Biasanya ketika harus berpergian ke daerah terpencil, saya selalu menyiapkan telepon satelit Byru . Sekadar berjaga jaga jika jaringan seluler yang reguler belum menembus hutan atau pulau pulau terpencil. Ternyata dalam perjalanan di Papua bulan lalu, saya lupa membeli voucher telepon satelit, sehingga bener bener putus hubungan dengan dunia luar, khususnya Jakarta. 2 hari pertama masih agak cemas cemas, dan kepikiran mengenai beberapa pekerjaan yang harus di follow up. Namun hari selanjutnya, saya mencoba tidak memikirkan dan larut saja dengan petualangan di tanah papua ini. Ternyata sampai ketika kembali ke Jakarta, tidak ada hal hal yang mengganggu sehubungan ‘ dengan hilangnya ‘ saya selama seminggu. Biasa biasa saja.
iman
Michelle Yeoh Vs May Huang
Posted on December 16, 2007
Ini bukan sahibul hikayat atau sekadar imajinasi atas betapa dungunya birokrat kita menangani promosi pariwisata. Juga bukan mentang mentang May Huang menjadi simbol ikon pariwisata Indonesia.
Medio 1996 saya dihubungi oleh Nigel Goldsack, seorang teman lama dan bekerja di EON productions . Mereka tertarik untuk membuat film James Bond yang berjudul “ Tomorrow Never Dies “ di Indonesia dengan bintang Kanjeng cah bagus Pierce Brosnan yang jatmika. Mak jedug saya terhenyak tersandar di kursi. James Bond ? Syuting di Indonesia ? Ini bisa menjadi berita hebat. Maka berhubung waktu itu saya masih bekerja pada orang, maka berita ini saya laporkan kepada boss pemilik perusahaan.
Uang Amplop
Posted on December 14, 2007
Sudah beberapa bulan terakhir , disela sela pekerjaan selalu ada saja permintaan untuk memberikan workshop, menjadi juri atau pembicara. Sebenarnya melelahkan, tetapi tak ada yang indah daripada bisa memberikan sejumput ilmu dan gagasan kepada mereka yang membutuhkan. Namun ada yang jauh lebih indah ketika acara berakhir, panitia sambil tergopoh gopoh pringas pringis memaksa saya menerima amplop yang berisi uang lelah. Tak besar. Tapi itu bentuk apresiasi mereka terhadap kehadiran saya.
Sebenarnya itu juga bukan pamrih. Kadang kala saya benar benar insisted menolak amplop misalnya yang diberikan sebuah kelompok photography SMA. Toh, uang tersebut bisa sangat berarti untuk menyewa model atau biaya hunting pemotretan mereka. Tapi jika yang menyelengggarakan hajatan adalah perusahaan yang established, seperti Perlombaan Iklan Layanan Masyarakat mengenai Global Warming yang disponsori DAI TV bersama Yayasan SET Garin Nugroho . Tentu saja saya bersama sutradara film JAK Andi Bahtiar Yusuf dan tokoh periklanan sekaligus penulis Mas Joko Lelono, tak menolak disangoni amplop tanda mata tersebut.
Titian Rambut di Belah Tujuh
Posted on December 11, 2007
Dulu sewaktu kecil kita sering mendengar da’i di musholla bercerita tentang pembalasan api neraka kelak. Saat kita diuji dengan berjalan melalui jembatan shiraathal mustaqimm yang konon tipisnya bagai sehelai rambut di belah tujuh. Jadi anda anda yang keberatan dosa bisa dijamin mak gedabruk nyemplung ke api neraka. Nyoss, Menggelinjang, hangus dan terbakar. Bayangan jembatan ke surga itu tiba tiba saja mrucut terlintas ketika minggu kemarin mendaki menuju air terjun Cibeureum, lereng Gunung Pangrango – Jawa Barat. Dengan rombongan yang lumayan besar, dalam arti jumlah armada ojeg yang terlibat. Director of photography alias kameramen, tukang rias, penata kostum atau wardrobe stylish, produser, pemain, crew, sampai klien naik ojeg dulu melintasi kebun teh Pondok Halimun, Sukabumi – kami paksa naik gunung sampai perhentian terakhir. Itupun masih harus berjalan satu jam menembus hutan basah yang becek karena habis hujan semalam.
Prasangka
Posted on December 8, 2007
Ilham dan Irfan, anak kembar bungsu DN Aidit telah merasakan hidup yang sangat pahit, yang hampir tidak mungkin pernah kita bayangkan. Ketika semua mata menudingnya sebagai anak komunis, padahal ketika pemberontakan PKI terjadi mereka masih berusia 5 tahun dan tidak tahu apa apa. Tanpa diminta, mereka harus memikul beban dosa orang tuanya selama 32 tahun. Seorang tentara yang hampir menembaknya ketika mereka sedang bermain kelereng, ejekan temannya, sulitnya mencari sekolah dan pekerjaan, sampai kebingungan ketika harus berkenalan orang tua pacarnya. Semua ini karena sebuah stigma yang dinamakan prasangka. Saat bayangan pikiran kita terbungkus rasa curiga. Kadang bisa menjadi benci dan dendam. Namun masih ada saja orang yang memiliki hati mulia, seperti keluarga Moelyono yang merawat dan mendidik mereka di Bandung sampai dewasa.
Jayagiri
Posted on December 5, 2007
Ada suatu masa, ketika saya begitu menyukai sebuah tempat bernama Jayagiri. Sebuah sisi di lembah gunung tangkuban perahu, Jawa Barat. Ada saat saat masa kuliah menikmati indahnya suasana disana. Berkemping, menikmati jagung rebus atau sekadar berjalan diantara pohon pohon pinus. Benar benar indah. Saya harus mengenakan jaket karena pada jam dua belas siang, kabut sudah turun menyelinap diantara pucuk pucuk pohon. Dingin dan sekaligus menghangatkan jiwa ini. Terlebih jika bergandengan dengan dia yang saat itu saya cintai sepenuh hati.
Bagi mereka yang pernah mengenal lagu lama dari Bimbo, ‘ Melati dari Jayagiri ‘ pasti merasakan betapa dalamnya lirik ini.
“ Melati dari Jayagiri
Kuterawang keindahan kenangan
Hari-hari lalu di mataku
Tatapan yang lembut dan penuh kasih …”
Sebuah Ruang Publik Blog Kita
Posted on December 2, 2007
Tentu saja tulisan ini tidak bertujuan tendensius memojokan seseorang atau keyakinan atas pilihan berkomunikasi. Menarik bagi saya, melihat penjelasan dari seorang selebriti . Dalam arti benar benar selebriti di dunia nyata. Bahwa ia merasa tidak siap untuk membuka ruang komentar seluas luasnya terhadap pengunjung blognya. Tentu saja saya tidak bisa memberikan opini karena memang dibatasi pagar registrasi aktif. Sungguh disayangkan karena selain memang saya mengagumi beliau sebagai salah satu legenda musik Indonesia, lebih jauh lagi blognya memang menarik dan penuh pencerahan. Ada kekuatiran bahwa membuka kunci gembok ruang komen, membuat memasuki ruang belantara machiavelli yang sulit di kontrol. Namun kekuatirannya menjadi sangat berlebihan. Kenapa berlebihan ?
Tebar Pesona
Posted on December 1, 2007Kalau kedaerah boleh apa saja, boleh marah, boleh jabat tangan, boleh tebar pesona, boleh tebar apa saja. Tebar bibit juga boleh… ( Wapres, Yusuf Kalla )
Istilah tebar pesona memang mendadak menjadi icon sindiran baru dalam dunia politik saat ini, terutama menjelang pemilu capres 2009. Presiden SBY kerap digunjingkan melakukan tebar pesona untuk menutupi kekurangan kegagalan program kemakmuran rakyatnya. Gayanya tenang dan teduh saat melakukan wawancara dalam panen besar bersama petani petani sampai membuat album rekaman, ditenggarai salah satu trik trik yang dirancang oleh biru humas atau penasehat public relationsnya. Tebar pesona, juga memberi ilham kepada para politisi, mantan gubernur, mantan jendral dan ketua partai untuk mulai mempersiapkan dirinya masuk bursa RI 1. Sekonyong konyong mak brebet, di seluruh negeri muncul safari kunjungan daerah, baliho, pesan radio, iklan surat kabar mengenai pesan dan harapan terhadap seluruh rakyat kerajaan Indonesia hadiningrat.
Rumah Baru
Posted on November 28, 2007Akhirnya saya menempati rumah baru setelah sekian lama tumbuh dan besar di rumah lama. Tentu saja, saya harus merawat sebaik baiknya rumah ini. Membuat betah bagi mereka yang mengunjungi, serta menawarkan air gagasan dari oase kehidupan ini . Walau hanya seteguk saja.
Selamat datang di rumah baru saya. Mari !
DRUPADI
Posted on November 26, 2007Di lokasi syuting, Ahmad Sukenti alias Kenti mengeluh betapa sulit hidupnya sekarang, setelah mempunyai istri dua. Selain dua dapur yang harus dibiayai, ada persoalan yangmembuatnya senewen, yakni keadilan. Bagaimana ia mengukur rasa keadilan yang sama di antara kedua istrinya. Tanpa ditanya, saya bisa membaca jalan pikirannya. Daripada melihat istri tuanya yang gemuk memakai daster, lusuh karena mengurus anak seharian. Lebih baik ia menghabiskan harinya di rumah istri mudanya yang muda dan mulus. Bagaimanapun barometer keadilannya selalu berat sebelah. Namun ada yang jauh menarik di surat kabar yang saya baca baru baru ini. Bahwa akhirnya Mahkamah Konstitusi ( MK ) menolak uji materil atas UU Perkawinan No1 tahun 1974. Dalam Undang Undang itu disebutkan , bahwa seorang lelaki ingin beristri lebih dari satu ia harus mengajukan permohonan dari pengadilan. Untuk mengajukan permohonan ke pengadilan ia harus mendapat persetujuan dari istri, memiliki jaminan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya serta bersikap adil. Bagi sekelompok orang yang meminta uji materil perundang undangan tersebut , menilai peraturan itu mengurangi hak warga untuk berpoligami yang dianggap ibadah. Mengurangi hak prerogatif untuk berumah tangga serta hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945. Namun pada akhirnya Mahkamah Konstitusi (MK) menolak uji materi tersebut. Suatu keputusan yang melegakan hati.
VIVINK
Posted on November 22, 2007 Vivink . Begitu namanya. Saya juga tidak mengetahui namanya lengkapnya, kecuali Pinkina nama yahoo messenger IDnya. Saya belum pernah bertemu, dan ia biasa mengunjungi blog saya sekaligus berbincang bincang di cetingan. boso jowo terus. Kalau melihat profilenya – ibu muda berkerudung asli Bojonegero – yang baru menikah ini sepertinya manis dan ayu.
“ Mas, sampeyan kenal Hanung Bramantyo ? “
“ Mas, kalau kerja piye…? “
“ Lho orang film kok sepertinya foya foya terus ”
” Orang film suka kawin cerai to mas ”
Saya buru buru meralatnya.
” Iya tapi lebih banyak ulama yang poligami daripada orang film ”
Banyak sekali pertanyaannya. Curious dan polos. Saya jelaskan kalau tidak semua orang film bejat, ada yang alim juga. Ada juga yang berasal dari keluarga soleh.
“ Ponakan Gus Dur, anaknya Gus Solahuddin Wahid juga sutradara film , sembahyang jengking terus, walau banyak Tank top dan G string berseliweran “. Demikian saya menambahkan.
“ Trus kalau sampeyan yang mana ? “
Ciloko. Ini YM atau interogasi polisi.
“ Wah, ben Gusti Allah yang menilai saja deh..” demikian saya ngelesnya.
BLOG SAYA YANG SAYA CINTAI
Posted on November 21, 2007Beberapa hari terakhir saya mendapat kiriman pesan melalui Yahoo Messenger, baik orang yang saya kenal dan ada juga yang memang tidak mau memperkenalkan dirinya,..
” saya bukan siapa siapa, hanya pembaca setia blog mas Iman “.
Intinya, bahwa – ini yang tidak saya duga – mereka mempertanyakan mengapa saya merubah gaya menulis saya akhir akhir ini, dengan hanya menulis ‘ remahan ‘ ringan ringan. Dengan kata lain mereka protes karena tulisan saya yang cenderung ‘cair’. Terus terang ini juga mengagetkan saya, pertama , karena saya tidak menyangka bahwa di luar sana ada mereka mereka yang begitu memperhatikan rumah sederhana milik saya dan menjadikan isi tulisan saya sebagai tautan yang patut dibaca. Kedua, saya juga tidak berpretensi bahwa gaya tulisan ini memiliki benang merah emosi dengan orang orang yang tidak saya kenal di luar sana. Ini jelas menyejukan, memberikan pesan bahwa saya selayaknya merawat rumah ini sebaik baiknya, sepenuh hati. Ketiga, bagi saya menulis bukan ritual yang harus memiliki pola dan struktur yang sama. Menulis, bisa menjadi cair, sederhana, apa adanya dan di sisi lain bisa juga menjadi bentuk penyampaian sebuah gagasan apapun. Sehingga, sampai sekarangpun saya tidak tahu apakah tulisan tulisan ini memang sedemikian bisa dinilai dengan mudahnya.


