Ternyata banyak sekali reaksi yang datang atas tulisan tulisan saya mengenai Bung Karno. Ada saja email masuk yang mendukung maupun mempertanyakan motivasi tulisan saya. Tak ada yang salah, sebagaimana juga saya tidak merasa bersalah untuk begitu personal menuliskan ini. Saya hanya merangkum dari ceceran ceceran sejarah yang lupa diangkat. Terpinggir dan terbuang.
Namun yang paling mengesankan adalah, saya menerima email dari Nenny Hartono. Dia mungkin bukan siapa siapa dan saya juga tidak mengenal dia. Dia adalah puteri Letnan Jendral KKO ( Marinir ) Hartono yang sempat saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya .
iman
Harta Soekarno
Posted on January 21, 2008
TD Pardede , tokoh pengusaha asal Medan jaman dulu jika masih hidup tentu akan tercengang membaca berita majalah Tempo minggu ini :
“ Dari luar ruangan, sejumlah tokoh melihat pertemuan itu berlangsung dingin. Teh dalam cangkir berlogo Istana Presiden yang diangkut dari rumah Soeharto, tak disentuh. Hendarman – Jaksa Agung – kata sumber itu, lalu mengajukan konsep penyelesaian di luar pengadilan. Diantaranya, keluarga Soeharto harus membayar 4 trilyun kepada negara. Ini sepertiga dari tuntutan Pemerintah, yakni US $ 420 juta dan Rp 185 milyar plus ganti rugi immaterial Rp 10 trilyun atas Yayasan Supersemar .
Mbak Tutut dan adik adiknya hanya terdiam mendengar angka yang diajukan Pemerintah “.
Si ompung yang dekat dengan Bung Karno pasti teringat saat suatu hari dia dipanggil mendadak ke Jakarta. Mengetahui betapa miskinnya sang Presidennya. Setelah ngobrol ngobrol bersama menteri lainnya, Presiden Republik Indonesia itu mengajak TD Pardede ke pojok ruangan.
“ Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang ? “
Gelagapan karena langsung ditodong oleh penguasa negeri. TD Pardede merogoh saku saku jasnya dan memberikan seribu dollar dari kantongnya. Namun Bung Karno hanya mengambil secukupnya dan mengembalikan sisanya kepada Pardede.
Kiai Sadrach
Posted on January 20, 2008
Ketika membongkar dan merapikan koleksi buku buku di lemari ‘ perpustakaan ‘, saya membaca ulang buku ‘ Kiai Sadrach ‘. Buku yang diterbitkan tahun 1985 ini terjemahan dari L’affaire Sadrach, Un Esai de Christianisation a Java au XIXe Siecle dari C. Guillot ( Association Archipel, Paris ). Buku ini menjadi penting karena menceritakan sejarah agama Kristen di Jawa ( Bukan Katolik )
Kiai Sadrach memang dianggap sebagai pendiri Gereja Kristen Jawi.
Dilahirkan dari keluarga Islam Jawa. Raddin Abbas – dengan namanya sebelum dibaptis – telah belajar di dua pesantren, sebelum akhirnya berkenalan dengan Kiai Tunggul Wulung , asal lereng gunung Muria yang telah berpindah Kristen. Sang Kiai ini yang selanjutnya membawa Raddin Abbas ke Batavia dan memperkenalkan dengan komunitas Kristen Belanda.
Ada yang menarik bahwa keberhasilan Kristenisasi pada abad 19 di Jawa adalah hasil aktivitas orang orang pribumi sendiri. Terlepas dari aktivitas misionaris Eropa. Pada tahun 1889 jemaahnya disekitar Kedu sudah mencapai hampir 3000, sementara petugas zending yang bekerja lebih lama hanya mempunyai pengikut puluhan saja. Bahkan dalam perkembangannya Sadrach bersimpangan dengan pihak zending.
Bangsa Tempe
Posted on January 18, 2008
Orang Jawa ( termasuk Sunda ) memang egois. Mentang mentang jumlah populasinya mayoritas di negeri ini. Betapa tidak ? begitu salah satu elemen makanan utamanya mendadak sontak hilang di pasar, seolah olah stabilitas nasional terganggu. Kebutuhan tempe tahu harus menjadi skala prioritas. Padahal orang orang Papua, Maluku mungkin tidak begitu peduli.
Kitorang punya sagu dan ikan laut. Begitu katanya.
Sejak dulu tempe dianggap remeh tapi dibutuhkan. Kesan murahan dan pinggiran. Lha Bung karno aja pernah bilang, “ Jangan jadi bangsa tempe ! “ . Maksudnya bangsa yang klemar klemer, pasrah dan tertindas.
Memang begitu padi atau nasi menjadi primadona. Selama berpuluh puluh tahun konsentrasi komoditi pangan nasional selalu mengacu pada stock beras. Juga lahan gambut di Kalimantan harus disulap menjadi sejuta sawah. Padahal belum tentu cocok.
Ciuman
Posted on January 16, 2008What is a kiss ? Why this, as some approve;
The sure sweet cement, glue and lime of love
( Robert Herrick – From A Kiss )
Ciuman memang memabukan. Reaksi kimia yang dihasilkan bisa menstimulasi syaraf otak dan memacu detak jantung. Disatu sisi sebuah ciuman juga bisa menjadi kontroversi karena untuk sebagian orang dianggap satu tangga menuju pornografi. Sejarah film mencatat film Indonesia yang pertama kali memutar adegan ciuman, adalah “ Rahasia Boroboedoer “ tahun 1926, telah menuai kontoversial karena dianggap tidak pantas. Walau yang berciuman adalah bintang film Belanda.
Saya selalu penasaran dengan sejarah ciuman dalam perjalanan peradaban manusia, terutama dari jaman kuno dahulu. Dalam reruntuhan Pompeii di Italy sudah ada relief mengenai aktivitas ciuman, demikian juga relief Karmawibangga di kaki dasar Candi Borobudur. Umumnya memang diasosiasikan untuk membangkitkan rangsangan seksual.
Soekarno – Sejarah yang tak memihak
Posted on January 13, 2008
Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno.
Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
“ Pak Karno seda “ ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata ,
“ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Telanjang ? Siapa Takut
Posted on January 7, 2008
Sewaktu di sela sela persiapan syuting di Ubud – Bali – kemarin, saya diundang seorang teman pelukis untuk ikut melihat ia melukis seorang gadis telanjang. Tentu saja saya dimintai tolong untuk memotret si gadis, karena sekarang menurutnya begitu sulit memperoleh gadis bali yang mau di lukis telanjang berhari hari. Lebih mudah memotretnya, dan digambar diatas kanvas dengan melihat photo saja.
Agak grogi dan nderedeg juga awalnya.
Terakhir mungkin sekitar 5 – 6 tahun yang lalu saya memotret gadis telanjang.
Hanya saja waktu itu selalu ada saja yang marah marah, misuh misuh.
“ Kalau sudah jadi sutradara….nggak usah jadi photographer ..mau ikut ikut Darwis ? “.
Bukankah stabilitas keamanan dalam negeri lebih penting dari segalanya. Sejak itu saya lebih menekuni fotography bawah laut saja. Toh, ikan ikan juga telanjang.
Bumi Gonjang Ganjing
Posted on January 4, 2008
Konon Panembahan Senopati pendiri dinasti Mataram, sewaktu topo broto di pantai selatan memohon datangnya wahyu kekuasaan benar benar membuat geger kehidupan laut. Karena kesaktiannya, lautan jadi mendidih dan bergelora. Ikan ikan dan segenap isi laut tumpah dan mati disegenap penjuru. Alkisah, Kanjeng Ratu Kidul bergegas menemuinya karena kuatir isi lautan bakalan musnah. Intinya, bahwa manusia terlalu egois untuk memaksakan nafsu duniawi dengan ‘ memerkosa ‘ alam. Saat alam membalas memuntahkan bencana, manusia hanya bisa merintih dan meminta belas kasihan. Meratapi kematian.
Biasanya saya selalu suka hujan. Bau basahnya, juga udara dinginnya membuat saya sering kebanjiran inspirasi. Segar dan sekaligus melankolis. Namun kalau hujannya tak pernah berhenti, ditambah badai dan banjir ‘ betulan ‘ dimana mana. Rasa rasanya bukan hal yang ideal lagi. Jalanan macet karena lubang lubang di jalan bertambah banyak, syuting outdoor banyak tertunda – karena pawang juga menyerah – menunggu cuaca bagus. Yang lebih menyesakan bahwa banyak orang di pojok negeri ini harus menderita dan menjadi korban.
Fly is cheap
Posted on January 1, 2008
Nyaris saja terjadi huru hara di atas pesawat Adam Air dari Bali. Tidak tahu bagaimana caranya, petugas di counter check in bisa mengeluarkan nomor kursi untuk sebagian crew saya sampai 30 A,B,C,D,E,F. Padahal nomor kursi di dalam pesawat hanya sampai 29. Ini hampir membuat baku hantam rombongan crew saya yang berjumlah 25 orang dengan petugas Adam. Crew saya yang kelelahan karena berhari hari syuting dan terancam tidak bisa pulang ke rumahnya – menjadi beringas – hampir memporak porandakan isi pesawat.
Sebenarnya saya malas mengulas dunia penerbangan kita yang amburadul. Sepertinya sudah taken for granted, dan kita tidak boleh protes karena harganya yang murah. “ Fly Is Cheap “ begitu motto Wings Air sebuah sister company dari Lion Air. But our life is priceless begitu melihat Mandala yang jatuh karena kelebihan beban. Adam Air yang menyelonong ke Sumba karena radarnya tidak berfungsi. Serta Lion yang remnya selalu blong ngegelosor melewati runaway.
Refleksi Akhir Tahun
Posted on December 30, 2007
Seorang teman pernah menanyakan sebuah hal yang mungkin terasa aneh bagi saya.
“ Mas Iman dalam seminggu berapa hari di rumah ? “
Ini menjadi sebuah jawaban yang berputar putar terus dalam labirin. Karena saya tak tahu bagaimana menjawabnya. Sungguh. Rasa rasanya baru kemarin saya berkelana berhari hari syuting di selatan Jawa Barat dari Sukabumi, Cisolok, Pelabuhan Ratu. Pulang dan mengeditnya. Kemudian pergi recce atau hunting lokasi lagi di Jogjakarta dan Bali. Lalu kembali ke Jakarta. Kini, dua hari kemudian saya sudah duduk duduk di candi dasa, Bali bersama Christine Hakim . Menikmati kapucino Indocafe sachet yang dibawanya sambil memandangi pulau karang, Gili Topekong di Selat Lombok.
Ketika manusia menjadi pejalan jauh , ia sesungguhnya tidak kehilangan siapa siapa. Ia juga tak mencari cintanya. Pun tidak juga kehilangan rumahnya. Karena rumah itu akan selalu berada di hatinya kemana dia pergi. Sejauh apapun. Ini adalah bagian dari konsekuensi sebuah pencaharian yang disebut kerja.
….dan damai di Bumi
Posted on December 23, 2007
Ini cerita dari Gunawan Mohammad sekitar sepuluh tahun lalu. Saat itu Lamijah dan suaminya, Vllaznim Jaha harus meninggalkan Pristina, ibu kota Kosovo , karena orang Serbia mengusir mereka. Mereka harus masuk lewat jendela kereta yang berjejal, tak tahu persis perjalanan akan berakhir dimana. Dua tas mereka hilang, juga barang barang kenangan, foto keluarga, buku harian dan potret ayah. Namun seakan akan masa lalu tak bisa dihancurkan 100 persen, ada yang masih tertinggal. Sebuah sertifikat. Disana disebut nama “ Dervis Korkut “. Nama ayah Lamijah.
Dervis adalah korator museum Sarajewo tahun 1940an. Ketika Bosnia-Herzegovina diduduki Jerman dan orang Yahudi diburu, Ia melakukan sesuatu yang nekat. Ia menyembunyikan beberapa orang Yahudi di rumahnya. Termasuk Mira Bakovic. Gadis yahudi ini tinggal selama setahun dengan keluarga Korkut. Jika ada perwira Jerman bertandang – karena Dervis Korkut adalah orang terpandang – Mira disamarkan sebagai pembantu rumah tangga yang memakai jilbab. Keluarga Korkut adalah keluarga muslim, dan mereka bisa mengatur penyamaran dengan cara jitu.
Christine Hakim
Posted on December 19, 2007
Sejak saya masih pelajar, sosok Christine Hakim sudah begitu saya kenal melalui film filmnya yang legendaris. Saat melihat sosok ‘ Siska ‘ dalam Badai Pasti Berlalu versi baru yang dimainkan Raihaanun mau tak mau saya langsung membandingkan dengan karakter sama yang diperankan Christine Hakim lebih dari 30 tahun yang lalu. Seorang Siska yang apatis melihat dunianya serta tenggelam dalam kekecewaan yang hanya bisa diwujudkan melalui pengendapan yang luar biasa dari artis kaliber Christine Hakim. Belum lagi kalau kita melihat ‘ Cut Nyak Dhien’ . Dalam rintik hujan yang kelam kita merasakan tatapanan matanya yang buta begitu menusuk.
“ Kau mengkhianatiku Laot ? “
Nyeri, heroik dan sekaligus menggetarkan.
Dan kini sosok itu duduk di depan saya, berkonsentrasi mendengarkan penjelasan saya mengenai konsep story board film iklan yang akan kami eksekusi sebelum akhir tahun ini.

