uang jatah ke kantor PH. Kontan, masing masing 10 juta, mengantri di bagian keuangan, bersama sama supllier lainnya. Yang paling menyebalkan jika jatah bagian untuk oknum biro iklan itu hampir sama atau bahkan lebih tinggi dari production fee atau keuntungan si PH.

Memang tidak semua orang di biro iklan seperti ini, saya banyak mempunyai teman teman teman di kreatif, produser, dan client service yang memiliki integritas tinggi, jujur dan production result oriented. Namun gejala ini setidaknya menjadi pemikiran saya, betapa korupsi sudah berakar urat di segala system pekerjaan di Indonesia. Walau saya merasa seperti Don Qixot, saya juga bukan sok menjadi pahlawan dengan mengangkat topik ini, pasti ada yang terusik dan mungkin marah marah dalam hati. Bahkan kapok memberi saya job. Saya memang sudah mempertimbangkan semuanya, dan akhirnya dapat memahami apa yang pernah dialami Soe Hoe Gie, ketika ia merasa sendiri dan terasing dengan keterusterangannya.

SAMPAI DIMANA BATAS KOMPROMI SUTRADARA IKLAN

Saya pernah sekali waktu lepas dari kesibukan film iklan, dan mengambil pekerjaan Film Televisi, semacam sinetron beberapa tahun yang lalu. Karena ada sponsor dari sebuah produk, maka mereka meminta salah seorang creative dari biro iklan untuk ikut datang di hari syuting, walau si pekerja creative itu sendiri juga bingung, apa yang akan dikerjakan selama proses syuting. Bagaimana tidak, scenario yang membuat si Joko anwar yang saat itu belum jadi sutradara film kondang. Sampai akhirnya suatu saat ia berkata, “ Mas bisa nggak kalau anglenya dari sisi sini “. Saya bisa membayangkan kalau seorang Garin Nugroho atau Rudi Soejarwo diberi pengarahan di tengah tengah syutingnya. Bencana ! Hanya karena saya terbiasa bekerja di film iklan, maka saya hanya tersenyum padanya dan berbicara lebih lanjut untuk berusaha menangkap esensi apa yang dia pikirkan. Memang dalam film iklan sosok sutradara bukanlah menjadi peran utama sebagaimana yang sutradara film layar lebar atau musik video sekalipun. Disini seorang sutradara iklan harus menjadi bagian dari team kreatif dari sebuah campaign produk yang dikerjakan. Karena konsep berasal dari creative biro iklan, maka sah sah saja mereka berkepentingan untuk melihat konsepnya terdelivery dengan baik, sesuai strategi komunikasi yang sudah dirancang bersama klien mereka.

Ini susahnya bagi sutradara yang terbiasa di layar lebar, atau sinetron. Bisakah mereka menyingkirkan ego mereka dan membuang jauh jauh idealisme sebagai “ sutradara “. Maruli Ara sendiri sebagai sutradara sinetron jaminan mutu yang selalu tinggi ratingnya, mengatakan pada saya kalau ia tidak mau untuk berkompromi terhadap hal hal seperti ini. Namun banyak teman dari biro iklan sendiri yang pada akhirnya kebablasan dalam menempatkan posisinya dalam sebuah produksi syuting, seolah olah maha tahu mengenai prinsip prinsip dasar sinematografi. Scott Whybin dari Whybin TBWA & partner Melbourne mempunyai kiat sendiri mengenai wewenang sutradara, “ I’ve got this theory about directors. The more I put the trust in them, the harder they work for me. I don’t believe the creative team who sit behind the directors and look through the lens. You don’t need the cast of thousands at the shoot. Its waste of time, except maybe in the case of dialogue spot where there intonation the writer need to hear. The critical part of hiring director, building up the trust, and pre producing so he’s got the clear mind “.

Lebih lanjut Neil French, dedengkot creative Ogilvy & Mather melanjutkan, “ .. to be fair most directors have an exact feeling of what they want to shoot before they get there and a good director will have a shooting board including all the cutaways. They’re prepare for it. But what they’’re not prepared for is some spotty youth comimg up to them, halfway through the shoot, and saying, oh can we try it this way ? or somebody from the agency or client saying , oh can we covered it from this angle, just in case ? And I’ll say …No you cant try it like that. Im sorry little spotty youth, but the angle we are going to use is this one. Why would I want to do thirty five takes wrong when I could do thirty takes of which one is right ? option should be decided in pre production. Even the producers I admire have said to me on the shoot, Neil…you’d better shoot a cutways. And I know why they’re saying it, because if something goes wrong you’ve got a safety net. BUT I CAN WORK WITHOUT A SAFETY NET.

Akhirnya saya berpikir, kompromi memang mutlak diperlukan,karena pekerjaan film iklan adalah pekerjaan teamwork, bukan semata mata sutradara sendiri. Tetapi mestinya masing masing pihak mempunyai batasan batasan. Sutradara juga jangan terlalu merubah konsep yang sudah dipersiapkan sekian lama oleh biro iklan, dan mestinya menambah suatu nilai pada iklan ini dan pihak kreatif juga jangan terlalu mendikte atau memaksa suatu ide yang mungkin menurut pertimbangan sutradara agak sulit secara teknis, budgeting maupun logistik. Yang paling penting jangan takut membuat suatu keputusan sebuah shoot atau adegan, sepanjang itu secara visual memiliki nilai art dan yang paling penting adalah relevan dengan konsep strategi komunikasi klien. Memang sebuah komposisi gambar film sangat subjektif dari mana kita melihatnya. Seni tak mutlak bulat bulat kok.

BAGAIMANA MENILAI SUTRADARA ITU BAIK ATAU BURUK

Seorang pemerhati film pernah berkata, kenapa film film iklan yang dibuat Riri Reza pada beberapa tahun yang lalu, kok biasa biasa saja ( mungkin dia mau mengatakan buruk tetapi merasa tidak pas ungkapannya ). Sementara karya layar lebarnya sangat luar biasa dan menjadi salah satu pencapaian film film terbaik dalam sejarah perfilman nasional. Di kisah lain,ketika menghadiri Pinasthika Award di Jogja, seorang Creative Director mengeluarkan uneg unegnya kepada saya disela sela makan malam menyambut para tamu, bahwa dia tidak akan memakai si sutradara anu karena dia tidak menunjukan perform yang diharapkan sewaktu membuat sebuah iklannya. “ kayaknya si anu dan PH anu nggak bakalan dipakai lagi di tempat gue..”. Padahal setahu saya si sutradara anu tersebut yang berkebangsaan asing, mempunyai karya yang bagus bagus. Bahkan salah satunya menjadi salah satu kategori terbaik dalam Festival Film Iklan Fines beberapa bulan yang lalu. Lalu ia terus bercerita bahwa lighting mood yang dihasilkan oleh sutradara itu tidak sesuai dengan harapan si creative. Karena ini iklannya bercerita sebuah konser, si sutradara hanya memakai available light dari tata cahaya panggung, disamping jumlah talent penontonnya yang terlalu sedikit. Saya hanya berpikir , Mungkin saja si sutradara sudah meminta equipment tertentu atau tambahan crowd, hanya dari pihak PH tidak mengabulkan. Jadi siapa salah ? tetap saja si sutradara, karena baik atau buruk, predikat itu akan lari ke sutradara pada akhirnya.

Ini agak kompleks permasalahannya dan kita melihat dari sisi mana ? tentu masing masing pihak akan mempunyai pembenaran yang akan sangat subyektif pada akhirnya. Mungkin bisa juga sejak awal sudah tidak ada hubungan chemistry antara sutradara dan kreatif, bisa juga sejak awal konsepnya sudah ‘basi’ sehingga mau diulik bagaimanapun juga tetap saja menjadi sebuah iklan yang biasa, atau lebih jauh lagi si sutradara merasa menjadi sasaran tembak karena tidak ada support dari production house, yang ujung ujungnya ia tidak mempunyai passion untuk mengerjakan iklan itu. Jadi tidak bisa dilihat secara kasus per kasus.Ada teman yang sampai sekarang tidak bisa bekerja dengan salah satu biro iklan besar di Jakarta, karena pada awal karirnya 7 tahun yang lalu dianggap membuat kesalahan pada sebuah iklan, padahal kita tahu saat ini ia adalah salah satu sutradara papan atas untuk iklan. Bagaimana dengan saya sendiri ? mungkin ada biro iklan yang menganggap saya sutradara jelek, nggak focus, malas dsb tetapi ada juga biro iklan yang sudah ‘ kasmaran ‘ pada saya dan mempercayai memegang sebuah produk selama 3 tahun !

Saya jadi teringat seorang creative director sebuah biro iklan multinasional, waktu itu saya diminta mengerjakan sebuah iklan produk elektronik yang selama ini belum pernah membuat iklan di Indonesia, karena banyak mengambil iklan adaptasi dari luar negeri. Tentu saja saya agak sedikit stressed out karena tentu semua mata dari biro iklan dan klien akan melihat ke film iklan ini. Ternyata selama syuting, si creative director itu sama sekali tidak pernah berkomentar atas shoot shoot saya, bahkan seperti ia tidak perduli. Ketika syuting selesai, ia hanya meminta memutar seluruh rekaman take take yang sudah diambil, setelah itu ia berkata “ Okay ..bagus “. Saya menanyakan kenapa selama syuting ia sama sekali diam. Ia hanya tertawa dan mengatakan bahwa ia hanya melihat secara keseluruhan, obyektif iklan ini, Lebih lanjut dia mengatakan dia tidak peduli apakah saya mau mengambil low angle, atau apapun shoot yang saya rancang, asalkan secara keseluruhan iklan ini sesuai konsep strategi komunikasi yang ia buat. Saya menyimpulkan ia berpikir secara macro, bukan melulu detail detail setiap shoot. Tapi ada juga creative yang selama syuting selalu duduk di sebelah saya, memberi petunjuk setiap shoot, sampai ikut melihat framing melalui view finder camera.

Tapi ada petunjuk menarik dari Hal Riney, dari Publicis & Hall Riney Advertising San Fransisco. Ia justru menyalahkan creative yang banyak bergantung dan menyerahkan seluruhnya kepada sutradara. “ When I go into production. I know every nuance and frame of the film I expect to end up with. Anything to director contributes in addition is a bonus. But I will never turn over the responsibility for my work to a director. He has no responsibility, in fact because when the’s shooting’s over, he’s outta there, and Im left here with the result.” Sementara sutradara papan atas, Ipang Wahid dalam pelatihan sutradara iklan muda di Gedung Film kemarin mengatakan, bahwa justru ia banyak dipercaya oleh beberapa creative director, istilahnya “ terserah deh ini mau diapain pang..” Beruntung Ipang sudah memiliki chemistry relationship yang enak dengan para creative director, dan ini tentu tidak dibangun dalam sekali dua kali membuat iklan bersamanya. Sementara saya, begitu sudah tidak ada hubungan chemistry, rasa rasanya hilang sudah passion mengerjakan iklannya. Udah nggak mood. Paling paling saya dianggap sutradara buruk, Tapi sepertinya tidak perlu kuatir. “ Life is too short to worry “.