Browsing Tag

ekonomi kreatif

Bagaimana memahami pengadaan jasa kreatif

Sampai sekarang Pemerintah masih tergagap gagap dalam memaknai nilai pekerjaan kreatif, sehingga itu yang muncul dalam perkara kasus konten creator Amsal Sitepu. Pekerja kreatif marah karena penyidik mengganggap ide kreatif bisa memetik dari udara, sehingga dianggap gratis dan bernilai 0 rupiah. Humas Kejaksaan Agung memberikan tanggapan didepan awak media, bahwa ada ketidaksesuaian antara RAB ( Rencana Anggaran Belanja ) dengan praktek di lapangan, yakni misal dalam RAB disebutkan pemakaian drone sekian hari tapi dalam praktek jumlah harinya lebih sedikit. Tapi mereka juga melihat Amsal juga melakukan syuting tambahan karena ada revisi dari kepala desa, artinya ada tambahan hari yang tidak di charge kepada klien.

Padahal dalam dalam pekerjaan pembuatan film atau video, bisa saja pekerjaan bisa lebih cepat karena ternyata cuaca mendukung dalam proses syuting, atau para pemain bisa langsung nyetel, jadi tak perlu lama lama latihan. Selain itu pemakaian beberapa alat – termasuk drone, kamera action Go Pro, itu kadang melekat kepada unit utama. Terserah mau dipakai sehari atau setiap hari. Sebenarnya semua aspek merupakan satu kesatuan, bukan dipecah pecah seperti kita menilai komponen harga dalam pembuatan bangunan atau pembelian barang umum.

Sehingga saya ketika pertama kali masuk TVRI, saya berdebat untuk mengubah sistem tender yang ujungnya murah murahan untuk pekerjaan kreatif – panggung musik atau pembuatan iklan, dokumenter atau drama seri. Bahkan LKPP ( Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang & Jasa Pemerintah ) dan BPK sudah memperbolehkan kita mengikuti kebiasaan yang berlaku di industri kreatif.

Team program TVRI juga pernah menghadapi pertanyaan dari auditor negara, kenapa membayar honor Iwan Fals sekian ratus juta harus melewati agency. Bukankah itu pemborosan ? Kenapa tidak langsung ke Iwan Fals. Perlu banyak penjelasan bahwa ini kebiasaan di industri ekonomi kreatif, dimana mana artis juga masuk dalam pemasaran agency. Lalu kenapa harus memakai sebuah PH dari luar untuk pekerjaan dokumenter senilai 600 juta, sementara dengan tenaga in house TVRI biaya mungkin hanya 50 juta. Lagi lagi harus menjelaskan prinsip ono rego ono rupo. Kita membutuhkan karya bagus agar konten kita dilihat orang.

Continue Reading

Perlukah kita punya gedung gedung teater

Desmonda Chatabel, demikian nama perempuan Indonesia kelahiran 1995. Dia kuliah di Royal Academy of Music in London, salah satu konservatorium musik terkemuka serta tertua di dunia. Didirikan pada tahun 1822, institusi ini secara konsisten masuk dalam peringkat teratas global untuk seni pertunjukan dan musik. Tempat ini diakui sebagai salah satu tempat terbaik di dunia untuk menempuh pendidikan musik. Kampus ini telah melahirkan banyak musisi berbakat, termasuk Sir Elton John yang pernah mendapatkan beasiswa di sana.

Tak banyak yang tahu, kalau Desmonda adalah orang Indonesia pertama yang menjadi pemain utama di panggung panggung teater drama musikal di London. Dia telah terlibat dalam Miss Saigon, Mamma Mia. Dia juga memainkan peran Princess Jasmine di Aladin, Lady Eurydice di Hadestown dan saat ini juga telibat dalam Rosie : A New Musical.

Tidak mudah bagi Desmonda bisa mendapatkan posisi seperti sekarang dan tentu saja ia sudah memutuskan menjadi warga London agar bisa lebih mudah menjalankan profesinya sebagai pemain teater.

Gubernur Ali Sadikin pernah mengatakan sebuah kota dinilai berbudaya dengan melihat jumlah museum yang dimiliki. Mungkin sekarang saya bisa mengubah pernyataan mantan Gubernur Jakarta itu dengan mengatakan sebuah kota dinilai berbudaya dengan seberapa banyak kota itu memilki jumlah teater. Bayangkan London dengan jumlah penduduk 9 juta orang memiliki 266 gedung teater, dengan sentra utama di Kawasan West End yang memiliki 40 gedung teater.

Continue Reading