Browsing Category

BLOGGERS

Titian Muhibah JawaTimuran

Kapasitas otak kita memang tak mungkin digenjot untuk melahirkan ide ide kreatif terus menerus. Kalau membaca bukunya Arief Budiman , “ Jualan Ide Segar “, jelas ia menemukan proses proses kreatif melalui ruang hening pengalaman prbadi yang tak disangka sangka, seperti di angkringan Tugu, Kaliurang, di dalam WC dan sebagainya. Problemnya, setelah bulan bulan lalu otak saya diperas habis habisan untuk beberapa pekerjaan film iklan. Atmosphere ide di sekeliling saya mendadak buram. Gersang dan monoton. Saya tak melihat ruang hening itu.
Saatnya mencharge baterei di kepala dengan memutuskan bepergian dalam liburan hari Kemerdekaan. Ini memang sudah dipikirkan jauh jauh hari sebelumnya.

Menuju Bromo. Bisa jadi biasa biasa saja karena saya sudah beberapa kali ke sana. Namun menikmati matahari terbit selalu mempesona. Tak pernah bosan bosan memotret disana . Sampai kapanpun. Perjalanan menuju Malang dengan Kereta Api juga menawarkan ide ide baru. Karena sudah lama sekali saya tidak menggunakan jasa transportasi ini.
Ritme suara roda yang konstant dan bergerak mengalir dari belakang ke depan, perlahan membelai imajinasi kita.

Continue Reading

Perbedaan adalah Rahmat

Mestinya postingan tentang kaos yang saya beli di festival Kemang ini, masuk di cerita kaos . ” Perbedaan adalah rahmat ” judul kaos ini. Sebuah cara untuk mengembalikan rasa ikhlas yang sulit didapat dalam sebuah perdebatan. Lihat saja kongres HMI – Himpunan Mahasiswa Islam – di Palembang baru baru ini. Ketua HMI Ciputat Jakarta harus digotong ke rumah sakit karena terkena bogem mentah dari pasukan HMI Makasar. Ini baru organisasi mahasiswa sudah pukul pukulan, bagaimana kelak jika menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Bisa jadi kepalan tangan dan emosi urat leher lebih dikedepankan jika perdebatan mengalami jalan buntu.
Daniel S Lev – Profesor pengamat Indonesia – ketika ditanya, apakah ia memiliki referens kehidupan politik yang ideal. Ia menjawab, tak usah jauh jauh melongok pada sistem demokrasi Amerika. Cukup melihat pada tahun 50 an, saat kehidupan demokrasi pada waktu itu mengajarkan bagaimana menghargai bentuk pikiran lawan. Pluralisme dalam ideologi dan pikiran adalah hal biasa.

Continue Reading

Gerakan Seribu Buku

Ada sebuah kebiasaan yang tak boleh dilupakan, ketika kami pergi menjelajah untuk menyelam. Yakni membawa buku buku apa saja untuk dibagikan kepada warga daerah tempat kita menyelam. Ada yang membawa majalah, atau membawa buku pelajaran. Saat menikmati alam bawah laut Raja ampat, Papua, ada teman yang membawa alkitab. Demikian juga ketika menuju Selayar, ada yang membawa buku buku agama Islam. Tidak banyak, dan yang lebih menggembirakan sebenarnya saat melihat mereka menerima dengan suka cita oleh oleh kami dari Jakarta. Buku yang mungkin menjadi barang langka bagi sebagian orang di pelosok pelosok negeri ini.
Saat surface interfal di kepulauan Padaido bawah, Biak – Papua. Keriangan jam makan siang kami di pantai bertambah dengan hiruk pikuk anak anak pulau yang berebutan membaca Donal Bebek sampai buku cerita lainnya. Luar biasa.

Continue Reading

jurnalisme delik aduan

Sarah Azhari sempat mengutarakan kekesalannya dalam sebuah dialog publik, sambil menunjuk aneka pemberitaan media info hiburan ( infotainment ) yang kerap menulis dan bernada menyudutkan. Lebih jauh ia menggugat tiadanya verifikasi terhadap dirinyasebelum berita itu muncul. Persoalan ini menjadi ide pembahasan menarik sebuah jurnalisme – terutama blog – sampai seberapa penting sebuah pemberitaan memerlukan cross check atau tidak sama sekali karena justru karena sifatnya yang instant dan lebih mementingkan ke-kinian up to date.
Berbeda dengan prinsip dan pola kerja jurnalistik mainstream yang berpedoman pada koridor jelas, yakni kode etik dan profesionalisme. Dalam blog sepertinya memang tak ada tatanan yang mengaturnya. Padahal dalam perjalanannya, selain menjadi media pewartaan, blog bisa mengusung issue issue seperti halnya infotainment – yang menurut Komisi Penyiaran Indonesia, info-hiburan dikategorikan sebagai program faktual alias program siaran yang menyajikan fakta nonfiksi – Panas, mendebarkan dan sekaligus membuat sebagian orang kebakaran jenggot.

Continue Reading

Maafkan saya menghapus komen anda

Ada pertanyaan yang selalu terus menggelitik. Kebebasan apa yang kita miliki dalam blog milik kita sendiri. Dalam artian bagaimana jika gagasan atau tulisan kita ternyata belum mampu memuaskan ekspektasi pembaca blog kita. Jika kita tak bisa menentukan siapa yang bisa membaca tulisan ini begitu tersebar di dunia maya. Bisakah kita bisa mengatur pengunjung ke blog kita sesuai selera kita.
Sebenarnya saya malas membahas topik ini. Tetapi saya memiliki sebuah pengalaman, pertama kali harus menghapus komen komen dari seseorang yang sebenarnya – mungkin – pembaca setia blog saya. Orang ini – sepertinya bukan bloger- ternyata cukup kritis dan sebagaimana saya juga, ia juga menyenangi sejarah.
Saya ingat pertama kali komen dari orang ini muncul sewaktu tulisan saya tentang Soekarno. Ia mempertanyakan, bagaimana saya dapat memperoleh informasi saat saat kematian Soekarno. Ia juga bertanya, apakah saya berasal dari keluarga militer.

Continue Reading

Cerpenista

Secara tradisi bangsa kita sangat menyukai kata bersambut yang tergambar dalam budaya pantun. Saling bersambut pantun menjadi keindahan cara bertutur. Namun bagaimana kita membayangkan saling bersambut untuk membentuk sebuah tulisan cerita pendek.
Inilah ide brilian dari Momon menggabungkan beberapa kontributor penulis dalam sebuah tulisan cerita pendek dalam kolom CERPENISTA . Sekaligus sulit, karena pertama bagaimana mungkin begitu banyak penulis dengan kemampuan menulis yang berbeda beda harus berusaha mengikuti alur paragraph sebelumnya.
Paragraf ? Setiap penulis harus menulis beberapa kalimat dalam sebuah paragraph sebelum diteruskan oleh penulis lain. Tentu saja idealnya kalimat kalimat itu harus berkaitan.

Continue Reading

Iqbal & Mutia

Selalu tak ada kata bosan jika bicara tentang cinta. Siapa bisa menduga bahwa seorang balibul – pemilik rumah Colonel Seven – yang biasa paling keras suaranya, tiba tiba Mak cep diam seribu bahasa. Juga jaim.Klakep klakep klakep. Tentu saja cinta yang membuatnya malam itu menjadi tuna rungu sesaat. Mendadak tuli dan bicara tanpa suara. Hanya mulut lirih berucap, Sangat sulit untuk didengar.
Memang pada hari ulang tahunnya yang ke 29, ia memutuskan untuk bersiap siap mengakhiri keanggotaannya di klub Perjaka Senja . Dengarkanlah testimony pengakuannya di depan saya, Zam, Sarah, Gage, Hanny, Chika, Bambang, Suprie, Hedi, Ipul, Mitha.

Continue Reading

Senin subuh itu

Senin dini hari. Pertandingan Spanyol dan Italia baru saja mulai. Saya sudah mengerang kesakitan, karena nyeri luar biasa di bagian perut. Rasanya mual sekaligus perih. Tak tahan terus muntah muntah, sendirian naik taxi menuju Rumah Sakit MMC.
Dokter mengambil langkah menyuntik sejumlah obat obatan yang dimasukan lubang infus lewat pembuluh vena di tangan. Setelah itu membiarkan saya sejam tiduran di ruang UGD yang dingin sambil menunggu reaksi obat bekerja.
Ya, penyakit maag yang akut ini sudah tidak dapat berkompromi dengan tubuh yang semakin tua ini.
Sambil berbaring, sayup sayup saya mendengar suara seorang perawat di balik korden berbicara kepada dokternya atau temannya.
“ Ini Iman Brotoseno, sepertinya namanya pernah dengar..”
Ternyata ia seorang pembaca blog saya. Ia mengenali tulisan saya, mungkin untuk menemai malam malam panjangnya di ruangan UGD yang sepi ini. Menyenangkan karena selalu ada kejutan. Siapa yang bisa menyangka bahwa ide dunia tanpa batas itu benar benar terjadi di sebuah ruang UGD rumah sakit.
Sang perawat masih terus menemani saya menunggu obat di depan apotik setelah dokter memperbolehkan pulang.

Continue Reading

Parno

Dulu ada teman saya yang kecanduan narkoba sampai sedemikian parahnya sehingga kita menyebutnya ‘ Parnoan ‘. Ya, dari kata paranoid. Betapa tidak, saking takutnya dengan cahaya atau siang maka seluruh tembok rumahnya dicat warna hitam. Dan ia mengurung diri disana sampai malam tiba untuk kemudian baru berani keluar.
Akhirnya ia kehilangan semua teman temannya termasuk istri dan anaknya. What a waste life. Siapa suruh ngedrugs ?
Istilah ‘parno ‘ sangat lazim di komunitas ajeb ajeb bin dugem. Halunisasi yang berlebihan menstimulasi kelenjar waras di otak mereka untuk selalu ketakutan dengan hal hal yang diyakini bakal mengancam mereka. Langsung atau tidak langsung.
Rupa rupanya stempel Agama bisa membuat sebagian orang tiba tiba menjadi paranoid dan kehilangan akal sehat.

Continue Reading

Akhirnya menang juga

Akhirnya kebenaran akan terlihat. Apapun jalan dan caranya itu. Surat Somasi kantor pengacara saya akhirnya mendapat jawaban dari Wang Xai Jun alias NB Susilo.
………………………………………
“ meskipun secara hukum belum ada peraturan dan Undang Undang yang mengatur kasus blogger, tetapi secara moral dan itikad baik saya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab ilmiah untuk menjawab hak dari sdr.Iman Brotoseno. Untuk itu saya secara pribadi memohon maaf kepada sdr. Iman Brotoseno atas kejadian ini.
Tindakan maksimal yang bisa saya berikan adalah memberikan catatan kaki pada tulisan sdr.Iman Brotoseno dan/ atau menghilangkan tulisan sdr. Iman Brotoseno dari buku saya selanjutnya, dengan mengganti dari sudut pandang lain mengenai Soekarno. Untuk selanjutnya saya berjanji akan lebih berhati hati dalam mencuplik data.
Dan apabila permohonan maaf saya belum memberikan kepuasaan dsari sdr Iman Brotoseno maupun pihak Pamungkas & Partner sebagai penggugat – atas jawaban saya – maka dengan ini saya menyatakan siap untuk menghadapi segala resiko hukum yang ditimbulkan akibat tindakan saya “

Hormat saya
NB Susilo ST, MT, MH

Ya, sudah, Sekarang saya pikir pikir dan berkonsultasi dengan Pamungkas & Partner membahas langkah selanjutnya. Jauh lebih penting bahwa akhirnya ia mengakui tulisan saya , dan menyadari kesalahannya mencomot tulisan saya tanpa ijin.
Mengutip sebuah iklan, ……….” Blogger dilawan ! “

Dialog itu

Ternyata tak ada yang lebih indah dari sebuah rekonsiliasi. Konon demikian, kalau saya anggap pertemuan dialog antara Roy Suryo dengan the happy selected few blogger, daripada memakai istilah blogger negative atau positive.
Jangan keburu girang dahulu. Ada yang berkomentar kok judul dialognya aneh. Jangan jangan jebakan Betmen. Sekali lagi Roy Suryo pancen trengginas, berani mengambil inisiatif menyembut tantangan dengan bermain politik luar.
Mestinya moment ini ditangkap para ‘ delegasi ‘blogger dengan pemikiran yang sistimatis dan tidak membabi buta datang tanpa konsep. Kalau tidak, dialog ini hanya membuat rating Roy Suryo tambah naik. Persepsi masyarakat semakin mengkerucut, bahwa blogger itu menolak sensor, menolak pornografi, dan menganut paham liberal. Bahkan persepsi pasal lendir ini semakin dominan di luar sana. Padahal UU ITE tidak melulu mengurusi masalah ini, masih banyak hal hal yang berpretensi menjadi kontroversi dan perlu mendapat penjelasan.

Continue Reading

Roy Suryo orang kuat ?

Seorang pakar periklanan pernah mengatakan kepada saya mengenai sebuah definisi dalam strategi kampanye pemasaran. Yakni Politik Ruang dan Politik Luar.
Kenangan percakapan ini muncul begitu saja, melihat kesengkarutan – mengutip istilah Mas Wicak – dalam dunia internet akhir akhir ini. Apalagi kalau bukan pertikaian dan saling serang. Apakah ini penting ? Tergantung kita melihatnya, dan saya tidak membahas siapa yang benar. Saya hanya mengaitkan dengan positioning ‘ politik ‘ masing masing pihak. Blogger dan Roy Suryo.
Kita blogger hanya bermain dalam ruang blogsphere saja, maka dinamakan bermain politik ruang. Sementara Roy Suryo berani mengambil inisiatif bermain di luar wilayahnya, yang disebut bermain politik luar. Butuh keberanian dan strategi.
Kenapa demikian ?

Continue Reading