Jika kita berjalan menyusuri London, mungkin satu dari orang yang kita temui bukan warga asli Inggris. Ini tidak salah, dalam sensus 2021, warga asli Inggris di London hanya 58 %. Sisanya warga luar dari Afrika, Asia, Turki, Spanyol sampai Eropa Timur, dan 41 % dari warga tersebut, bukan lahir di Inggris. ini menunjukkan bahwa London adalah salah satu kota paling kosmopolitan di dunia dengan perpaduan keragaman budaya yang kaya.Jadi ketika kita mengembar gemborkan sebagai negara multi kultur, sebenarnya Inggris sudah merefleksikan hal yang sama.
Bahkan Inggris bisa lebih dalam lagi ketika pemimpin negeri mereka bisa diemban oleh etnis minoritas dan beragama non Kristen. Dalam sebuah perjalanan menggunakan transportasi tube bawah tanah, selain Bahasa Inggris kita mendengarkan ada yang bercakap cakap dalam Bahasa Hindi, Spanyol, Mandarin, Arab, Slavi bermacam macam.
Mungkin ini yang membuat PM Harold Macmillan dari Inggris terpukau ketika mendengarkan pidato Bung Karno di PBB tahun 1960 “ To Build the World Anew “ dimana Indonesia menawarkan Pancasila untuk tatanan kehidupan dunia yang harmonis. Setelah pidato itu, ia mendatangi hotel Waldorf Astoria tempat Bung Karno menginap untuk menggali lebih jauh tentang konsep harmoni untuk negeri multi etnis.



