Tentang London

Jika kita berjalan menyusuri London, mungkin satu dari orang yang kita temui bukan warga asli Inggris. Ini tidak salah, dalam sensus 2021, warga asli Inggris di London hanya 58 %. Sisanya warga luar dari Afrika, Asia, Turki, Spanyol sampai Eropa Timur, dan 41 % dari warga tersebut, bukan lahir di Inggris. ini menunjukkan bahwa London adalah salah satu kota paling kosmopolitan di dunia dengan perpaduan keragaman budaya yang kaya.Jadi ketika kita mengembar gemborkan sebagai negara multi kultur, sebenarnya Inggris sudah merefleksikan hal yang sama.

Bahkan Inggris bisa lebih dalam lagi ketika pemimpin negeri mereka bisa diemban oleh etnis minoritas dan beragama non Kristen. Dalam sebuah perjalanan menggunakan transportasi tube bawah tanah, selain Bahasa Inggris kita mendengarkan ada yang bercakap cakap dalam Bahasa Hindi, Spanyol, Mandarin, Arab, Slavi bermacam macam.

Mungkin ini yang membuat PM Harold Macmillan dari Inggris terpukau ketika mendengarkan pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 “ To Build the World Anew “ dimana Indonesia menawarkan Pancasila untuk tatanan kehidupan dunia yang harmonis. Setelah pidato itu, ia mendatangi hotel Waldorf Astoria tempat Bung Karno menginap untuk menggali lebih jauh tentang konsep harmoni untuk negeri multi etnis.

Tak sampai setahun kemudian, tepatnya 28 Agustus 1961, Ratu Elizabeth II atas saran Macmillan mengundang Sukarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke London. Sukarno melalui Departemen Luar Negeri menyatakan bersedia menerima undangan sang ratu. Kunjungan kenegaraan ke Inggris diagendakan pada Mei 1962. Pengumuman resmi pun disiarkan.

Namun kunjungan Sukarno ke London batal karena tensi politik perebutan Irian Barat serta dilanjutkan konfrontasi dengan Malaysia. Surat kabar Inggris, seperti ditulis Toeti Kakiailatu dalam biografi B.M. Diah: Wartawan Serba Bisa, memberitakan hal pembatalan ini di halaman satu : “SUKARNO SNUBS THE QUEEN!” ( Sukarno Melecehkan Ratu ).

Bung Karno dalam biografinya mengatakan Ratu Inggris sampai dua kali mengundangnya datang ke Inggris dan dia belum bisa memenuhinya. Ini menjadikan London salah satu tempat yang tidak dikunjungi Sukarno selama masa kepresidenannya.

Inggris menawarkan pendidikan kelas dunia, sehingga Inggris juga salah satu tujuan terbesar untuk penerima beasiswa LPDP dari Indonesia. Sejak dulu tokoh besar seperti Sir Isaac Newton, Adam Smith sampai Karl Max melahirkan pemikiran di Inggris Raya yang mengubah dunia. Ini membuat Inggris sebagai oase pendidikan untuk menggali ilmu pengetahuan.

Ketika Omar Dhani masih Kapten dan belajar di Royal Air Force Staff College di Inggris. Ia diajari pelajaran Marxis yang tidak ada hubungan dengan ilmu kedirgantaraan. Tapi sebagai perwira militer harus paham tidak saja ilmu perang, tapi juga mampu menganalisa ekonomi dengan teori marxis. Kelak dalam sidang Mahmilub paska G 30 S PKI, jaksa penuntut menanyakan kenapa dia belajar Marxis. Omar Dhani menjawab bahwa itu kurikulum pendidikan di Inggris yang tidak hanya belajar kapitalisme. Dan itu tidak serta merta menjadikan Inggris sebagai negara komunis.

Jauh sebelum itu, Inggris sudah menjadi pusat ketertarikan Kesultanan Aceh. Ini bisa dibaca dalam peran Aceh dalam politik dan perdagangan internasional yang ditulis Anthony Reid dalam “ The Contest for Sumatra The Contest for North Sumatra: Aceh, the Netherlands and Britain, 1858-1898 “. Buku ini diterbitkan di Kuala Lumpur pada tahun 1969 oleh University of Malaya Press.

Ada kisah mengenai Sultan Iskandar Muda ( 1607 – 1636 ) yang meminta perempuan Inggris untuk dijadikan selir. Namun permintaan itu ditolak penguasa Inggris. Sebenarnya tujuan permintaan ini bukan bermotif personal, melainkan bagian dari strategi politik untuk mendapatkan keturunan campuran yang diharapkan memiliki keunggulan fisik atau kecerdasan tertentu, serta sebagai bentuk simbolis penaklukan atau persekutuan tertinggi dengan kekuatan asing yang ia hormati. Inggris dipandang Sultan lebih terhormat daripada Portugis.

Konteks zaman itu menggambarkan betapa percaya dirinya Sultan Iskandar Muda pada masa puncak kejayaan Aceh, di mana ia merasa berada di posisi tawar yang lebih tinggi dibandingkan utusan Inggris yang datang, dan berhak meminta komoditas ” istimewa ” dari negara Eropa tersebut.
Namun Inggris selalu menarik dengan klub bolanya. Saya selalu kagum dengan bagaimana dinas tata kota London mengatur arus penonton datang dan keluar stadion. Memindahkan 80 ribu penonton dari stadion ke seluruh penjuru kota dengan cepat dan efisien melalui moda transportasi kereta bawah tanah. Bayangkan betapa chaosnya lalu lintas dan kemacetan yang terjadi di sekitar Senayan jika ada pertandingan Persija melawan Persib.

Ketika Arsene Wenger masuk menjadi manager pelatih Arsenal tahun 1996. Ia mengubah pola permainan, sebagaimana tim tim sepakbola Inggris lainnya, yang didominasi ‘ Kick and Rush ‘ yang membosankan. Pemain buru buru menendang bola sekuat kuatnya ke kotak penalti lawan. Lalu membiarkan si penyerang berlari memperebutkan bola dan meneruskan ke gawang lawan.

Kini Wenger meminta Nigel Winterburn untuk tidak terburu buru menendang bola ke depan sejauh 90 meter. Ia bisa mengoper ke David Platt, yang akan mengontrol bola, memperlambat tempo, sambil menunggu jarak yang ideal dengan Ian Wright. Kini jarak antara pemain dibuat selalu dekat. Bergkamp tidak perlu berlari menyisir lapangan mencari bola, karena kini pemain lain yang mendekatinya sambil mengoper bola. Ini bukan lagi sepak bola. Ini sebuah komposisi orchestra yang indah.

Hari hari ini menikmati London setelah kepenataan selama 6 tahun menjadi abdi negara. Kini saatnya memikirkan perjalanan selanjutnya sambil belanja groceries, memasak, menulis dan memberi makan angsa di depan apartemen adalah sebuah orkestrasi hidup yang indah. Bung Karno sampai akhir hidupnya masih menyesali kenapa dia tidak pernah mengunjungi Inggris.

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply

    *