Membaca buku “Neraka Rezim Soeharto “ seperti membawa kita menuju sebuah alam dunia lain, yang hampir tak pernah kita bayangkan. Ini cerita tentang tempat penahanan dan kisah penyiksaan terhadap yang menentang rezim orde baru. Sebuah misteri tempat penyiksaan yang tak pernah dipublikasikan. Buku ini dikisahkan oleh mereka yang selamat dan bisa keluar hidup hidup dari ‘ neraka ‘ itu. Sungguh menyesakan bahwa sebuah sistem kekuasaan bisa membuat seseorang kehilangan mata hati serta nurani kemanusiaannya.
Ada beberapa tempat yang sering dipakai sebagai ladang pembantaian terhadap tahanan seperti rumah di Jl Gunung Sahari yang disebut rumah tahanan Kalong dan bekas kantor Kodim Jakarta Timur. Kedua tempat itu umumnya untuk tahanan PKI, disamping Rumah Tahanan Militer Jl. Budi Utomo. Kemudian kantor polisi militer di Jl Guntur, rumah di Jalan Kramat yang disebut Kremlin dan bangunan di kebayoran lama yang biasa disebut Gang Buntu untuk tahanan peristiwa tanjung priok, Talang sari lampung, pemboman bank BCA, Kasus Malari atau pembajakan pesawat Garuda ‘ Woyla ‘.
Juga kisah para mahasiswa yang diculik oleh sebuah kesatuan militer yang menyekapnya di tempat kesatuannya di daerah Cijantung dan Serang, Jawa Barat.
Indonesia
Bahasa yang tersirat
Posted on March 4, 2008
Budaya kita memang tidak selalu mengajarkan untuk berbicara ‘ straight to the point ‘, berputar putar, dan membuat kita harus waskita membaca, atau mendengar yang tersirat. Bukan yang tersurat. Mungkin memang lebih nyaman seperti itu.
Jadi kalau anda membaca sebuah Bilboard reklame Perumahan di pinggir Jakarta.
“ Hanya 20 menit dari semanggi “
Berarti makna yang tersirat adalah , menempuh perjalanan 20 menit dengan kecepatan 100 km per jam pada saat jalanan tidak macet di jam tiga pagi.
Juga sebuah iklan layanan provider telekomunikasi XL. “ Hanya Rp 0,1 per detik “.
Seorang teman yang mencari referensi di website XL menemukan yang dimaksud adalah jika kita bicara 3 menit. Untuk 2 menit pertama kita dibebankan Rp 25 x 120 = Rp 3000,-
Kemudian baru klausul Rp 0,1 per detik berlaku di menit ke 3. Rp 0,1 x 60 = Rp 6,- Jadi total yang kita bayarkan adalah Rp 3,006,-
Lalu apakah jika kita berbicara 6 menit akan dikenakan 3000 + 6 + 6 + 6 + 6 = Rp 3024,-
Tidak Juga. Karena kita membayarnya dengan skema melompat lompat.
Menit 1 – 2, dibebankan Rp 3000,-
Menit 3, dibebankan Rp 6,-
Menit 4 – 5, dibebankan Rp 3000,- lagi
Menit 6, dibebankan Rp 6,- dan seterusnya.
Unbelievable Nation
Posted on March 2, 2008
Seorang penulis Norwegia, Stig Aga Aanstad dalam bukunya Surrendering to Symbols ( 2006 ) mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi negara besar periode 1960 – 1965. Bagi Amerika Serikat, Uni Sovyet ( dulu ) dan China, negeri yang bernama Indonesia tak mungkin diabaikan. Jumlah penduduk, kekayaan alam dan letak geografisnya. Demikian wartawan senior, Budiarto Shambazy pernah menulis.
Ia meneruskan bagaimana Bung Karno mengancam menasionalisasi migas dengan Undang Undang No 44 tahun 1961. Presiden Kennedy kebakaran jenggot lalu mengirim utusan khusus. Demikian juga Nikita Kruschov mengutus menteri pertahanannya untuk bersaing dengan Amerika. Tak ketinggalan Mao Ze dong mengirim Presiden China Liu Shaoqi untuk tujuan serupa.
Akhirnya Amerika “ menang “ , Bung Karno dan Kennedy menyetujui kontrak karya. Multi National Corporation ( MNC ) harus menyerahkan 25 % wilayah eksplorasinya dalam 5 tahun ke Pemerintah RI dan 25 % lagi dalam 10 tahun, serta wajib menyuplai kebutuhan domestik. Indonesia juga berhak atas 60 % keuntungan.
HITUNG HITUNGAN DENGAN TUHAN
Posted on October 10, 2007
“ Orang orang Barat sudah pergi ke bulan, tapi kita masih bertengkar mengenai mengintip bulan “ – KH Hasyim Muzadi
Bulan puasa hampir selesai tetapi masih saja orang ribut ribut bertengkar tentang kesepakatan 1 syawal 1428 Hijriah. Sementara di pojok negeri para pembela syariat , sibuk melakukan razia orang orang berpuasa dan penggerebakan warung dan restaurant yang buka di siang hari. Puasa juga membuat seolah kita memiliki privilege untuk dihormati dan lebih penting lagi menentukan ‘hitam putihnya’ sebuah konsep kehidupan dalam masyarakat yang pluralistik. Karena puasa ribuan orang pegawai pijat bersih, spa dan refleksi ,harus kehilangan uang tambahan berlebaran karena tempat kerjanya kena imbas harus tutup. Karena puasa juga orang orang kecil pemilik warung makan dan jamu hanya bisa menangis melihat usahanya diobrak abrik laskar .
Bisakah bulan puasa berjalan tanpa mengganggu hajat hidup orang banyak ? Padahal kalau keimanan saya berpuasa terganggu, itu karena diri saya sendiri yang gemblung, bukan karena orang orang yang asyik mengunyah makanan di pinggir jalan. Akhirnya dengan puasa kita menjadi polisi fiqih yang bertindak atas nama Tuhan, padahal mungkin Tuhan sendiri tidak pernah repot repot memikirkan ini. Karena Allah bukanlah tipe oppressed yang perlu dibela.
