Suatu sore di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah beberapa tahun lalu. Sambil memandang teluk Tomini yang teduh, seorang teman bercerita tentang sebuah dunia yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Blogging. Walau saya cukup mengetahui dan kadang membaca tulisan tulisan yang bertebaran di dunia maya ini, Hanya saja saya belum berpikir untuk memiliki sebuah blog personal, sampai rekan ini membukakan mata untuk memulai.
Menulis adalah kegiatan yang tak asing bagi saya. Saya menulis beberapa artikel perjalanan, menyelam atau seputar dunia photography dan film bagi majalah majalah. Jadi Why not ? Jadilah saya memiliki blog.
Ada kegembiraan yang meluap luap karena memang saya juga menyukai sejarah, seni, politik, humanisme, cerita cerita pojokan negeri ini, dan berbagai topik topik yang menarik, Ini yang tak diduga duga bahwa tulisan tanpa pretensi itu bisa menimbulkan sebuah diskusi, komentar dan yang lebih menyenangkan berkenalan dengan teman teman baru.
Sampai dalam Pesta Blogger 1, tiba tiba blog saya nyelonong masuk bersaing dalam lima besar blog untuk topik current issues. Diantara blog blog kondang dan lebih dahulu established seperti ndorokakung, enda nasution, totot dan wimar .
Ini sebuah apresiasi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Padahal saya adalah salah satu pengkritik pesta blogger 1 yang paling keras. Mulai dari tempat venue yang saya anggap terlalu elitis sampai penamaan istilah Pesta Blogger. Waktu itu saya sempat mengusulkan sebuah nama. Jamboree Blogger.
Walau akhirnya tidak begitu penting. Apa artinya sebuah nama. Bahkan saya mengakui Pesta Blogger telah menjadi sebuah brand.











