Browsing Tag

Telekomunikasi bencana

Ketika peringatan bencana belum jadi keselamatan

Setiap kali gempa bumi mengguncang Indonesia, pertanyaan yang muncul bukan hanya seberapa besar dampak kerusakan dan korban, tetapi apakah masyarakat sempat mendapatkan peringatan ? Di sinilah kita melihat paradoks besar dalam sistem mitigasi bencana kita. Indonesia sebenarnya telah memiliki InaTEWS ( Indonesia Tsunami Early Warning System ), sebuah sistem peringatan dini bencana gempa bumi dan tsunami nasional yang dikelola oleh BMKG. Kondisi ini telah mendorong terbentuknya tradisi kesiapsiagaan nasional dan lokal melalui penggunaan sistem peringatan dini.. Sistem ini mendeteksi potensi bencana dalam waktu kurang dari 5 menit setelah gempa dan mengirimkan peringatan cepat ke lembaga terkait serta masyarakat. Ketika gempa bumi di Flores terjadi 15 Agustus 2026, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pukul 04.58 WIB dengan kekuatan magnitudo 7,7, data tersebut masuk ke sistem BMKG pada sekitar 05.03 – 05.41 WIB. Selanjutnya dalam waktu cepat, BKMG langsung memberi peringatan.

Informasi BMKG didiseminasikan melalui berbagai kanal dan media sosial. Dalam bencana Flores, BMKG juga menyampaikan arahan kepada masyarakat untuk melakukan evakuasi sesuai status wilayah dan menjauhi pantai pada wilayah tertentu. Masalah berikutnya apakah setiap orang mendengar alarm atau menerima pesan langsung di televisi atau perangkat handphone ? bagaimana pesan dari pusat mencapai mereka yang sedang berada di pantai, pasar, sekolah, kapal, atau rumah tanpa harus menunggu membuka media sosial atau aplikasi. Bahkan karakter tsunami Indonesia tidak selalu sama, dimana tsunami akibat longsoran atau aktivitas vulkanik dapat terjadi tanpa didahului gempa tektonik yang mudah terdeteksi oleh sistem konvensional.

Continue Reading