Browsing Tag

TVRI

Media negara dan kedaulatan komunikasi

Dalam sebuah talkshow Menyongsong Indonesia Maju di TVRI Sumatera Selatan belum lama ini, anggota DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menyampaikan sebuah pemantik diskusi tentang penggabungan RRI, TVRI dan Antara menjadi sebuah institusi media negara komunikatif, efisien dan efektif, dengan rujukan BBC ( British Broadcasting Corporation ) di Inggris yang menjadi salah satu sumber terpercaya dalam pencarian informasi.

Sebenarnya wacana penggabungan RRI dan TVRI sudah masuk dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Radio Televisi Republik Indonesia (RTRI) yang menjadi usul inisiatif DPR sejak tahun 2012, dan pada 2015 masuk dalam daftar Prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) DPR RI Periode 2014-2019. Tapi sampai hari ini pembahasan masih berjalan di tempat, sedangkan perhatian publik atas proses pembahasannya nyaris tidak ada. Namun sekarang ide inovasi penggabungan itu kelak juga menyasar ke kantor berita LKBN Antara yang juga dilebur menjadi satu.

Indonesia sudah ketinggalan jika dibanding negara negara lain, dimana kita masih memaknai penyiaran sebagai metode penyiaran teresterial melalui pemancar TV atau Radio saja. Sementara jika kita melihat di luar, broadcasting menjadi salah satu elemen multiplatform yang terintegrasi dalam konvergensi media. Semua ini menyatukan 3 C – Computing, Communication, dan Content yang menyatukan aspek informasi komputer, jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten ( termasuk televisi, penerbit berita, radio, musik, film, dan hiburan ).

Untuk itu penggabungan Televisi, Radio dan Internet sekaligus merupakan sebuah keniscayaan seperti banyak negara negara lain yang memiliki PSM atau Public Service Media yang beberapa diantaranya sekaligus menjadi menjadi media negara seperti BBC Inggris, DW (Deutsche Well) Jerman, TRT (Türkiye Radyo ve Televizyon Kurumu ) Turki atau RTTL (Radio-Televisão Timor Leste) Timor Leste.

Continue Reading

Peran TVRI dalam Penyiaran Nasional

Keberadaan televisi di era internet ini akhirnya terganggu – disrupted – oleh kehadiran media baru dimana mengubah pola masyarakat menonton televisi. Penonton tidak sepenuhnya terpaku oleh jam siaran dan waktu siaran. Di era internet orang bisa menonton TV kapan saja, dimana saja dan yang lebih penting adalah topik apa yang digemari. Abrahamson (2017) dalam tulisannya berjudul Social Media Is the New Television memaparkan bahwa saat ini media sosial menjadi televisi baru bagi khalayaknya khususnya kaum muda. Menurutnya, kaum muda sudah mulai menjauhi layar televisi. Perhatian penonton, papar Abrahamson semakin menjauhi layar televisi dan terus bergerak menuju perangkat seluler dan media sosial.

Mengutip Insight Tubular, 87% generasi muda di Amerika menggunakan smartphone dan 92% dari mereka menjelajah di perangkat lain saat menonton program TV. Mereka sering menggunakan perangkat layar kedua untuk menghabiskan waktu di jejaring sosial, mengobrol tentang konten yang mereka tonton atau terlibat dengan konten yang berbeda.

Teknologi internet ikut mempengaruhi terhadap perkembangan pertelevisian baik di tingkat nasional maupun global. Aspek positif penerapan teknologi Internet sangat membantu dalam aspek televisi sebagai fungsi informasi. Dalam produksi berita atau informasi, khalayak sangat diuntungkan karena segala informasi dapat disajikan dengan sangat cepat dan aktual. Berkat teknologi streaming, sebuah siaran tidak dibatasi lagi oleh sekat-sekat kewilayahaan.

Pada bagian tertentu teknologi baru ini berdampak secara positif, tetapi juga berdampak negatif kepada bisnis TV yang semakin tertekan dengan kehadiran streaming online. Banyaknya penyediaan konten yang tersedia secara online membuat audiens lebih cenderung untuk menonton melalui internet. Audiens merasa sudah tidak memerlukan TV untuk mencari informasi dan hiburan. Dengan demikian, mengubah lanskap cara menonton konten dan menyebabkan penurunan jumlah pemirsa yang menonton tayangan langsung di TV. Data Nielsen mencatat penonton siaran TV berkurang 5,4 % setiap tahun sementara disisi sebaliknya, tingkat penayangan streaming online semakin meningkat.

Data dari Asia Magnite, mengatakan bahwa 88% dari pengguna di Indonesia, atau sekitar 197 juta orang menggunakan open internet, dan terlibat dalam beragam aktivitas seperti streaming video, game, musik, serta membaca berita digital setidaknya dua kali dalam seminggu. Dalam fenomena ini maka industri TV tidak bisa mengabaikan terjadinya perubahan pola menonton audiens yang semakin bergeser ke TV terkoneksi internet. Ini membuat anggaran media untuk dialokasikan ke saluran digital dengan TV terkoneksi internet juga terus semakin membesar.

Continue Reading

Bung Karno & TVRI

Ide tentang siaran Televisi sudah dipikirkan Bung Karno sebelum Pemilu tahun 1955. Hanya saja situasi politik saat itu masih belum mengijinkan pembentukan televisi nasional dan proyek itu masih dianggap terlalu mahal, sehingga harus ditunda. Tapi menjelang perhelatan Asian Games IV tahun 1962, mantan Menteri Olahraga Maladi mengingatkan kembali Bung Karno tentang pentingnya kehadiran televisi. Maladi percaya bahwa siaran olahraga melalui televisi akan membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan bangsa yang sempat dikacaukan berbagai gejolak pada awal kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno saat itu melihat tidak ada masalah dengan pendanaan karena Indonesia memilki dana pampasan perang dari Jepang. Dengan televisi, masyarakat di pelosok tanah air tak cuma mendengar suara tapi bisa melihat bagaimana para atlet Indonesua berjuang di pentas olahraga terbesar Asia itu.

Bung Karno yang sudah keliling dunia tentu paham bagaimana peran televisi, sebagai sebuah sarana untuk menunjukan kebesaran bangsa Indonesia ke dunia. Bung Karno menggambarkan televisi sebagai alat untuk pembangunan bangsa, revolusi, dan pembentukan manusia sosialis Indonesia.

Pada 23 Oktober 1961, Bung Karno mengirimkan telegram dari Wina kepada Maladi. Isinya, memerintahkan kepada mantan kiper nasional yang dipercaya menjadi Menteri Penerangan untuk mendirikan stasiun televisi di Indonesia. Dalam telegramnya, Sukarno memutuskan agar proses pembangunan diserahkan kepada Nippon Electric Company (NEC).

Continue Reading

Dibalik malam Kudeta PKI

Banyak pertanyaan yang terus diulang ulang sehingga menjadi kebimbangan publik, yakni apakah Bung Karno mengetahui rencana G 30 S PKI terutama pada malam 30 September 1965. Narasi, dokumentasi yang diciptakan orde baru memang seolah olah Bung Karno mengetahui dan bahkan merestui penculikan para jenderal tersebut. Semua plot dimulai dengan kisah dalam acara Munastek di Istora Senayan, dimana Bung Karno menerima surat dari seorang tentara yang memberi tahu bahwa gerakan akan dimulai malam ini. Kemudian selanjutnya Bung Karno memberi wejangan soal wayang dalam episode Barata Yudha yang diartikan jangan ragu ragu untuk bertindak walau harus berhadapan dengan saudara sendiri.

Ternyata ada penjelasan yang luput dari scenario orde baru, yakni kesaksian Eddi Elison, reporter TVRI yang bertugas malam 30 September. Mendadak ia diperintahkan Kol Saelan untuk jadi MC dalam acara Munastek di Istora Senayan. Begitu memasuki Istora Senayan, ia langsung melihat spanduk di belakang mimbar yang berisi kutipan perintah Khresna kepada Arjuna dalam bahasa Sansekerta, yang mana Arjuna bimbang dalam perang Baratha Yudha karena harus berhadapan dengan saudara saudaranya sendiri.

Kutipan dari Bhagavad Gita, itu seharusnya ditulis Karmane Fadikaraste Mapalesyu Kadtyana ( kerjakan semua tugasmu tanpa menghitung untung rugi ).
Namun pada malam itu ditulis Karamani Evadi Karatse Mafealesui Kadatyana. Sebagai orang yang mengerti hikayat Barata Yudha, Eddi Elison mengetahui penulisannya salah. Presiden pasti cermat dalam membaca sesuatu.

Continue Reading

Keberpihakan media TV dalam Kampanye

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia hasil munas 1993, Megawati Soekarnoputri pernah mengeluh kalau dirinya tak kalah cantik dengan bintang bintang sinetron di TV. Tapi kenapa tayangan wajahnya hampir tak tampak di televisi, baik TVRI atau TV swasta, tanyanya lebih lanjut. Uneg unegnya muncul pada HUT PDI di Denpasar tanggal 16 Mei 1993. Megawati secara terbuka menuntut TVRI agar lebih adil memberitakan berita seputar parpol dan Golkar. Seperti biasa protes itu dianggap angina lalu. “ Biarkan Parpol memprotes, TVRI tetap berlalu “.

Tentu jaman itu, siapa bisa melawan penguasa ? Hasil penelitian Harian Media Indonesia selama 3 bulan, April sampai Juni 1995, bisa sebagai dijadikan sample. Disebutkan TVRI menyiarkan kegiatan Golkar sebanyak 98 kali. PPP 10 kali dan PDI 2 kali. Sementara liputan ketua umum juga tidak seimbang. Harmoko menapat 38 kali. Ismail Hassan 10 kali dan Megawati 1 kali.

Menjelang pemilu 1997, Aliansi Jurnalis Independen mencatat total tayangan TVRI pada bulan Oktober – Desember 1998 adalah : Golkar 34 menit 18 detik. PPP 1 menit 20 detik, dan PDI 3 menit 9 detik. Itu diluar materi berita seperti temu kader Golkar, apel siaga dan sebagainya. Bahkan untuk HUT Golkar pada bulan Oktober 1996 , mendapat tayangan khusus berdurasi 3 jam non stop. PDI malah tidak mendapat ijin, dan massa PPP dikritik karena pawainya menyalahi aturan.

TV TV swasta yang notabene dimiliki patron patron penguasa, sama saja. RCTI , ANTeve. Selama pengamatan AJI 3 bulan itu, PPP hanya sekali masuk RCTI. Itupun berita negative, yakni calegnya yang ditolak Lembaga Pemilihan Umum. Itupun yang diwawancarai bukan orang PPP, tapi direktur BIA. Mayjen Farid Zainuddin.
Secara total RCTI meliput Golkar sebanyak 7 kali selama 8 menit, dan 7 kali di ANTeve selama 7 menit 11 detik. PPP hanya sekali di RCTI selama 55 detik, dan PDI hanya sekali di ANTeve selama 3 menit.

Continue Reading