All Posts By

iman

Antara Mak Erot dan Sensor Film

Saat persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai hiruk pikuk Lembaga Sensor Film, beberapa insan perfilman menyatakan, bahwa setelah menghabiskan investasi bermilyar milyar rupiah unuk sebuah film. Mereka tak berdaya begitu filmnya memasuki ruang sensor. Intinya lembaga sensor menjadi pengadilan terakhir bagi filmnya.
Apakah ini benar ?
Selalu ada saja yang menarik ketika ngobrol dengan petinggi BP2N ( Badan Pertimbangan Perfilman Nasional ). Ternyata menurut Undang Undang, jika ada perselisihan dengan Lembaga Sensor maka BP2N akan bertindak sebagai badan arbitrase yang menengahi sengketa tersebut. Bahkan lebih jauh lagi, dalam Rancangan Undang Undang Perfilman yang akan diajukan menggantikan UU Film ( lama ), secara implicit sudah disebutkan sebuah lembaga penilai atau klasifikasi yang akan menggantikan fungsi Lembaga Sensor.
Hanya apakah pemahaman lembaga klasifikasi ini sama dengan apa yang dibenak teman teman Masyarakat Film Indonesia. Itu urusan lain.

Continue Reading

Kerokan

sakit.jpgSelesai ngedit hari ini sampai jam 6 pagi, tiba tiba kepala saya kleyengan. Badan demam dan yang parah setiba di rumah, diare yang berkepanjangan. Ini tidak biasa biasanya – karena sebagai Master suhu – badan ini semestinya bandel. Dalam hati saya ngunandika. Pasti masuk angin. Tidak ada penjelasan yang konprehensif. Pokoknya kalau badan nggak enak, panas dan gringgingan, pasti masuk angin. Kalau bicara masalah belief, hanya satu cara penyembuhan. Kerokan.
Saya memang terbiasa dikerok sejak kecil. Masuk angin, perut kembung, batuk, flu sampai badan capai. Orang Indonesia, khususnya Jawa pasti terbiasa dengan metode penyembuhan ini.
Problemnya ini membutuhkan jasa orang lain untuk mengerok, dan sampai saya kembali siang ini ke tempat editing. Belum ada bisa mengerok saya. Sebenarnya ini kesempatan bagus bagi yang ingin membuka usaha khusus kerokan, sementara banyak tempat tempat yang menawarkan refleksi, pijat, totok wajah sampai akupuntur.

Continue Reading

Fidel Castro

castro.jpgMungkin ada pernah memperhatikan iklan Nescafe, seorang pria yang ketumpahan kopi panas ketika sedang memperhatikan seorang gadis di kantornya.
“ Pagi Bimo,….pagi donna “ demikian salah satu petikan dialognya.
Suatu hari si pemeran Bimo itu memberitahu hendak melanjutkan sekolah spesialis kedokteran di Havana – Cuba. Saya tertegun, nggak salah ? Ternyata justru saya yang salah. Cuba adalah salah satu negara yang angka kesehatan penduduknya paling tinggi di dunia, sekaligus memiliki sekolah kedokteran yang termaju. Disana menemukan dokter sama mudahnya seperti menemukan tukang rokok di Indonesia. Hampir ada di setiap tikungan. Ini juga karena bidang kesehatan dan pendidikan menjadi hak gratis bagi seluruh warganegaranya.
Ketika bencana gempa di Joga beberapa tahun kemarin. Fidel Castro – sang pemimpin besar – memerintahkan dokter dokternya untuk terbang ke tanah Jawa memberikan bantuan kemanusiaan. Ini mungkin juga karena nama Indonesia memiliki arti yang penting di mata Fidel Castro. Secara terus terang ia mengakui sangat terinspirasi oleh semangat dan ajaran Bung Karno. Bahkan ia mengadopsi ide berdikari yang selalu disuarakan oleh Bung Karno kepada bangsa bangsa New Emerging Forces saat itu.

Continue Reading

Bukittinggi

Ada yang tak habis dipikir tentang sebuah negeri yang namanya Indonesia. Ketika dengan nikmatnya saya melihat panggung panggung dagelan ketoprak disana sini. Begitu mengasyikan, sekaligus menyedihkan.
Masih banyak permasalahan bangsa seperti pengentasan kemiskinan, korupsi, keadilan dan persoalan hak hidup orang banyak. Namun selalu saja ada orang orang yang kelebihan energi untuk memikirkan hal hal yang sepele. Sebagaimana dikutip dari majalah Tempo, Pemerintahan Kota Bukittinggi, Sumatera Barat mengerahkan ratusan aparat satuan pamongpraja untuk merazia kota, mencari orang orang yang merayakan Valentine.
“ Valentine dilarang karena berbau maksiat, tidak sesuai dengan adat istiadat Minangkabau dan agama Islam ‘ – demikian Wakil Walikota Bukittinggi menegaskan.
Remaja yang dipergoki sedang merayakan hari valentine akan dikenakan pelanggaran terhadap peraturan daerah tentang pemberantasan maksiat.

Continue Reading

Sensor Film ?

Selalu saja ada yang meminta saya menulis tentang hal ini, hiruk pikuk masalah persidangan Mahkamah Konstitusi mengenai perlu tidaknya Lembaga Sensor Film ( LSF ). Jujur saja, sebenarnya saya malas. Pertama, saya takut tulisan ini menjadi buyest karena Masyarakat Film Indonesia adalah teman teman yang dekat secara konseptual maupun personal. Kedua, meminta pembubaran lembaga bentukan Pemerintah ini sama saja dengan kita meminta pembubaran babinsa, korem, kodam atau Majelis Ulama Indonesia. Kata almarhum Asmuni, ini hil yang mustahal.
Namun perkembangannya banyak suara mereka yang tidak mengetahui permasalahan ini, akhirnya menganggap bahwa kehancuran moral bangsa didepan mata karena para pekerja film menolak filmnya disensor. Umumnya mereka melihat pekerjaan lembaga sensor ini hanya dalam urusan ciuman dan adegan ranjang saja, Padahal tidak sesederhana itu.

Continue Reading

Senja di Ratu Boko

gerbang-ratu-boko.jpgSyahdan Rara Jonggrang, seorang putri Raja Boko mengajukan syarat kepada Bandung Bondowoso yang hendak meminangnya.
Berikan aku seribu candi dalam semalam, maka kuberikan cintaku padamu “.
Tentu saja Rara Jonggrang tak akan menduga kalau dengan kesaktian dan dibantu prewangan jin jin, Bandung Bondowoso dengan mudah menciptakan candi candi itu. Cemas karena mendekati candi ke seribu, Rara Jonggrang mengatur siasat dengan membuat kegaduhan dan membangunkan hewan hewan piaraan. Kokok ayam membuat Bandung Bondowoso mengira hari telah pagi dan gagal memenuhi tugasnya.
Kelak setelah mengetahui bahwa ia diperdaya oleh sang putri. Bandung Bondowoso melepaskan kemarahannya dengan mengutuk Rara Jonggrang menjadi patung Btari Durga yang kini berdiri tegak di pintu masuk Candi Sewu .

Continue Reading

Titian Muhibah

sam-poo-kong.jpgIde ini muncul begitu saja setelah chatingan dengan seorang eksponen AnangkuFansClubDotCom .
Mak jending
saya memutuskan titian muhibah menuju kota Semarang dan Jogja. Selain ingin memotret Barongsay di kuil Sam Poo Kong, saya ingin melepaskan kepenatan kerja dan keruwetan hidup di Jakarta. Ya, secepatnya.
Memang tak ada yang salah dengan keputusan ini. Toh saya sering berpergian, siapa tahu juga bisa mencharge baterei ide ide pekerjaan di kepala. Yang salah justru hujan yang tak pernah berhenti sejak pesawat mendarat di Semarang.
Fanny yang sebelumnya berbaik hati menjanjikan menjemput, terpaksa membatalkan karena banjir membuat ia tak bisa keluar rumah.
Namun, dalam keadaan terburuk selalu ada perspektif lain untuk menikmati. Saya sekaligus menjadi saksi pertalian dua komunitas blogger kondang. Adi , Budiyono , Fian , Pepeng , Fanny( yang akhirnya bisa bergabung ) dan banyak lagi dari Loenpia bersama Cahandong yang tak asing lagi. Zam , Anto , Alex , Gunawan , Leksa , Fungsit , Gandung , berbondong bondong menuju Vihara Pagoda Watugong, Kuil Sam Po Kong sampai menguji nyali di Lawang Sewu.
Saya memang menyukai hujan. Bau basahnya dan melankolisnya. Tapi jika berlebihan rasa rasanya menyebalkan juga. Ini yang membuat sore itu saya mengikuti Cahandong kembali ke Jogja. Berharap hujan tidak memonopoli udara Jogja.

Continue Reading

Unconditional Love

Sicilia, Italy – 1940. Malena harus mempercayai takdirnya saat Nico Scordia sang suami meninggalkan dirinya dan kota kelahirannya untuk berperang. Sebuah kisah menyentuh dalam film garapan Giussepe Tornatore , yang mengambil setting perang dunia II. Cerita ini mengalir begitu saja dalam sebuah bingkai bingkai kehidupan seorang gadis cantik yang menjalani hidupnya sepeninggalan sang suami. Pelecehan pria pria, imajinasi anak anak sekolah disekitarnya serta kemiskinan membuat ia harus menjalani perang sendiri yang lebih berat. Sampai harus menjual kehormatan dan menjadi salah satu gadis peliharaan tentara pendudukan Nazi.
Ketika Jerman kalah. Ia menjadi tertuduh bersama para kolaborator, diarak dan rambutnya digunting didepan umum. Perih dan terhina.
Malena harus meninggalkan kotanya, meninggalkan masa lalunya. Saat Nico Scordia kembali ke Sisilia, ia mendapatkan rumahnya telah diambil orang dan istrinya hilang tanpa bekas. Ia lalu pergi mencari dan akhirnya membawa Malena pulang kembali.
Sebuah kisah perang selalu mengabarkan sebuah potret kekejaman manusia, namun ada yang lebih menarik, bahwa Cinta mesti berkorban.
Malena tidak pernah menyalahkan keputusan suami untuk bergabung dengan tentara partisan. Nico Scordia, juga tidak pernah menyalahkan pilihan Malena menjadi prostitusi selama pendudukan Jerman.

Continue Reading

Lagi lagi blog pemuas dahaga

Suatu waktu kedamaian ndaleman komplek ibu saya terusik. Stabilitas terganggu karena adanya goro goro di kalangan bawah. Dari pembantu rumah tangga, babu dan batur. Selama ini bekerja di lingkungan yang isinya pensiunan dan orang orang tua semua memang enak. Tidak repot. Nggak ada anak anak pathing pecicilan. Jadi pekerjaan rumahnya sedikit dan sisa waktu bisa dipakai untuk ngerumpi, arisan dan duduk duduk antar sesama wong cilik.
Ternyata sumber goro goro atau huru hara ini, sejak tetangga sebelah rumah ibu memiliki pembantu baru.
Lelaki pasundan asal desa Ciwedey. Bernama Nana berkulit putih dengan senyum nan kasep.
Berhubung hampir sebagian besar pekerja urban di lingkungan kami adalah wanita, tentu saja Nana menjadi pusat perhatian.
Ada yang mentraktir baso. Ada yang membelikan pulsa handphone. Tentu saja Nana pintar menggunakan kesempatan ini.
Suara suara resah dari ibu ibu warakawuri, bapak dan simbah pensiunan karena ritme pengabdian para wong ciliknya berubah. Pak Jogoboyo pensiunan duta besar itu misuh misuh karena pembantunya yang asal Weleri sering lupa menyiapkan penganan sore sore. Ibu saya juga marah marah karena kran air lupa dimatikan, ditinggal sang babu – yang lari tinggal glanggang colong playu – setelah mendapat sms dari babu sebelah bahwa Nana sedang berduaan dengan Waginem asal Gunung Kidul.

Continue Reading

Please saya bukan plagiat

ide-lampu.jpgMalam ini hujan deras. Iseng iseng buka email sebelum tidur dan mendadak rasa kantuk itu hilang setelah menerima email dari sdr. Rusdi Mathari, pemilik blog Rusdi GoBlog .
“Mas,
Maaf cuma sekadar tanya. Artikel ini tulisan Anda sendiri, atau tulisan WS Rendra? Kalau tulisan Anda saya minta izin mengutip seluruhnya di blog saya. Kalau tulisan WS Rendra, di mana saya bisa membaca tulisan aslinya? Sorry banget, hanya sekadar tanya.
tabik
rusdi mathari “

Sementara itu ada email masuk dari Fadli Reza yang meminta saya bertindak segera atas prasangka yang mungkin muncul. Rupa rupannya ia hanya ingin meluruskan saja.. Ia meminta saya melihat postingan itu , di Rusdi GoBlog.

Continue Reading

Tangan Intelejen

spy.jpgDahulu ada seorang sakti dan ahli pengobatan alternatif yang tinggal di sekitar Ungaran. Namanya Pak Budi Santoso. Profesor Budi, demikian orang orang sekitarnya menyebutnya. Saya tidak tahu apakah dia professor medis sungguhan. Yang jelas dia membuka praktek pengobatan di rumahnya. Pasien pasiennya banyak sekali, sampai dari luar kota termasuk Jakarta. Saya mengetahui karena sempat mengantar almarhum ayahanda berobat disini periode tahun 1990.
Yang unik, setiap malam satu suro, Profesor Budi membuat satu atraksi ‘nyeleneh’. Dia membuat pagelaran wayang kulit, dan pada jam dua belas malam ia mengambil keris lalu menusuk perutnya sehingga ususnya terburai keluar. Berdarah darah dan menyeramkan. Setelah ‘ mati ‘ ia dikuburkan di halaman rumahnya saat itu juga.
Setengah jam kemudian, kuburan digali lagi dan mak jenggring sang professor hidup kembali dan segar bugar lagi.
Saya bingung, demikian juga sebagian penonton yang baru pertama kali menonton atraksi itu. Ini sulap atau apa ? Cuma saya tidak berani mempertanyakan secara langsung.
Bukan karena saya takut ditusuk keris, tapi karena saya terkondisikan harus mempercayai apa yang saya lihat. Tentu sekarang kita tidak bisa melihat atraksi itu lagi, karena sudah bertahun tahun yang lalu Profesor ini meninggal. Mati beneran.

Continue Reading

Kalau aku mati

i-see-the-light.jpgKetika seorang tokoh pelaku sejarah negeri ini berpulang kehadapan sang Khalik, meninggalkan sejumlah pertanyaan penting. Apakah lakon ini akan menjadi awal sebuah kesaksian atau menjadi sebuah bagian masa lalu. Lupa dan terbuang.
Selamat jalan Pak Harto. Semoga amal ibadahmu diterima dan menjadi pertanggungjawaban di hadapan hakim tertinggi. Setidaknya engkau telah memberikan sesuatu bagi bangsa ini. Sesuatu yang dinamakan pembangunan dan stabilitas nasional. Biarlah sisanya mencatat demokrasi Pancasila, represif, militer, keamanan dan kehancuran sekaligus.
Selamat jalan Pak Harto. Lihat, Bung Karno menyambutmu dengan senyum mengembang di perbatasan taman sari.
“..Mari Harto, ayo tulis sama sama sejarah negeri ini, kita banyak waktu disini “

Kalau aku mati, biarlah beranda terbuka
Anak makan jeruk ( Kulihat dari beranda )
Pengetam menyayat jagung ( Kulihat dari beranda )
Kalau aku mati, biarlah beranda terbuka !
( Federico Garcia Lorca )