Jauh ratusan tahun sebelum para founding father bangsa kita berbicara tentang nasionalisme. Raja Kartanegara dari Singasari telah membuktikan tanpa banyak bicara, dengan memotong kuping Meng Chi – utusan Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Mongol – dan mengusirnya pergi. Jelas jelas ia tidak mau tunduk pada permintaan maharaja dari Asia tengah. Singasari adalah negara berdaulat dan tidak mau memberi upeti kepada bangsa asing.
Tindakan ini membangkitkan kemarahan Kubilai Khan. Ia mengutus Shih-pi, Ike Messe dan Kau Hsing memimpin armada 1000 kapal dan tentara sebanyak 20.000 orang untuk menekan Jawa. Armada mereka yang gagah, memenuhi pelabuhan Tuban, tidak membuat gentar Raden Wijaya. Lagi lagi mereka tertipu oleh muslihat pangeran jawa ini, membantu menggulingkan Raja Jayakatwang dari Kediri.
SEJARAH
Soekarno – Hatta
Posted on August 15, 2008
Walau hubungan Soekarno dan Hatta mengalami pasang surut. Sebenarnya kedua orang ini sesungguhnya tetap bersahabat sampai akhir hayatnya. Sejak dulu keduanya memang berbeda dalam cara memperjuangkan kemerdekaan. Soekarno adalah orator ulung dan menginginkan penggerak revolusi massa, sementara Hatta sebaliknya. Ia pencerah alam pemikiran dengan pembawaannya yang tenang.
Menurut Soekarno jejaka Hatta adalah orang sangat malu dan merah mukanya jika bertemu gadis. Ia tak pernah berdansa, tertawa dan menikmati hidup. Tapi cara terbaik untuk melukiskan pribadi Hatta menurut Soekarno adalah dengan mengisahkan suatu kejadian.
ruang hening proklamasi kita
Posted on August 13, 2008
Persoalan suara siapa yang harus didengar tidak menjadi monopoli jaman sekarang. Para generasi muda saat ini yang progressive menyuarakan mereka yang lebih berhak memimpin bangsa ini daripada ‘ old establishment ‘ generasi tua.
63 tahun lalu para pemuda menolak dengan keras ide proklamasi dengan melibatkan PPKI ( Panitia Kemerdekaan Kemerdekaan Indonesia )- bentukan Jepang – karena dianggap representasi sebuah kemerdekaan yang diberikan oleh Jepang. Ini sesuai yang dikatakan Jenderal Terauchi pada tanggal 12 Agustus 1945 kepada Soekarno dan Hatta di markas besarnya Saigon. Bahwa Pemerintah Dai Nippon akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Persoalan tua muda, siapa yang layak mengambil keputusan atas nasib bangsa tidak melulu dilihat dari umur. Soekarno Hatta yang berumur 40 tahunan sudah dianggap barang rongsokan oleh generasi muda seperti Soekarni, Wikana, Soebadio, Soebianto Djojohadikusumo, Chaerul Saleh pada saat itu.
Para ibu yang berjuang
Posted on March 30, 2008
Berkat undangan Mbak Nenny Hartono, saya kembali menginjakan kaki di kampus Universitas Indonesia, setelah hampir 18 tahun saya meninggalkan kampus ini. Ini juga pertama kali saya menemuinya walau kita sering berkorespondensi melalui email. Saya mengenalnya – tepatnya dia yang memperkenalkan dirinya melalui email – setelah membaca tulisan saya yang sedikit menyinggung tentang ayahandanya. Beliau adalah putri Letjen KKO Hartono, bekas panglima marinir ( dulu KKO ) jaman Bung Karno.
Disini di dalam multi media centre , Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, sambil memenuhi undangan pemutaran film “ Afghan Chronicles “ serta diskusi dengan sutradaranya, Dominique Morisette , saya bertemu dengan sosok wanita sederhana yang aktif di Forum Silahturahmi Anak Bangsa ( FSAB ) . Sebuah forum untuk melekatkan komunikasi yang retak karena sejarah masa silam. Disana ada para putera puteri pahlawan Revolusi, PKI, Darul Islam, PRRI/Permesta maupun tokoh tokoh orde lama / baru.
Neraka Orde Baru
Posted on March 10, 2008
Membaca buku “Neraka Rezim Soeharto “ seperti membawa kita menuju sebuah alam dunia lain, yang hampir tak pernah kita bayangkan. Ini cerita tentang tempat penahanan dan kisah penyiksaan terhadap yang menentang rezim orde baru. Sebuah misteri tempat penyiksaan yang tak pernah dipublikasikan. Buku ini dikisahkan oleh mereka yang selamat dan bisa keluar hidup hidup dari ‘ neraka ‘ itu. Sungguh menyesakan bahwa sebuah sistem kekuasaan bisa membuat seseorang kehilangan mata hati serta nurani kemanusiaannya.
Ada beberapa tempat yang sering dipakai sebagai ladang pembantaian terhadap tahanan seperti rumah di Jl Gunung Sahari yang disebut rumah tahanan Kalong dan bekas kantor Kodim Jakarta Timur. Kedua tempat itu umumnya untuk tahanan PKI, disamping Rumah Tahanan Militer Jl. Budi Utomo. Kemudian kantor polisi militer di Jl Guntur, rumah di Jalan Kramat yang disebut Kremlin dan bangunan di kebayoran lama yang biasa disebut Gang Buntu untuk tahanan peristiwa tanjung priok, Talang sari lampung, pemboman bank BCA, Kasus Malari atau pembajakan pesawat Garuda ‘ Woyla ‘.
Juga kisah para mahasiswa yang diculik oleh sebuah kesatuan militer yang menyekapnya di tempat kesatuannya di daerah Cijantung dan Serang, Jawa Barat.
Kalau aku mati
Posted on January 27, 2008
Ketika seorang tokoh pelaku sejarah negeri ini berpulang kehadapan sang Khalik, meninggalkan sejumlah pertanyaan penting. Apakah lakon ini akan menjadi awal sebuah kesaksian atau menjadi sebuah bagian masa lalu. Lupa dan terbuang.
Selamat jalan Pak Harto. Semoga amal ibadahmu diterima dan menjadi pertanggungjawaban di hadapan hakim tertinggi. Setidaknya engkau telah memberikan sesuatu bagi bangsa ini. Sesuatu yang dinamakan pembangunan dan stabilitas nasional. Biarlah sisanya mencatat demokrasi Pancasila, represif, militer, keamanan dan kehancuran sekaligus.
Selamat jalan Pak Harto. Lihat, Bung Karno menyambutmu dengan senyum mengembang di perbatasan taman sari.
“..Mari Harto, ayo tulis sama sama sejarah negeri ini, kita banyak waktu disini “
Kalau aku mati, biarlah beranda terbuka
Anak makan jeruk ( Kulihat dari beranda )
Pengetam menyayat jagung ( Kulihat dari beranda )
Kalau aku mati, biarlah beranda terbuka !
( Federico Garcia Lorca )
Cerita Indonesia
Posted on January 25, 2008
Ternyata banyak sekali reaksi yang datang atas tulisan tulisan saya mengenai Bung Karno. Ada saja email masuk yang mendukung maupun mempertanyakan motivasi tulisan saya. Tak ada yang salah, sebagaimana juga saya tidak merasa bersalah untuk begitu personal menuliskan ini. Saya hanya merangkum dari ceceran ceceran sejarah yang lupa diangkat. Terpinggir dan terbuang.
Namun yang paling mengesankan adalah, saya menerima email dari Nenny Hartono. Dia mungkin bukan siapa siapa dan saya juga tidak mengenal dia. Dia adalah puteri Letnan Jendral KKO ( Marinir ) Hartono yang sempat saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya .
Kiai Sadrach
Posted on January 20, 2008
Ketika membongkar dan merapikan koleksi buku buku di lemari ‘ perpustakaan ‘, saya membaca ulang buku ‘ Kiai Sadrach ‘. Buku yang diterbitkan tahun 1985 ini terjemahan dari L’affaire Sadrach, Un Esai de Christianisation a Java au XIXe Siecle dari C. Guillot ( Association Archipel, Paris ). Buku ini menjadi penting karena menceritakan sejarah agama Kristen di Jawa ( Bukan Katolik )
Kiai Sadrach memang dianggap sebagai pendiri Gereja Kristen Jawi.
Dilahirkan dari keluarga Islam Jawa. Raddin Abbas – dengan namanya sebelum dibaptis – telah belajar di dua pesantren, sebelum akhirnya berkenalan dengan Kiai Tunggul Wulung , asal lereng gunung Muria yang telah berpindah Kristen. Sang Kiai ini yang selanjutnya membawa Raddin Abbas ke Batavia dan memperkenalkan dengan komunitas Kristen Belanda.
Ada yang menarik bahwa keberhasilan Kristenisasi pada abad 19 di Jawa adalah hasil aktivitas orang orang pribumi sendiri. Terlepas dari aktivitas misionaris Eropa. Pada tahun 1889 jemaahnya disekitar Kedu sudah mencapai hampir 3000, sementara petugas zending yang bekerja lebih lama hanya mempunyai pengikut puluhan saja. Bahkan dalam perkembangannya Sadrach bersimpangan dengan pihak zending.
Soekarno – Sejarah yang tak memihak
Posted on January 13, 2008
Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno.
Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
“ Pak Karno seda “ ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata ,
“ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
SIAPAKAH PAHLAWAN ITU
Posted on November 10, 2007Ketika saya masih kecil, bayangan pahlawan bangsa itu adalah mereka yang bertempur melawan penjajahan Belanda. Dengan selempang peluru di badannya, bambu runcing atau menghunus pedang. Gagah berani, walau pada akhirnya kalah dan gugur. Tentu saja karena saya besar dalam masa pendidikan orde baru yang militeristik, membuat kesan sisi heroik pertempuran saja yang dikupas sebagai mitos kepahlawanan. Mungkin Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki banyak pahlawan. Selain pahlawan kemerdekaan, ada pahlawan nasional yang tidak melulu bertempur tapi dilihat dari perjuangan diplomasi, kontribusi pendidikan sampai kesetaraan gender. Ironis bahwa pahlawan menjadi bagian konstruksi sejarah menurut selera rezim penguasa negeri. Para jenderal jenderal yang apes karena dijemput tengah malam, untuk kemudian dibunuh PKI, mendadak sontak menjadi pahlawan revolusi. Padahal issue sosial saat itu, adalah jendral kabir – kapitalis birokrat – yang hidup mewah sementara prajurit di pelosok harus antri beras. Bahkan ada salah seorang dari mereka baru pulang dari pesta, sebelum dijemput pasukan cakrabirawa. Bisakah sejarah menjadi jujur tanpa terjebak dalam pemikiran sempit mitos kepahlawan ?
JANGAN SEKALI MENINGGALKAN SEJARAH
Posted on June 24, 2007Banyak cerita cerita tentang Bung Karno dan salah satunya, yang diceritakan oleh orang tua saya.. Kisahnya ketika ibu saya sedang hamil muda, ia ngidam untuk bisa berdansa dengan Bung Karno. Tentu saja ayah saya pusing tujuh keliling bagaimana bisa memenuhi permintaan istrinya yang nyeleneh itu. Tapi memang seperti sudah digariskan, tiba tiba saja ada undangan dari Istana Bogor tempat beliau diasingkan menjelang kejatuhannya. Seperti biasa, selalu ada dansa tari lenso yang merupakan kegemaran beliau bersama tamu tamunya setelah makan malam.
Ibu saya yang duduk manis dengan kebaya kuningnya mendadak dipanggil Presiden pertama Republik ini untuk menemani berdansa. Sambil berdansa, Bung Karno langsung tahu bahwa ibu saya sedang mengandung, walau perutnya belum membesar. Ia mengatakan kelak anak dalam kandungan akan lahir dengan dibungkus plasenta…” Jadi berilah nama Bima atau Brotoseno “ , karena dalam hikayat pewayangan Bima atau Brotoseno lahir dengan masih dibungkus kulit telur. Jadilah nama belakang saya Brotoseno. Sampai sekarang ibu saya selalu bangga memandangi fotonya berdansa dengan Bung Karno. Sementara saya tak pernah bosan memandangi foto Bung Karno sedang berpidato dengan dikelilingi pejuang pejuang revolusioner ,yang terpasang dengan frame besar di rumah saya. Begitu heroik, charming, dan mempesona.



